Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Minta Maaf


__ADS_3

Setelah semua masalah yang menimpa Saka dan Rasya, mereka merasa perlu menenangkan diri. Saka mengajak Rasya untuk berlibur ke pulau pribadi, hitung-hitung sebagai honey moon meski terlambat.


"Sayang, biarkan para pengawal yang membawa nya." Saka langsung mencegah istri nya yang ingin membawa koper besar itu sendiri. Sebenernya Saka sudah melarang Rasya, tidak perlu membawa baju terlalu banyak karena dia sudah merencanakan sesuatu yang mungkin tidak membutuhkan semua barang itu. Dasar otak nya saja yang terlalu messum, bahkan Saka membayangkan Rasya tak akan menggunakan sehelai baju pun saat mereka disana.


Sengaja telah mengosongkan pulau pribadi yang biasa nya disewakan agar tak terganggu dengan orang lain, dia memang ingin melakukan kegiatan indahnya bersama sang istri di tempat terbuka tanpa takut ada yang melihat.


"Baiklah," Rasya tidak terlalu mengambil pusing, sekarang memang Saka lebih protektif. Dia bahkan dilarang melakukan pekerjaan rumah dengan dalih tak ingin dia kecapean. Padahal lama-lama Rasya juga merasa bosan, terlebih sekarang dia juga sudah tidak lagi bekerja. Saka hanya menyuruh nya menunggu di rumah atau bisa datang ke kantor hanya untuk menemani nya bekerja, bukan untuk bekerja.


"Rasya.! Dimana kamu?!"


"Rasya!"


Mendengar ada suara keributan di balik gerbang, sepasang suami istri itu sontak mengalihkan pandangan.


"Stop, Bu. Maaf Anda tidak diperkenankan masuk jika tidak memiliki janji oleh Tuan Kami." Terlihat dua orang pengawal sedikit kewalahan menghalangi seorang wanita yang sedang memberontak ingin memasuki rumah.


Rasya memicingkan mata nya, seperti tidak asing dengan wanita itu. Saat pandangan nya semakin intens, dia melebarkan mata ketika tahu siapa orang yang berusaha masuk ke rumah nya. "Mbak Rania?" Gumamnya lirih namun masih bisa di dengar Saka. Saka yang melihat perubahan wajah sang istri sontak kembali mengalihkan pandangan pada wanita yang sedang berteriak itu.


"Mau apa dia kemari?" Tangan Saka mengepal kuat. Seketika emosi nya mencuat kala melihat orang yang sedang membuat keonaran. Dia rasa sudah tak memiliki urusan dengan wanita gila itu, entah apa yang membuat wanita itu dengan berani mendatangi kediaman nya.

__ADS_1


"Kamu disini dulu, aku yang akan menemui wanita gila itu." Saka meraih tangan sang istri yang terasa dingin. Bagaimana pun istri nya masih saja merasa cemas jika mengingat kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan Rania, hal itu benar-benar membuat Rasya cemas hingga mengeluarkan keringat dingin.


"Jangan cemas, sayang. Tidak akan ada siapapun yang berani menyakiti mu selama aku masih hidup." Saka membawa tangan Rasya ke dada sebelah kiri nya untuk merasakan detak jantung nya hingga membuat Rasya sedikit lega.


Dengan mengulas senyum, Rasya menganggukkan kepala membuat Saka ikut tersenyum. "Ya, mulai sekarang aku tidak akan takut pada apapun karena kau akan selalu melindungi ku."


Setelah melihat Rasya kembali tenang, pria itu segera mendekati gerbang.


Dengan bersedekap dada, Saka mendekati Rania dengan arogan serta tatapan tajam. "Mau apa kau kesini?" Tanya nya begitu dingin hingga membuat semua orang diam, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun, begitu pula Rania yang langsung diam menatap pria berlagak angkuh di depan nya.


"S-saka, aku ingin bertemu dengan Rasya." ucap nya dengan tatapan memohon. Mata nya sedikit berair dengan suara terdengar bergetar. Meski begitu, tak sedikitpun membuat Saka iba.


