
"Kua pikir setelah semua perlakuan mu pada cucuku, aku masih mengizinkan mu bertemu dengan nya?! TIDAK AKAN!" Sahutnya lantang, menatap tajam Teguh.
"Kenapa Bapak baru mengatakan sekarang? Kenapa tidak sejak dulu kau mengatakan nya pada ku?!" Tanpa sadar Teguh membentak Sagara, bahkan menyalahkan Sagara atas semua dosa-dosanya terhadap sang putri. Terlalu menyesal membuat diri nya tak peduli dengan tindakan nya ini.
"Apa kau bilang?" Sagara menatap tajam Teguh. "Tidak sejak dulu aku mengatakan nya?! Kau pikir aku tidak berusaha untuk menyelamatkan cucu semata wayang ku dari jeratan keluarga mu?!" Sagara mengusap dadanya yang terasa sedikit sesak akibat terlalu sering berbicara keras.
"Tidak, Teguh! Berulang kali aku berusaha untuk membawa cucu keluar dari rumah mu, dan berulang kali pula aku menemui mu. Tapi apa yang ku dapat?!" Hampir saja Sagara tak bisa meneruskan ucapannya, merasa tak sanggup mengingat betapa dirinya diperlakukan kejam oleh orang-orang suruhan Santi saat ingin mencoba menemui Rasya.
Dia mengusap air mata disudut matanya lalu kembali menatap Teguh. "Aku selalu diusir, bahkan diasingkan ke tempat jauh oleh anak buah istri mu agar tak bisa menemui cucu ku lagi!"
Deg.
Jantung Teguh berdenyut nyeri, dia tak sanggup membayangkan orang tua dari wanita yang dicintainya mendapatkan perlakuan sekeji ini. Meskipun dia bukanlah manusia baik, tapi setidaknya dia masih memiliki rasa empati dengan orang-orang yang memang menempati hatinya.
Terkait dengan Santi, Teguh memang tak pernah mencintai nya, wajar saja bila selama ini Teguh membebaskan apapun yang ingin dilakukan wanita itu.
Tapi untuk Rania, dia memiliki kasih sayang yang teramat besar karena dia adalah anaknya. Begitu pula dia mencintai April dan keluarganya yang membuatnya merasakan cinta terhadap wanita.
Andai dia mengetahui sejak awal bila Rasya adalah putri kandungnya, tak akan mungkin dirinya memperlakukan nya dengan sangat keji. Mengenang semua perlakuan nya terhadap Rasya, membuat Teguh semakin menangis tergugu.
Dia ingat masa kecil Rasya yang selalu mendapatkan barang-barang bekas Rania. Dia ingat betapa pilunya gadis kecil itu saat pertama kali masuk sekolah SD jalan kaki sendiri, padahal semua siswa lain diantarkan orang tuanya saat pertama kali masuk sekolah. Namun karena tekat Rasya, serta keinginan kuat untuk bersekolah, dia tak peduli meski sering diejek teman-temannya dengan segala keterbatasan fasilitas nya untuk bersekolah, termasuk selalu jalan kaki sendiri dengan jarak yang tidak dekat.
__ADS_1
Jelas-jelas Teguh mengantarkan Rania ke sekolah yang sama, namun begitu teganya Teguh membiarkan gadis kecil itu jalan kaki sendiri menyusuri jalanan memakai sepatu yang hampir jebol bekas sepatu Rania saat TK, dengan tas kecilnya yang selalu melekat di punggung berisi satu buku, pensil pendek bekas Rania, serta satu botol minum berisi air putih yang selalu dia bawa.
SD merupakan jenjang pendidikan pertama kali bagi Rasya karena dia tak mengenyam pendidikan PAUD maupun TK. Santi hanya membiarkan Rasya sekolah SD karena hanya di SD lah tidak membutuhkan biaya besar. Daan Teguh membiarkan begitu saja apapun yang ingin dilakukan Santi pada Rasya, karena yang dia perhatikan hanyalah Rania.
