
"Tidak! Jangan bawa saya. Lepaskan, saya tidak melakukan apapun! Kalian tidak berhak memaksa saya!" Tuan Bambang masih terus meronta-ronta, memaksa para polisi yang menangkap itu mau melepaskan. Sayang nya petugas keamanan negara itu tak sedikit pun terpengaruh ocehan nya.
Saka memang sedang berada di rumah sakit itu mengantarkan Rasya setelah kejadian sebelum nya, saat ini berniat mengunjungi sang kakek. Entah terbuat dari apa hatinya, dia tak menunjukkan kebencian terhadap sang kakek meski berkali-kali pria tua itu membuat nya susah.
"Ada apa ini, pak? Kenapa kalian membawa kakek saya?" Saka sangat terkejut melihat tangan kakek nya sudah di borgol dan di seret para polisi. Dia berkata cepat dan sedikit keras meskipun jarak nya dengan mereka masih sedikit jauh.
"Kami akan menjelaskan di kantor polisi, Tuan. Jika Anda ingin mendengar keterangan kami, maka ikut kami." Sahut seorang komandan polisi.
__ADS_1
Saka nampak bimbang, di satu sisi dia sangat penasaran dan juga kasihan melihat kakek nya dibawa polisi dalam usia se renta itu, dalam hati nya bertanya-tanya, apa yang menyebabkan nya sampai terjerat narapidana.
Namun di sisi lain, dia tak ingin meninggalkan Rasya yang pastinya sedang tak ingin ditinggal lama-lama, karena tadi saja dia pergi saat istri nya bisa tertidur. Sejak tadi bahkan Rasya tak mau ditinggal, meski ke kamar mandi sekali pun, wanita itu memilih tetap bersama sang suami.
"Saka, tolong kakek. Jangan biarkan para polisi menangkap, kakek tidak salah apa-apa." Sahut kakek Bambang penuh permohonan. Raut wajahnya benar-benar membuat Saka goyah, bagaimana pun dia tak tega melihat kakek kandung nya seperti itu.
"Maafkan aku, kakek. Untuk saat ini aku harus menemui istri ku, setelah mendapat izin baru aku langsung ke kantor polisi untuk menyelamatkan kakek. Kakek tidak perlu cemas, semua nya akan baik-baik saja." Sahut nya lagi.
__ADS_1
Maafkan kakek, Saka. Semua ini terkadang karena keegoisan kakek. Ambisi kakek untuk menjadikan nama keluarga kita terkenal oleh seluruh dunia membuat kakek rela menggilas seluruh kebahagiaan kalian. Kakek sangat egois, Saka. Apakah setelah ini kau masih tetap akan menjadi cucu ku seperti biasa? Gumam Tuan Bambang dalam hati seraya menatap cucu nya dalam-dalam yang mulai memalingkan wajah nya dan berbalik badan menjauhi nya sebelum dia pergi.
"Sudah, Tuan. Anda tidak memiliki banyak waktu lagi, karena setelah ini Anda harus kami mintai keterangan."
Tuan Bambang tak lagi berontak, pria paruh baya itu terlihat pasrah saat tubuh nya di seret oleh beberapa polisi serta diawasi banyak badan intelejen.
Tak ada raut sedih ataupun bahagia yang tergambar di sana. Pria itu seperti manekin yang menuruti apapun perintah para polisi.
__ADS_1
Tak berkata, atau bahkan berkedip. Seperti kehilangan nyawa namun masih tetap bernafas. Itu lah gambaran Tuan Bambang saat ini. Dalam pikiran nya terus saja terlintas memori-memori keburukan yang pernah dia lakukan. Layaknya sebuah kaset yang sedang diputar, semua kenangan itu muncul secara bersamaan. Memberikan kesan luka serta sesal yang teramat dalam namun tak lagi dapat di maafkan. Bahkan meski dirinya sendiri, dia tak lagi bisa memaafkan atas semua kesalahannya.
Menyesal, itulah satu kata yang mewakili seluruh rasa yang membuncah di setiap sel-sel jiwa nya.