
"Argh ... siall!"
Brak.
Dimas menggebrak meja kerjanya dengan seluruh kekuatan nya. Pria itu begitu marah melihat bagaimana sikap Rasya terhadap bosnya. "Dasar wanita murahan!" Amarah nya semakin menggebu-gebu kala mengingat perhatian Andreas pada Rasya.
Tadi saat mengunjungi proyek, sekali pun Andreas tak memberinya celah untuk mendekati sang mantan istri, seolah tahu bahwa pria itu ingin mencari perhatian Rasya. Padahal niatnya ingin mendekati Rasya yang terlihat semakin cantik itu sudah membumbung tinggi. Dan semua rencana yang sudah dirancang sedemikian apiknya menjadi gagal total karena bos nya yang play boy dan Rasya yang sok kecentilan terus saja berdekatan. Bahkan bos nya sampai memakaikan jasnya ke tubuh Rasya karena memakai lengan pendek dan takut kulit nya terbakar. Dan semua kejadian itu tak pernah luput dari pandangan nya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk..!" Meskipun masih dalam suasana hati yang tidak baik, tetapi Dimas tetap menjalankan pekerjaan nya karena takut akan mengancam jabatannya.
Seorang wanita berpakaian kerja namun terlihat sangat menggoda berjalan kearah Dimas seraya melenggak-lenggokkan tubuh. "Pak, saya disuruh mengantarkan dokumen ini oleh pak Rafli," katanya seraya mendekati Dimas.
Saat tatapan Dimas tertuju pada nya, wanita itu seakan mencuri kesempatan dengan menggigit bibir nya dengan wajah sensual, dua kancing kemejanya dilepaskan begitu saja membuat bola mata Dimas melotot.
"Dena, apa yang kau lakukan?" Dimas terlihat sangat marah menatapnya, pandangan nya memindai pada pintu ruangan yang masih terbuka dan siapa saja pasti bisa melihat mereka. "tutup tubuh mu! Bagaimana kalau ada orang lain melihat?"
Oh, rupanya Dimas marah karena takut dilihat seseorang, bukan tak suka dengan kelakuan wanita itu. Dena menyeringai lebar mendengar nya. Dia segera membenahi kancing bajunya seraya berjalan kearah pintu.
Klek.
Setelah pintu itu tertutup sempurna, wanita itu kembali berjalan kearah Dimas seraya membuka kancing kemejanya kembali. Blazer yang dia kenakan sebelum nya sudah terjatuh ke lantai.
Wanita itu memposisikan dirinya untuk duduk di pangkuan Dimas. "Aku tahu kau sedang banyak masalah, bisakah aku menyenangkan mu?" Bisiknya tepat di depan telinga nya, lidah nya begitu nakal menjilati daun telinga Dimas hingga membuat pria itu meremang kala bokong wanita itu juga ikut bergerak.
"Kita sudah lama tidak melakukan nya, Dimas. Apa kau tak rindu dengan ku?" Jari-jari lentik Dena menari-nari dipermukaan wajah Dimas, menyusuri rahang tegasnya lalu bergerak semakin turun dan berakhir mendarat di kerah bajunya yang langsung membuka kancing kemeja Dimas.
Pria itu hanya diam menikmati sentuhan demi sentuhan nakal yang membuat Dimas seakan melupakan amarah nya yang sejak tadi membumbung tinggi.
__ADS_1
"Bolehkah?" Tanya nya menatap Dimas yang sedang memejamkan mata.
Dimas membuka matanya saat gerakan bokong Dena berhenti. "Lakukanlah. Aku juga sangat rindu dengan tubuhmu," Sahut Dimas dengan suara seraknya.
Dena menyeringai lebar. Dia segera membuka seluruh kancing kemeja Dimas dan melakukan sesuatu yang sudah satu bulan ini sangat dia inginkan. "As you want." Dan di detik berikutnya dua bibir itu saling bertaut dengan sangat menggebu-gebu.
