Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Selingkuh?


__ADS_3

"Sialan! Bisa-bisanya Rasya mempermalukan ku di depan pak Andreas." Sepanjang hari Rania terus mengumpat karena merasa dirinya telah dipermalukan oleh pak Andreas. Bisa-bisanya seorang CEO perusahaan justru lebih berempati pada Rasya yang jelas-jelas seorang karyawan baru, bukan malah memilih dirinya yang sudah beberapa tahun menjadi karyawan nya.


Setelah jam pulang kerja, Rania ingin mendinginkan kepalanya dengan pergi belanja. Namun karena Dimas harus lembur, dia pergi sendiri. Tujuan utamanya kali ini adalah membeli pakaian dinas malam karena malam ini ingin melepas penat bersama Dimas, tentunya dia harus tampil menarik agar bisa menggoda suaminya.


Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Rania segera menuju ke lantai dua yang terdapat toko-toko baju.


"Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang penjaga toko berjenis kelamin perempuan.


"Saya ingin mencari lingerie model terbaru, mbak." Rania mengamati beberapa pakaian dalam yang terpajang di manekin.


"Oh, kebetulan toko kami sedang menyediakan banyak stok pakaian lingerie model terbaru. Jika berkenan Anda boleh menunggu di sini, akan saya ambilkan bajunya" Pelayan itu sangat ramah mempersilahkan Rania agar menunggu di sofa yang disediakan.


Rania hanya mengangguk seraya merogoh ponselnya di tas.


Namun saat pandangan nya menatap ke arah pintu keluar, Rania sedikit terkejut melihat orang yang baru saja keluar dari toko itu. Sekilas saat melihat dari samping seperti wajah papa nya yang merangkul pinggang seorang wanita sedang berjalan bersama seraya tertawa. Rania semakin menajamkan penglihatan nya, berharap apa yang dilihatnya salah. Dan tidak salah lagi, pria yang dilihatnya tadi benar-benar papa nya. Dia harus lari untuk mengejar pria itu bersama wanita yang entah tak tahu siapa namanya.


"Siall! Berani-beraninya papa jalan dengan seorang wanita. Jangan-jangan papa selingkuh?" Gumam Rania seraya bangkit dengan mata terus mengamati dua orang itu yang akan keluar dari mall.


"Permisi, mbak. Ini lingerie model terbaru di toko kami. Anda bisa lihat sendiri, pakaian nya sangat bagus dengan bahan berkualitas."


Rania tak mendengarkan pelayan itu bicara, karena fokus matanya sedang meneliti papa nya.


"Mbak, maaf saya tidak bisa belanja sekarang, mendadak ada urusan penting. Kapan-kapan saya kesini lagi." Setelah mengatakan itu Rania langsung lari mengejar papanya.

__ADS_1


"Loh, mbak. Mau kemana? Saya sudah mengambilkan barang yang Anda inginkan." Pelayan itu hendak keluar mengejar Rania namun sudah kalah cepat dengan Rania yang berlari.


"Sudahlah, tidak perlu dikejar. Orang seperti itu palingan cuma modus ingin melihat barang bagus tapi tidak punya uang untuk membeli." Cegah seorang SPG.


"Cih, dasar! Palingan orang tidak punya uang, yang hanya ingin melihat-lihat barang bagus." Timpal pelayan lain.


.


.


.


Rania sudah berada di basement, meskipun mobil yang dipakai papanya banyak yang punya, tapi dia paham plat mobil papanya.


"Siapa wanita itu? Apa jangan-jangan rekan kerja papa? Tapi kenapa bisa sampai belanja bersama dan masuk ke toko pakaian dalam?" Gumam Rania, pikiran nya terus dipenuhi pikiran-pikiran negatif. Dia tak akan menerima jika papa nya sampai mengkhianati sang mama. Walau bagaimanapun, mama nya adalah sosok yang selalu membela diri nya, bahkan dikala dia ingin meminta bertukar suami, bahkan mama nya yang ikut membujuk sang papa agar mau mengiyakan.


Saat mobil papa nya sedikit memelankan laju nya, Rania ikut memelankan kendaraan nya dan bersembunyi di balik mobil yang berada pas di belakang mobil papa nya. Dia tak ingin papa nya curiga kalau Rania sedang membututi.


"Papa mau kemana ya? Kenapa ke arah sini?" Rania semakin mengerutkan dahi karena ternyata papa nya tidak melajukan mobilnya ke arah kantor maupun pulang ke rumah. "Apa mungkin mengantarkan orang yang bersama papa ya?" Gumamnya lagi.


Namun semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Rania itu terbongkar sudah saat melihat mobil papa nya berbelok ke sebuah hotel ternama yang berada di pinggir jalan.


"Siall! Papa benar-benar keterlaluan!" Rania tak ingin kehilangan jejak, dia segera mengikuti papa nya yang sedang berada di meja resepsionis.

__ADS_1


"Permisi, mbak. Saya ingin mengantarkan ponsel ayah saya yang baru saja kesini, Teguh Bimantara. Apa boleh antarkan saya kesana?" Tanya Rania berbasa-basi.


"Mohon maaf, mbak. Bisa tunjukkan KTP Anda?" Petugas resepsionis tak mempercayai begitu saja, sebelum memberikan identitas nya.


Rania mendengus kesal seraya mengambil KTP di tas lalu meletakkan kasar di meja resepsionis. "Buruan, mbak. Saya tidak punya waktu banyak." Kata Rania ketus.


"Baik, mbak. Anda bisa langsung ke kamar no 402 yang ada di lantai 2." Sahut resepsionis itu seraya memberikan senyum meski sebenarnya dalam hati menggerutu karena sikap Rania.


Rania segera mengambil kembali KTP nya dan langsung berlari tanpa mengucap kata terima kasih.


Saat tiba di depan lift yang memperlihatkan tombol panah ke atas pertanda lift itu sedang naik, Rania mengurungkan niat menaiki lift. Dia segera berlari ke arah tangga darurat karena tak ingin ketinggalan papanya sampai ke kamar.


Dengan susah payah dia terus berlari menaiki tangga hingga mata nya melihat kearah dua orang yang baru saja keluar dari lift dengan posisi saling berpelukan dan bibir saling berciuman panas.


"Sialan! Ternyata benar dugaan ku, papa selingkuh!" Kedua tangan nya mengepal kuat.


Saat ini mungkin Rania belum ingin mengatakan kepada mama nya karena tak ingin membuat mama nya bersedih, dia akan melabrak papa nya dan wanita yang menjadi selingkuhan nya lebih dulu.


Dengan nafas memburu akibat lelah serta amarah memuncak, Rania kembali berjalan mendekati dua orang itu. Namun ternyata langkah nya kalah cepat dengan papa nya yang sudah berada di depan pintu kamar.


Papa nya yang sudah tua bangka itu benar-benar tak memiliki malu sedikit pun, berani-beraninya dia melakukan kegiatan tak senonoh masih di depan umum. Bahkan sampai berciuman panas dengan tangan nya yang sudah berkeliaran di tubuh wanita itu, membuat Rania semakin geram melihat nya.


"Papa..!" Teriaknya keras. Namun dua orang yang sedang melakukan aktivitas itu seakan tuli dan tak mendengar teriakan Rania. Sampai pada saat pintu itu terbuka, dua orang itu langsung masuk ke kamar dan pintu itu tertutup rapat.

__ADS_1


Rania menggedor-gedor pintu dari luar menggunakan tas nya, namun sepertinya dua orang yang sudah terkena kabut gairah itu benar-benar tak mendengar gedoran pintu Rania.


__ADS_2