
Hati dan pikiran Saka tak karuan, meskipun mobil yang dikendarai Rendi sudah mencapai kecepatan maximal, tapi menurutnya masih terlalu lambat dan terasa sangat lama.
"Apa tidak bisa cepat sedikit?"
"Kau gila, ya?! Ini sudah kecepatan maximum. Dan lihatlah aku menyalip berapa banyak kendaraan." Rendi tentu saja mendengus mendengar perkataan Saka. Padahal dia sudah mengendarai mobil dengan sangat cepat.
Saka tak menggubris lagi, meski hatinya sedang tak menentu tetapi tetap harus berpikir jernih. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tutup jalan dari arah A menuju B sekarang juga!" Tegasnya setelah sambungan telepon terhubung.
Dan tanpa menunggu balasan dari lawan bicara, Saka kembali menutup telepon dengan beralih menatap Rendi yang sedang fokus menyetir.
"Biar aku yang menyetir," Titahnya tanpa mau dibantah.
Rendi yang sudah memahami tabiat teman lamanya ini tentu mengiyakan begitu saja dan meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.
Terlihat suasana jalanan menjadi sepi, tak satu pun kendaraan lewat. Jelas Rendi tak heran, dia tahu bahwa ini adalah ulah temannya yang memang memiliki pengaruh sangat besar di negeri.
Setelah bertukar posisi, Saka mengendarai mobil dengan kecepatan maximal. Membuat Rendi merutuki diri sendiri karena mengiyakan keinginan gila Saka. Tangan nya bahkan sampai bergetar memegang sabuk pengaman dengan kencang. Bibirnya terus komat-kamit merapal kan segala doa yang dia bisa dengan mata terpejam, tak berani bertanya pada Saka yang sedang kesetanan karena takut semakin mengganggu konsentrasi nya.
__ADS_1
Dia sudah tak berharap hidupnya akan lama lagi. Hingga,
Ciiiitttttttt....!
"Oh Tuhan!" Gumam Rendi menyadari tanda-tanda hidup nya tak lama lagi.
Brakkk!
Kepala Rendi membentur dasboard mobil lumayan keras hingga menimbulkan benjolan kebiruan. Dia masih tak berani membuka mata, hingga mendengar suara keras nyawanya kembali tersadar dan segera menegakkan badan setelah membuka mata.
Brakkk
"Hah, Aku masih hidup?" Gumam nya. Kepalanya menoleh ke kursi pengemudi yang ternyata sudah kosong, artinya yang barusan dia didengar adalah suara pintu dibanting Saka.
Pandangan nya beralih menatap lurus ke depan. "Sialan memang kau, Saka." Gerutu nya, saat melihat mobil yang terparkir di depannya penyok teramat parah, bahkan plat mobilnya sudah tergeletak di lantai. Bukan hanya itu, mobil depan miliknya pun tak beda jauh dari mobil didepannya.
Dan teman laknat nya itu, entah sudah berada di mana Saka. Bahkan Rendi tak lagi melihat batang hidungnya. Lagi lagi Rendi mengumpat dengan kelakuan laknat teman nya yang mungkin memang sudah mendarah daging sejak dulu.
Meksipun hatinya terus menggerutu, tapi dia tetap berjalan masuk. Dan saat melangkahkan kaki dia baru menyadari kalau kepalanya nyut-nyutan, saat tangan meraba-raba disana ternyata merasakan benjolan besar di dahi. Bukan hanya itu, dia seperti merasakan tangan nya basah, saat melihat nya ternyata memang dahinya mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Sialan kau, Saka!" Dia menendang bekas minuman kaleng yang ada di depan kakinya dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan kekesalannya.
Klang!
Peng!
Entah kesialan dari mana, tanpa diduga bekas minuman kaleng itu mendarat sempurna pada sosok pria berkepala botak yang baru saja keluar dari mobil. Jelas pria itu sontak menoleh, dia menatap tajam kearah nya dengan tatapan membunuh.
Rendi menelan saliva nya susah payah seperti sebongkah batu yang masuk ke kerongkongan.
Otak kancil nya berpikir cepat, dan tanpa membuang waktu dia berlari dengan jurus seribu nya, pura-pura tidak melihat orang yang terkena bekas kaleng minuman.
...πΊπΊπΊ...
Mohon maaf teman-teman aku kemarin libur dua hari.π
Jika nanti ada waktu aku usahain buat up beberapa kali untuk menebus hari kemarin yang bolong.
Terimakasih.ππ
__ADS_1