
Wanita bergaun putih tulang itu tak mampu menatap sang suami yang akan pergi meninggalkan nya. Hatinya tak kuasa ditinggalkan sang suami meski telah berjanji akan segera menemui nya lagi.
"Sayang, jangan memalingkan wajah mu. Tatap mata ku dan dengar kan aku." Saka berusaha meraih pipi sang istri dan mengarahkan pandangan nya ke sana, namun Rasya tetap bertahan di posisi nya.
Bola matanya terus berusaha dengan sekuat diri menahan air yang hampir saja tumpah.
"Hei, sayang. Bukankah kau yang memilih ide agar kita berpisah sementara untuk menipu si tua bangka itu?" Saka kembali berusaha merayu sang istri. Tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Rasya lebih sensitif. Ah, dia mulai ingat kejadian beberapa bulan lalu di mana istri nya berubah menjadi sangat sensitif dan ternyata itu adalah faktor wanita yang sedang kedatangan tamu bulanan. Tapi bukankah tadi pagi mereka masih melakukan nya? yang artinya Rasya belum datang bulan lagi selama mereka menikah kembali. Apakah.., ada kemungkinan istri nya hamil? Bola mata Saka seketika membeliak mengingat akan hal itu, terlebih dia ingat sudah hampir empat bulan mereka menikah dan Rasya belum juga kedatangan tamu bulanan nya.
"Sayang..," Panggil Saka namun seketika suara nya tenggelam ke dalam pelototan tajam Rasya. Dia tak jadi bicara, melihat tatapan tajam serta menyeramkan istri nya saja sudah membuat Saka matu kutu. Dia tak mungkin berani berbicara lagi.
__ADS_1
"Ya sudah! Kalau mau pergi tinggal pergi! Tidak usah kebanyakan bicara!"
Saka kembali terkejut mendengar suara ketus istri nya. Bukan kah sejak tadi istri nya terus menahan nya pergi? Lalu kenapa tiba-tiba di berubah menjadi segarang ini?
"Sayang, kamu kenapa?" Saka mencoba bersabar. Dia sudah berjanji dalam hati untuk tetap berusaha sabar disaat istri nya marah-marah, karena itu satu-satunya agar dia merasa bisa sejajar dengan istri nya yang banyak kelebihan.
Gluk.
Saka menelan saliva nya dengan penuh perjuangan, seperti menelan sebongkah berlian. "Siapa yang ingin berkencan dengan banyak wanita?" Saka berusaha biasa saja meskipun Rasya sedang marah. Karena memang Saka sedikit mencium aroma kecemburuan pada sang istri, yang artinya itu merupakan suatu pertanda baik.
__ADS_1
"Tidak usah mengelak. Aku tahu sejak dulu kamu memang sering bermain dengan banyak wanita cantik. Aku mengira kamu akan berubah setelah kita menikah, nyatanya aku salah. Kamu masih sering berkencan dengan wanita-wanita cantik, bahkan chatting an disaat kita menghabiskan waktu liburan berdua!" Rasya tak kuasa menahan air matanya, dia menangis keras tanpa merasa malu meskipun banyak ingus nya juga ikut keluar bersamaan dengan air mata yang tak terbendung lagi.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah chatting an dengan wanita lain seperti yang kamu tuduhkan, apalagi kencan dengan wanita lain setelah menikah!" Saka sedikit mulai emosi mendengar masa lalu nya diungkit-ungkit. Bagaimana pun dia sudah berusaha menjadi lebih baik, dan harus nya masa lalu yang kelam itu tak perlu di olok-olok lagi.
"Aku akui, dulu memang aku lelaki bajingan yang selalu bergonta-ganti pasangan! Tap-" Belum selesai perkataan Saka, Rasya sudah kembali berteriak keras, membuat Saka mau tak mau menghentikan ucapan nya.
"Tuh, kan! Bener..! Huhuhu...! Kamu beneran laki-laki bajingan huaaa...!" Rasya semakin menangis keras mendengar pengakuan Saka. Bahkan dia sampai terduduk di lantai dengan kedua kakinya menendang-nendang tanpa objek.
Saka semakin tak mengerti dengan tingkah istri nya, dia hanya bisa memijat keningnya yang tampak nyut-nyutan dengan tingkah Rasya.
__ADS_1