Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Pasrah


__ADS_3

Speechless, Tuan Bambang tak bisa lagi berkata-kata. Semua bukti kejahatan nya selama ini telah ada di hadapannya hingga tak bisa mengelak apalagi berbelit dengan mulut lincahnya. Pria tua itu seakan kehilangan kata yang biasanya sangat fasih menghiasi suara indah nya.


"Semua bukti sudah kami dapatkan dan Anda tak bisa mengelak lagi. Anda resmi kami tahan, menunggu keputusan pengadilan yang akan diadakan besok." Benar-benar tak bisa menjawab kala seorang ajudan memberikan ultimatum.


Pria tua itu telah mengenakan baju kutukan berwarna oranye lengkap dengan kedua tangan nya diborgol serta di jaga ketat oleh para polisi. Mereka berjalan menyusuri lorong menuju sel tahanan.


.


.


Saka melajukan mobil nya dengan kecepatan diambang batas, pikiran nya berkecamuk hebat mendengar seorang yang menjadi suruhan nya mengatakan Tuan Bambang dibawa ke rutan Pondok Cempaka dan terpaksa tak bisa menghalangi karena semua bukti telah dikantongi polisi.

__ADS_1


Saka mengusap wajah nya kasar dengan wajah memerah. Entah kesalahan apa yang membuat hidup nya selalu dihinggapi masalah yang tak berujung. Baru saja ingin memulai kehidupan rumah tangga bersama Rasya dengan tenang, kini beban nya kembali bertambah saat kakek nya dibawa ke rutan.


Andai dia adalah manusia pendendam, mungkin Saka tenang saja melihat kakek jahat nya telah mendapatkan karma, toh yang membuat kakek nya dipenjara bukan karena laporan nya, seharusnya memang Saka tidak perlu repot-repot membebaskan nya karena memang itu adalah balasan yang sama sekali belum setimpal dengan semua keburukan sang kakek.


Sayang nya, hati Saka tak memiliki hasrat balas dendam. Meski sebenarnya ada, tapi semua itu telah ditekan dan berganti menjadi rasa empati serta kasihanilah mengingat di dalam tubuh nya mengalir darah sang kakek. Tak mungkin Saka sekejam itu, membuat keluarga satu-satunya dipenjara.


"Aku akan berusaha membebaskan mu, kakek. Meskipun aku tahu kau sebenarnya sangat pantas mendapatkan hukuman ini, tapi kali ini aku ingin egois. Aku tetap cucu mu, aku menyayangimu, aku tidak ingin melihat mu menderita meski perlakuan mu selama Ini selalu membuat ku menderita." Saka mengusap setetes air mata yang tiba-tiba keluar.


Disaat anak-anak seusia nya masih mendapat kasih sayang dari orang tua, Saka sudah mendapatkan banyak kecamatan untuk terus belajar. Dikala rindu dengan ayah ibunya, dia hanya bisa memandang gundukan tanah tempat peristirahatan mereka. Tak ada yang lebih tragis dari ini. Meski begitu, Saka tak pernah mengungkapkan rasa rindu nya pada sang kakek, karena tak ingin mendengarkan kata-kata kasar kakek nya pada orang tua nya.


.

__ADS_1


.


"Permisi, pak. Saya Keluarga dari Bambang Setya Wijaya, saya ingin bertemu dengan beliau." Saka menyapa sopan. Meskipun pikiran nya sedang cemas, tapi dia tetap berusaha tenang.


Tak berselang lama, seorang polisi membawa Tuan Bambang ke hadapan nya beserta polisi yang menjelaskan semua kejahatan tuan Bambang.


Saat Saka ingin memberi tebusan, rupanya kesalahan Tuan Bambang tak sesimpel itu yang bisa bebas hanya dengan tebusan.


Pria itu menghela nafas berat kala mendengar penjelasan polisi, Saka harus menyiapkan pengacara hebat untuk hadir ke persidangan yang akan dilaksanakan besok.


Dengan sangat terpaksa, Saka meninggalkan kakek nya di jeruji besi tanpa ada dipan mewah atau karpet bulu hangat nya.

__ADS_1


__ADS_2