Tangan-tangan nakal dua insan itu berkeliaran di mana-mana meraih benda yang diinginkan masing-masing, hingga penyatuan panas pun terjadi. Di ruangan itu, sepasang manusia tanpa ikatan saling memberi kenikmatan dengan gelora membara. Mereka terus berpacu, saling memberi kenikmatan hingga tak menyadari waktu semakin malam, namun semangat mereka untuk terus melakukan lagi dan lagi seakan tak ingin berhenti. Terlebih Dimas, pria yang sudah tiga hari berpuasa akibat istri nya sedang menstruasi, membuat nya melampiaskan hasrat itu dengan penuh gelora.
.
.
.
"Saka, aku pulang." Katanya saat membuka pintu.
Semua laporan yang sudah disusun sedemikian indahnya ditolak mentah-mentah Andreas. Pria itu mengatakan laporan yang dibuatnya salah kaprah. Rasya yang tak mengerti letak kesalahannya dimana membuat nya semakin bingung. Ingin bertanya pun takut melihat sorot mata tajam Andreas yang begitu menghunus hingga ulu hatinya.
Alhasil, dia membuat laporan ulang yang tak jauh berbeda dari sebelumnya karena memang menurut nya sudah benar.
Dan untuk kedua kalinya, laporan itu ditolak.
Rasya membuat ketiga kalinya, masih saja ditolak.
Ke empat kali,
Lima kali,
Sampai sepuluh kali Rasya membuat laporan yang hampir semuanya mirip dengan laporan awal namun masih saja ditolak. Membuat Rasya benar-benar tak tahan dan akhirnya meneteskan air mata dihadapan Andreas saat pria itu membanting map di meja nya dengan keras.
__ADS_1
Sebelumnya Andreas tak pernah bersikap kejam seperti ini, namun entah kenapa pria itu berubah menjadi monster ganas yang bahkan untuk memandang nya saja Rasya ketakutan.
Dan pada akhirnya, Rasya menyerah. Dia tak lagi membuat laporan meski setiap detiknya mendapat teror telepon dari Andreas. Wanita itu tak perduli jika posisi nya di perusahaan akan terancam karena berani tak mengangkat teleponnya.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Saka berjalan dari dalam.
Rasya tak mengucapkan apapun, dia segera menghambur ke pelukan Saka. Tanpa mengucap kata, wanita itu tiba-tiba terisak di bahu Saka.
"Rasya, kamu kenapa?" Perkataan Saka terdengar khawatir mendengar suara tangisan nya yang terdengar sangat pilu.
"Dia jahat, Saka. Aku benci dia. Aku sangat membencinya." Disela-sela tangis, kepalan tangan Rasya bergerak memukul-mukul tubuh Saka pelan.
"Siapa yang jahat? Apakah Rania berbuat ulah lagi?" Saka membopong tubuh istri nya ala koala dan berjalan ke kamar.
"Tidak, tadi memang sempat bersinggungan dengan dia, tapi aku tidak mempermasalahkan lagi."
Saka duduk di pinggir ranjang dengan tubuh istri nya yang masih berada di pangkuan.
"Lalu? Apa yang membuat mu menangis, hm?" Saka mengusap jejak air mata menggunakan ibu jarinya. Bukannya mereda, tangis Rasya semakin pecah. Sebenarnya sejak berada di kantor dia ingin menangis seperti ini untuk meredakan rasa dongkol nya, tetapi itu tidak mungkin sekali karena tak ingin dilihat orang-orang. Rasya hanya meneteskan air mata ketika benar-benar sudah tak kuat lagi menahan tangis, namun tak sekeras saat ini.
"Pak Andreas. Dia jahat sekali, sepanjang hari aku terus-terusan dimarahi." Katanya bersungut-sungut. "ingin sekali rasanya ku cakar-cakar rambut yang menutupi wajah jeleknya itu!"
Glug.
Saka menelan saliva nya susah payah.
"Memang nya wajah CEO perusahaan mu jelek?"
"Ya, Sangat jelek! Wajahnya itu dipenuhi rambut yang sangat tebal seperti kera. Aku saja ngeri sekali menatap wajah nya." Sahut nya bergidik ngeri dengan ekspresi sangat yakin.
__ADS_1