Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Rumah Sakit


__ADS_3

Saka bergegas keluar dari mobil dengan langkah lebar, pria itu bahkan terlihat berlari untuk memasuki rumah karena sudah tak sabar ingin menghukum mulut lemes istri nya yang berani berkata sembarangan.


"Ssshh ... yah, disitu, neng. Uuhhh.."


Deg.


Jantung Saka berpacu hebat, tubuh nya terpaku tanpa bisa melangkah mendengar suara itu. Niatnya ingin memutar gagang pintu membuka rumah minimalis yang ditempati mereka, tetapi niatnya diurungkan kala mendengar suara yang tak asing di telinga nya.


"Uuhhh ... Yah neng, disitu enak, neng aaa ... lebih cepat, neng."


Jantung Saka semakin tak karuan mendengar nya. Ingin sekali mendobrak tetapi hatinya tak sanggup menyaksikan pemandangan yang ada di dalam. Hatinya tak sekuat itu, membayangkan istri nya sedang menikmati es krim milik pria lain.


"Aaaahh ... keluaaar ... hah, neng geulis memang sungguh hebat. Pantas saja Tuan Saka sangat -"


Brakk!


"Kurang ngajar kalian!"

__ADS_1


Bug bug bug.


"Aaaa ... Saka..!" Rasya menjerit histeris ketika bogem mentah itu berhasil mendarat sempurna di rahang Rian, security yang menjaga di depan.


Bug Bug bug.


Bukan nya berhenti, Saka justru semakin brutal menghajarnya pria yang masih tak berdaya akibat musibah yang baru menimpa z dan kini bertambah dengan pukulan membabi buta dari Saka.


"Saka, hentikan!" Rasya berusaha menghentikan amukan suaminya, dia takut bila Rian mati ditangan suami nya yang sedang kelap mata.


"Diam, kau!"


Kini giliran tubuh Rasya terdorong ke belakang hingga membuat nya jatuh ke lantai.


Aaa..!


Rasya yang tak sempat mengelak membuat tubuh nya tak seimbang dan terhuyung ke belakang hingga jatuh ke lantai.

__ADS_1


Perut nya sangat sakit, akibat hantaman dahsyat di pantat, membuat perut nya ikut terguncang. Hanya bisa memejamkan mata seraya merasakan betapa nikmatnya rasa sakit yang mendera. Tubuhnya lemas, mulut nya kelu, tak sanggup lagi untuk sekedar mengeluarkan satu kata.


Tangan nya terus meremat kuat perut yang terasa begitu perih dan terasa seperti melilit. Keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh nya, nafas nya berderu tak beraturan membuat seseorang yang sejak tadi berambisi untuk membunuh pria yang sudah tak berdaya kini beralih menatap nya.


"Rasya!" Teriak Saka dengan pandangan terkejut menatap istrinya. Betapa tidak syok bila lantai yang tadinya bersih kini terdapat aliran darah yang entah dari mana datangnya.


"S-sakit ...," Rintih nya lirih. Hanya itu yang bisa dia katakan. Sakit, sangat sakit. Memang itu lah yang Rasya rasakan saat ini.


Dia tak memikirkan apapun lagi kecuali menikmati rasa sakit yang sedang dirasakan nya.


"Rasya, kenapa bisa seperti ini?!" Saka berlari kearah istri nya dan membawa tubuh itu ke pelukan.


"S-sakit, Saka." Rintih nya dengan mata terpejam. Meski begitu, air mata nya sudah mengalir. Melihat betapa mengemas Rasya, membuat Saka ikut meneteskan air mata. Tangan nya bahkan bergetar, dia ingat, dirinya lah yang mendorong istri nya dengan keras hingga membuat nya terjatuh.


Tak ingin membuang-buang waktu, Saka segera mengangkat tubuh istri nya untuk di bawa ke rumah sakit.


"Bertahanlah, sayang. Kita ke rumah sakit." Sahut nya dengan nada bergetar. Saka membawa istri nya ke mobil dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tak ingin terjadi apa-apa dengan dua nyawa yang sangat berharga di hidup nya. Bola ada sesuatu terjadi, maka dia lah yang harus bertanggung jawab atas mereka.

__ADS_1


Memikirkan itu membuat Saka semakin frustasi, dia semakin menambah kecepatan karena takut istri nya membutuhkan pertolongan cepat.


__ADS_2