Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Apakah benar Anak kandung?


__ADS_3

"Rania..!"


"Rania..! Dimana kamu?!" Mama Santi berteriak-teriak memanggil nama putri pertamanya saat baru saja masuk ke rumah setelah pulang dari rumah Rasya. Amarah nya begitu tak bisa setelah mendengar penjelasan Rasya bahwa dia bekerja di kantor yang sama dengan Rania. Dia tak akan terima jika Rasya selevel dengan Rasya.


Bahkan sepanjang perjalanan nya sampai ke rumah, mama Santi terus saja mengumpati Rasya yang sudah berani menyaingi kakak nya sendiri. Bagaimana Rania harus lebih unggul di segala bidang. Susah payah membesarkan putri kesayangan nya sejak dulu dan selalu memberikan diskriminasi yang sangat tinggi pada anak itu agar besarnya Rania bisa jauh lebih unggul dari Rasya. Namun setelah kabar yang baru saja didengar nya membuat nya sangat tak terima dan sangat emosi.


"Ada apa, ma? Kenapa teriak-teriak?" Rania sangat kesal dengan mama nya karena baru saja datang sudah teriak-teriak membuat kegiatan nya yang sedang memakai masker di wajah terganggu. Padahal hari ini dia sengaja memanfaatkan liburnya untuk mempercantik diri dengan merawat kulit nya di rumah karena uang nya sudah habis untuk arisan dan membeli tas branded. Sedangkan Dimas itu sangat payah, dia bahkan tidak memberikan uang lebih selain uang belanjaan nya, dan untuk menghukum suaminya, Rania sengaja menolak berhubungan tadi malam agar pria itu tak pelit lagi pada istrinya.


"Ada apa kamu bilang?! Kenapa kamu tidak bilang kalau Rasya bekerja di perusahaan Wijaya Corp.?"

__ADS_1


"Ck, aku kira ada apa. Hanya masalah Rasya, mama sampai menunda pekerjaan ku." Sahut Rania seraya membenarkan masker yang tiba-tiba retak gara-gara bicara.


"Hanya kamu bilang?! Ini masalah besar, Rania! Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin-kemarin? Bikin mama malu saja!" Mama Santi memijat-mijat dahi, kepalanya terasa sangat pusing. Sepertinya efek marah-marah membuat tensi darah nya naik.


"Eh, tunggu-tunggu, kenapa mama bisa tahu kalau Rasya kerja di sana? Mama tahu dari mana?" Rania tidak ingat kalau dirinya sedang memakai masker, raut wajah penuh mengintimidasi nya itu berhasil membuat seluruh sisi masker nya retak-retak.


"Mama tadi ke rumah nya."


"Mana mungkin?! Cih, rugi sekali mama memberi uang ke anak itu? Memangnya dia siapa, sampai mama memberi uang anak itu?"

__ADS_1


"Maksud mama?" Tentu saja sangat terkejut mendengar perkataan mama nya ini. "kenapa mama bilang Rasya siapa? Bukankah dia juga anak mu?" Desak Rania membuat mama Santi terlihat gelagapan dan salah tingkah.


"Ya, jelas dia anak mama yang tidak pernah mama akui sebagai anak karena dia itu pembawa siall!" Sahut mama Santi cepat setelah terdiam sejenak.


Namun seperti nya perkataan mama nya ini tak mampu membuat Rania percaya begitu saja, doa seperti melihat gelagat kebohongan di wajah sang mama.


"Mama tidak sedang membohongi ku, kan?" Sekali lagi Rania bertanya dengan tatapan mengintimidasi. "Apa Rasya benar anak kandung mama? Bila dipikir-pikir, terlalu mustahil jika Rasya benar anak kandung mama setelah melihat kelakuan mama dan papa memperlakukan Rasya selama ini."


Plakk.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Rania!" Dengan amarah menggebu-gebu, mama Santi meluapkan semua emosinya menjadi sebuah tamparan ke wajah putri nya hingga membuat Rania terdorong dan jatuh ke lantai.


__ADS_2