Ngomong-ngomong, penampilan Rania sangat jauh berbeda dari biasanya. Sebenernya Saka sudah tahu bagaimana kondisi kerabat palsu sang istri saat ini, termasuk Dimas, pria brengsek yang sialnya pernah menjadi suami Rasya itu mengidap HIV-AIDS karena terlalu sering bergonta-ganti wanita. Sedangkan Rania sendiri sedikit mengalami goncangan psikis nya setelah mengetahui seluruh keburukan ibu kandung nya sendiri yang bahkan tega meniduri Dimas.


Sedangkan Dimas sendiri, pria itu sedang membutuhkan banyak uang untuk menyembuhkan penyakitnya hingga seluruh harta nya mungkin tak akan cukup untuk terus digunakan berobat.


Rania telah dikeluarkan dari perusahaan, bukan hanya itu, untuk masuk ke perusahaan lain pun seperti nya sangat mustahil karena nama nya sudah di blacklist oleh seluruh perusahaan. Wanita itu frustasi karena tak lagi hidup mewah seperti dulu, ibu nya terlalu jahat, suaminya selingkuh, dan semua itu benar-benar membuat psikis Rania terguncang hingga mengalami stres berat.


Dan kali ini, entah apa yang ingin dilakukan wanita stress ini di tempat ini. Saka sedikit was-was bola wanita itu memiliki niat jahat terhadap sang istri, oleh karena itu dia sendiri yang berinisiatif menemani.

__ADS_1


"Istri ku tidak memiliki urusan apapun dengan mu, sebaiknya kau pergi." Sahut nya dingin dengan posisi tangan nya yang masih disilangkan.


"Tidak, Saka. Ada yang perlu aku bicarakan dengan nya, kamu harus memberi ku kesempatan untuk bertemu dengan adikku,"


Mendengar kata terakhir Rania seketika membuat Saka berdecih. "Adik, heh?" Dia tersenyum sinis menatap jijik pada wanita yang berpenampilan awut-awutan di depan nya.


"Ya, Saka aku ingin bertemu dengan adikku. A-aku ingin mintai maaf padanya. Beri aku kesempatan untuk bertemu." Rania bersimpuh di depan kaki Saka hingga membuat pria itu mundur satu langkah karena tak ingin sepatu mahal nya di sentuh wanita menjijikkan.


"Jangan sembarangan menyentuh ku! Kau terlalu menjijikkan!" Ucap nya lantang yang mampu membuat air mata Rania semakin luruh.


Apa benar dia se-menjijikan itu? Dia tahu semua kesalahannya tak patut dimaafkan, namun dia tetap berusaha minta maaf, dia benar-benar sudah menyesali semua perbuatan jahatnya.


Dia jadi menyalahi takdir, andai dia tidak terlahir dari rahim wanita jahat itu, mungkin dia tak akan menjadi wanita sejahat ini. Tapi ya sudahlah, seharusnya bila memang benar-benar ingin bertaubat tidak seharusnya menyalahi semua kesalahan sendiri dengan melimpahkan pada orang lain, termasuk ibu kandung nya sendiri.


"Maaf, tapi aku benar-benar ingin minta maaf pada Rasya. Aku sangat menyesal karena selama ini selalu berbuat jahat pada kalian, terlebih pada Rasya."


Saka menghela nafas panjang, dia melihat jam dipergelangan tangan nya, dia tak ingin menunda-nunda waktu liburan nya dengan sang hanya hanya karena si benalu. Untuk itu dia memutuskan tidak ingin memperpanjang perdebatan, dia menatap malas dengan wanita didepan nya. "Karena aku masih sedikit baik, aku akan menyampaikan keinginan mu. Kau pergi lah."


"T-tapi,"

__ADS_1


"Pergi atau aku tak akan pernah mengatakan nya!" Ancam nya. Dia benar-benar muak terlalu lama menatap wajah wanita iblis di depan nya.


"Baiklah, aku pergi. Terimakasih." Mau tak mau Rania menurut, dia tak ingin kehilangan kesempatan meminta maaf. Meskipun tak bertemu langsung, setidaknya dia lega karena telah minta maaf.


__ADS_2