
Membutuhkan waktu sekitar 40 menit jarak dari tempat nya sampai stasiun, Saka sedang mencari-cari sosok wanita yang mirip dengan sang istri. Dia berjalan tak tentu arah dengan tatapan nya yang dibuat setajam mungkin agar bisa menemukan dimana sang istri berada.
Seperti orang yang sedang memburu buruan, seperti itu pula ekspresi Saka saat ini. Hingga samar-samar dia melihat seorang wanita memakai topi dan masker dengan tubuh mungil nya yang terbalut rapat oleh jaket berwarna hitam serta celana jeans warna senada.
"Rasya?" Gumam nya semakin mempertajam penglihatan. "ya, dia memang istri ku, Rasya." Saka tak sabaran langsung berlari ke arah sang istri tanpa mengingat misi nya untuk menemani sang istri secara diam-diam karena takut kakek nya curiga.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu." Saka mendekap erat tubuh wanita itu tanpa melihat wajah dibalik masker itu.
"Siapa kamu? Lancang sekali, tiba-tiba memeluk ku!"
Brukk.
Tubuh Saka terjungkal ke lantai saat wanita itu menarik tubuh nya dengan kuat, hingga membuat tubuh nya yang tak seimbang terjerembab ke la lantai.
__ADS_1
Nguk.
Seketika Saka mati kutu, wajah nya memerah menahan malu kala wanita itu membuka masker nya dan ternyata dia bukan Rasya. Siall! Batin nya. Bisa-bisanya dia tertipu dengan bentuk tubuh mungil yang sangat mirip dengan sang istri.
"M-maaf, saya tidak bermaksud jahat. Saya kira tadi istri saya." Sahut Saka kikuk, mencoba biasa saja meskipun sebenarnya ingin menceburkan diri saja ke dasar sungai saat melihat tatapan tajam wanita itu.
Pria itu tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya bangkit dari lantai. Untung saja dorongan itu tak terlalu keras sehingga pantatnya tidak terlalu merasa sakit.
Jika hati Saka sedang merasakan sesuatu yang campur aduk menjadi satu seperti sebuah mesin penggiling yang sedang mengaduk-aduk seluruh isi nya, berbeda dengan wanita yang sejak tadi bersembunyi dibalik kursi dan memperhatikan interaksi mereka.
Dan di detik berikutnya tawa itu benar-benar meledak kala tangan Saka yang sedang menjangkau lantai untuk bangkit tiba-tiba di injak anak kecil hingga membuat nya menjerit kesakitan.
Hahahaha..,
__ADS_1
Rasya beralih memegangi perutnya sembari berdiri hingga tubuh yang tadinya membungkuk dibalik kursi itu nampak dengan jelas. Saka yang mendengar ledakan tawa sangat familiar itu seketika menoleh ke sumber suara. Dan bocil yang baru saja menginjak kaki itu memanfaatkan keadaan untuk kabur saat Saka menoleh ke arah lain.
Pria itu menggeram kesal melihat istri nya di posisi nya sedang menertawakan nya. Namun, disisi lain dia juga sangat merindukan nya. Hingga kerinduan itu mampu meredamkan seluruh kekesalan nya tadi, dan pada akhirnya Saka tak sabar untuk menghambur ke pelukan sang istri. Dan kali ini, dia tak salah memeluk lagi karena wanita yang dipeluk nya benar-benar Rasya, istri nya.
"Akhirnya aku menemukanmu, sayang. Aku sangat rindu," Saka menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang membuat nya begitu candu. Rasa nya seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu hingga kerinduan itu terasa begitu besar hingga tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Saat keduanya sedang menikmati betapa bahagianya saling mengobati rasa rindu, tiba-tiba Rasya mengingat sesuatu. Dia mencoba melepaskan belitan tubuh itu dan menghentikan Saka untuk tak terus-terusan memeluk nya.
"Berhenti, Saka. Nanti ada yang melihat kita."
"Biarkan saja, sayang. Aku sangat merindukanmu." Sahutnya merasa tak takut bila orang-orang melihat nya.
"Tapi nanti ada mata-mata kakek mu." Kecemasan Rasya semakin menjadi kala mengingat ambisi kakek Saka yang ingin memisahkan mereka.
__ADS_1
Sedangkan pria itu hanya tersenyum mendengar kecemasan sang istri.