
"Ya, aku memang merestui siapapun wanita yang akan kau nikahi. Tapi bukan berarti semua nya. Aku tidak menerima wanita itu bukan karena tak menyukai nya. Tapi ayahnya adalah seorang narapidana. Akan sangat tidak baik bila berita ini tersebar di lingkungan bisnis mu." Memang inilah yang dikhawatirkan Tuan Bambang. Bukan karena Rasya miskin, tapi akibat semua skandal Teguh lah yang membuat Tuan Bambang berubah pikiran.
Awalnya dia sangat menyukai wanita pilihan Saka, terlebih saat melihat pengorbanan wanita itu saat pertama mereka menikah. Dimana Rasya harus berjuang mencari pekerjaan kesana-kemari namun tak ada satu perusahaan pun menerima, bahkan ada yang mengusirnya dengan tak layak karena mengira Rasya seorang yang ingin meminta sedekah.
Dan semua skenario yang dialami Rasya saat itu, tak luput dari campur tangan Tuan Bambang yang memang ingin menguji nya sebagai menantu.
"Yang menjadi narapidana adalah ayahnya, bukan Rasya. Itu tak ada hubungan sama sekali dengan Rasya!" Saka kehabisan kesabaran. Dia mendesahh frustasi, berharap tetap bisa mengontrol intonasi bicaranya.
"Right, tapi kenyataan bahwa dia darah daging dari seorang narapidana tak bisa dihapus, Saka."
__ADS_1
"Ck, I don't care! Aku tidak pernah berpikiran picik seperti itu. Bagiku, Rasya wanita terbaik yang pernah ku temui. Sampai kapanpun aku tak akan menceraikan nya."
"Saka, jangan egois! Bagaimana pun kau adalah satu-satunya penerus Wijaya Corp. Bagaimana jadinya jika orang-orang tahu kalau wanita yang kau nikahi berasal dari orang tidak baik."
"Sudah ku katakan, aku tidak perduli! Aku tidak perduli dengan semua pandangan orang terhadap ku! Aku hidup untuk diriku sendiri, bukan untuk mengurusi pendapat orang lain terhadap ku!"
"Tapi kakek perduli, Saka! Bertahun-tahun kakek menjaga nama baik keluarga kita. Berulang kali kakek menutupi skandal mu bersama para wanita yang sering kau ajak tidur itu untuk apa?" Tuan Bambang menatap tajam Saka. "hanya untuk menjaga nama baik keluarga kita, Saka!"
Saka menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari kakek nya. Dia kira semua perbuatan sang kakek yang selalu menyelamatkan dari semua ulahnya itu karena memang kakek Bambang sayang, nyatanya dia hanya memikirkan nama baik keluarga.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya, aku tidak mengenal mu, kakek." Kata Saka dengan suara samar. Dan untuk pertama kalinya pula dia mengatakan Tuan Bambang dengan sebutan kakek.
Jelas dia sangat kecewa, Saka pikir selama ini sang kakek sangat menyayangi nya dengan tulus hingga terus-terusan menutupi segala tingkah nya yang selalu berbuat onar. Ternyata itu dia lakukan hanya demi menjaga nama baik.
"Sudahlah, kakek. Jika kau mengajak ku kesini hanya ingin berunding tentang pernikahan ku, maka ku katakan dengan tegas. Sampai kapan pun aku tak akan pernah menceraikan Rasya. Bahkan jika kau memohon hingga menangis darah sekalipun, aku tak akan pernah menuruti kemauan mu." Jelas Saka.
"Dan satu lagi, jikalau berniat ingin mengancam ku dengan harta, maka kau salah besar! Aku bahkan rela meninggalkan seluruh harta ku demi bisa hidup bahagia bersama Rasya. Selama beberapa bulan tinggal dengan nya, aku mulai menyadari bahwa hidup bahagia bukan melulu tentang kemewahan. Bahkan hidup sederhana kami masih bisa bahagia asal selalu bersama dengan hati saling mencinta. Itu saja aku sudah cukup bahagia." Setelah mengatakan itu, Saka benar-benar bangkit dari tempat duduk nya tanpa berpamitan dengan Tuan Bambang.
Pria paruh baya itu tak menghentikan langkah Saka, dia justru terlihat sedang merenung dengan sangat dalam.
__ADS_1