
Saka sedang mondar-mandir sendiri di ruang keluarga rumah sederhana nya di kota dingin ini dengan ekspedisi wajah seperti orang terlilit banyak hutang.
Semenjak perdebatan tadi Rasya terus mengurung diri di kamar, dia bahkan tak bisa berbuat apa karena istri nya benar-benar tak mau membukakan pintu. Saka jadi takut meninggalkan nya pergi sebelum istri nya keluar kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun Saka belum juga kembali ke kota. Sangat tidak efektif bila di jam seperti ini melakukan perjalanan pulang. Mungkin dia memang harus menunggu sampai besok pagi untuk meluluhkan hati istri nya.
"Aaaaa...! Saka...!" Jeritan keras Rasya yang terdengar melengking di telinga nya mampu membuyarkan seluruh pemikiran Saka. Dia sangat terkejut mendengar istri nya menjerit, secepat kilat Saka berlari ke depan pintu kamar.
Tok... tok ... tok ..,
"Sayang..! Kamu Kenapa..?!" Saka ikut memanggil Rasya dengan suara keras. Saking paniknya sampai tak menyadari suaranya seperti toa.
Greek ... Grek ... Grek ..
Saka berusaha memutar bolak-balik handle pintu, berharap pintu itu segera terbuka. Nyatanya tak bisa, karena memang sudah dikunci dari dalam. Akhirnya, mau tak mau Saka memutuskan untuk mendobrak nya. Dia tak peduli dengan resiko pintu kamar dari rumah yang baru disewanya langsung rusak dan tentunya berakhir mengganti rugi.
Asal tidak terjadi apa-apa dengan Rasya, Saka baru merasa lega.
Brak ... Brak ... Brakk,
Saka mengerahkan seluruh tenaga nya untuk bisa membuka pintu itu. Tidak seperti di film-film yang baru dua atau tiga dobrakan pintu itu langsung terbuka. Faktanya, meski sudah mendorong hampir sepuluh kali, tapi pintu itu masih seperti biasa, tak ada tanda-tanda bisa rusak sedikit pun.
__ADS_1
Saka kembali mengatur nafas yang sudah terasa memberat, dia kembali mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan mendobrak pintu.
Brakk!
Duarr ... prang ... klung ... klung ..,
Seluruh benda di atas meja depan pintu jatuh menggelinding ke lantai. Vas bunga serta beberapa benda lain yang terbuat dari kaca maupun kaleng ikut terjatuh.
Rasya langsung menghampiri Saka dengan mata sembab nya, tubuh nya menghambur ke pelukan Saka yang masih belum sepenuhnya tersadar dari keterkejutan nya saat melihat ternyata meja kerja yang tadinya berada di dekat sofa sudah berada di depan pintu menghalangi nya masuk.
Dia sudah tahu, tentu ini adalah perbuatan Rasya agar tidak bisa masuk. Padahal jelas-jelas ada kunci disana, tapi istri nya mendadak aneh dan berubah konyol hingga menahan pintu dengan menggeser meja besar sebagai penghalang.
"Aku pikir kamu sudah pulang tanpa pamit," Kepala Rasya mengendus-endus ke ketiak Saka. Hingga baju yang tadinya kering mendadak basah.
Srooott..
Hah, Saka hanya bisa menghela nafas pasrah saat kemeja nya menjadi korban tingkah absurd istri nya, untung cinta.
Issh ... Jorok sekali! Hampir saja Saka ingin mengucapkan kata-kata seperti itu, tapi hanya bisa dia ucapkan dalam hati karena tak ingin istri nya semakin mengamuk.
"Kenapa? Apa kau jijik dengan ingus ku?" Tanya Rasya dengan tatapan horor. Padahal matanya masih sangat sembab, bisa-bisa nya masih bertingkah garang seperti itu.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, sayang. Apapun yang ada pada mu aku selalu menyukai nya. Bahkan kentut mu saja membuat ku candu." Elaknya, membuat Rasya tersenyum lebar.
Huek. Saka ingin muntah dengan gombalan nya sendiri. Astaga ... Apakah dia waras??
"Benarkah?" Tanya nya berbinar-binar.
"Tentu, sayang. Aku tidak pernah berkata bohong."
"Kalau begitu, cium ini, Saka. Kau pasti akan kecanduan dengan aroma yang ku beri."
Duuuuttt..
"Huh, lega nya..,"
Hidung Saka kembang kempis setelah mencium aroma tak sedap di hidung nya. Seperti ada ratusan telur busuk di dekat hidung nya. Mata nya membelalak menyadari suara yang baru didengar nya ternyata berasal dari lubang pantat sang istri. Saking nikmatnya meresapi aroma ini, membuat kepala Saka mulai berputar-putar. Tubuh nya tak seimbang, mengharuskan Rasya untuk memapah nya.
"Saka, kamu kenapa?" Rasya terlihat sangat khawatir, hingga akhir nya tubuh Saka tumbang ke lantai.
Brukk.
Dan terjadi lah tragedi dimana CEO perusahaan Wijaya Corp. harus pingsan akibat keracunan gas yang berasal dari istri nya sendiri.
__ADS_1