Kala itu, Teguh hampir tak tega melihat Rasya menyusuri jalanan sendiri. Akan tetapi saat ingin mengehentikan mobil nya, Rania mencegah hingga membuat Teguh mau tak mau menuruti keinginan putri kandungnya.
"Rasya..," Gumamnya serak. Dia menepuk-nepuk dada nya berulang kali. Mengingat kepingan demi kepingan perlakuan nya terhadap Rasya. Ya, Tuhan. Betapa jahatnya diriku sebagai manusia, Gumamnya dalam hati, dengan air mata yang tak berhenti mengalir membasahi pipi.
.
.
.
Meski begitu, Saka sangat bersyukur karena operasi nya berhasil. Bukan hanya itu, pencarian kakek Rasya juga tepat waktu.
Disaat Rasya membutuhkan donor darah, disaat itu pula kakek Rasya ditemukan hingga tak perlu dirinya memohon Teguh untuk mendonorkan darah.
"Sayang, apa kau tak bosan terus menutup mata?" Saka menggumam dengan suara parau.
Entah cobaan apalagi, seharusnya di hari Rasya mengalami insiden adalah hari yang Saka tunggu-tunggu, dimana seluruh harta warisan itu resmi menjadi milik nya. Yang artinya, dia tak perlu lagi menyembunyikan identitas nya.
__ADS_1
Namun hal tak terduga datang, dan membuat nya harus bersabar menunggu waktu untuk memberitahu pada sang istri.
Pria itu nampak sedikit melengkungkan sudut bibir nya, membayangkan sang istri sedang menatap kearah nya saat bicara. "Sayang, aku ada kejutan untuk mu. Cepatlah buka mata mu. Aku sudah tak sabar ingin segera memberitahu kejutan yang sudah kutunggu sejak lama akhirnya tiba." Saka menghentikan perkataan nya dengan tatapan masih tertuju pada wajah Rasya yang di penuhi beberapa selang di sana. "tapi aku harus menunggu lagi, menunggu sampai kau sadar, baru aku akan mengatakan nya."
"Apa kau tak penasaran dengan kejutan ku?" Tanya nya. Dia mengelus-elus pipi sebelah kanan yang sedikit terhalang dengan plester perekat selang makanan.
"Aku yakin, setelah kau mengetahui kebenaran nya, kau akan terkejut. Tapi aku berharap, meski sebesar apapun keterkejutan mu pada ku, tak akan mengubah rasa cinta mu padaku. Tak akan mengubah sedikit pun yang ada pada dirimu terhadap ku. Maaf, aku telah membohongi mu dengan kebohongan yang sangat besar. Aku berharap, kau tetap menerima ku,"
Rendi sejak tadi berdiam di ambang pintu yang sedikit terbuka itu tak jadi masuk. Seharusnya dia ingin memberi tahu sesuatu yang sangat penting, tetapi seperti nya sahabat nya memang sedang tak bisa diganggu.
Ngomong-ngomong mengenai Rendi, pria itu sudah resmi bekerja menjadi bawahan Saka. Sebenernya kemarin saat di pasar tradisional, Rendi sedang dihukum mama nya untuk membelikan sayur-sayuran pagi-pagi sekali. Dan bila Rendi tak mengikuti perintah mamanya, dengan sangat terpaksa semua fasilitas nya akan dicabut, sebagai konsekuensi akibat pergaulan bebas nya selama ini yang hanya menghambur-hamburkan uang untuk bermain-main dengan para wanita.
Tapi sekarang, dia sudah tak lagi bergantung pada orang tuanya. Asal dia bisa bekerja dengan baik, Saka akan memberi imbalan yang tidak sedikit.
...πΊπΊπΊ...
Btw kemarin aku lupa mau ucapin terimakasih banyak, teman-teman udah doain aku. Alhamdulillah sekarang udah sembuh.π€
Maaf banget g bisa bales satu-satu karena takut dukungan ku semakin banyak di novel sendiri dan tentu akan berdampak pada performa karya.
Sekali lagi, terimakasih.
__ADS_1
See you next chapter π€π