
Hari ini Anggun dan suaminya harus segera kembali ke kota. Orang tua Anggun meminta mereka untuk menikmati sarapan pagi sebelum pergi.
"Nduk, suamimu sudah dibuatkan kopi?" tanya Maryamah.
Anggun masih terpusat dengan ponselnya. Dia melihat sosial media miliknya. Tidak ada lagi postingan dari Witha, pria masa lalunya. Saat Maryamah menyenggolnya, baru Anggun mengembalikan ponsel tersebut untuk diisi daya baterainya.
"Maaf, Mas. Anggun ke belakang sebentar, ya?" pamit Anggun pada Firhan.
Maryamah menyiapkan beberapa makanan sederhana di meja. Sementara Anggun sedang menuang air panas ke beberapa cangkir kemudian baru mengaduknya.
Salah jika Anggun masih memikirkan Witha yang sama sekali tidak pernah memikirkan dirinya. Terlebih setelah hujan badai yang ditimbulkan Moiz, Firhan jadi pelangi pertama yang menyambutnya. Bahkan, dia tidak mempermasalahkan status Anggun yang sudah menjanda kala itu.
"Nggun, suami dan bapakmu sudah menunggu. Bikin kopi kok lama bener! Lagi mikirin apa kamu?" tegur Maryamah.
"Anggun teringat Witha, Bu," jawabnya lirih.
Maryamah jika ingat nama itu jadi kesal sendiri. Berhubungan dengan Anggun bertahun-tahun, lalu ditinggal menikah begitu saja. Rasanya tidak adil untuk Anggun. Mau bagaimana lagi? Takdir tidak memihak putrinya.
"Hus, jangan pikirkan pria itu lagi. Suamimu sudah jauh lebih baik ketimbang dirinya. Lihat, dia sedang bercanda sama bapak. Rasanya adem sekali. Ibu senang punya mantu seperti Firhan."
Anggun memang mendengar tawa-tawa kecil dari meja makan. Walaupun tempatnya tidak jauh dari dapur yang hanya bersekat tembok, tetap saja suaranya sampai ke telinganya.
"Anggun ke depan dulu, Bu."
Nampan di tangannya berisi 3 cangkir kopi. Kali ini Anggun ingin meminumnya karena mengantuk. Semalam, Firhan dan Anggun melewati malam pertamanya yang sangat berkesan. Bagi Anggun, Firhan lah orang yang pertama kali bisa membuatnya mabuk kepayang.
"Loh, kok tumben kopinya 3, Nduk?" tanya Gian.
"Anggun lagi pengen minum kopi, Pak. Ngantuk," jawabnya asal.
Gian tersenyum. Wajar kalau pengantin baru mengantuk. Mungkin semalaman mereka begadang. Setidaknya ini awal yang bagus untuk putri dan menantunya.
Seusai sarapan pagi, mereka langsung pamit. Anggun tidak lupa mengambil ponselnya yang diletakkan di meja dekat TV. Semua barangnya pun sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Sudah lengkap semua, Sayang?" tanya Firhan.
"Sudah, Mas."
__ADS_1
Mereka pun bersalaman dengan orang tua sebelum meninggalkan rumah. Maryamah memeluk putrinya dengan penuh haru.
"Lekas pulang dan berikan ibu cucu, Nggun. Biar kami tidak kesepian," ujar Maryamah.
Firhan mendengar ucapan ibu mertuanya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengabulkan. Dia juga menginginkan anak dari pernikahannya.
"Iya, Bu. Doakan Anggun, ya?"
"Tentu, Nak," jawab Maryamah.
Setelah semuanya beres, Firhan mulai mengemudikan mobilnya. Butuh beberapa jam untuk sampai ke kost, lalu pindah ke rumah barunya.
"Ucapan ibu harus diwujudkan," kata Firhan di sela-sela fokus mengemudi.
"Mas dengar ucapan ibu?" Anggun meliriknya.
"Dengar, dong! Suara ibu lumayan walaupun niatnya bisik-bisik," canda Firhan.
"Mas! Anggun jadi malu." Anggun mengedarkan pandangannya ke tempat lain.
Firhan tersenyum. Ada kalanya orang menunjukkan rasa cintanya dengan ucapan. Terkadang juga dengan perbuatan. Seperti yang dilakukan Firhan saat ini. Dia mencoba menarik tangan Anggun lalu menggenggamnya sebentar.
"Terima kasih, Mas."
Saat sampai di tempat kostnya, kebetulan Jihan sedang berada di sana. Tak asing baginya saat sebuah mobil yang dikenal tiba-tiba parkir di depan kostnya.
Sangat mengejutkan lagi saat tahu siapa yang turun. Ya, Anggun dan Firhan. Namun, yang menjadi pertanyaan, sejak kapan mereka bersama? Jihan memang tahu kalau Firhan melamar Anggun, tetapi kebersamaan ini terasa asing baginya.
"Tunggu! Ini kenapa kalian bisa bersama-sama seperti ini?" tanya Jihan heran.
"Aku jelaskan di dalam, yuk!" ajak Anggun.
Firhan mengekor di belakang istrinya. Saat sampai di ruang tamu, mereka duduk bersama-sama. Sementara Jihan masih mencoba menebak apa yang sedang terjadi.
"Jadi, kamu liburan dengan Pak Firhan? Atau, kamu menerima lamaran Pak Firhan? Aduh, Anggun! Tolong ceritakan padaku. Jangan buat aku pusing," pinta Jihan.
Anggun berusaha memberikan kode pada suaminya agar rahasia besar yang disimpan rapat bisa diungkap saat ini juga. Firhan menyetujuinya hingga dialah yang menjawab pertanyaan Jihan.
__ADS_1
"Kami sudah menikah, Jihan," jawab Firhan.
Telinga Jihan tentunya masih baik-baik saja saat mendengar kabar baik itu. Tidak tahu kapan Anggun menerima lamaran pria tampan itu, tetapi kabar pernikahannya juga membuat Jihan bahagia.
"Benarkah? Wah, selamat, Nggun! Kenapa kamu tidak bilang? Hemm, sejak kapan kamu menyembunyikan rahasia dari aku?" Jihan merasa tidak terima.
"Maaf, Jihan. Aku hanya tidak ingin banyak orang tahu mengenai hubungan kami. Apalagi sejak Mas Firhan resign. Kami harus benar-benar menutup rapat dan sama sekali tidak mengumbar hubungan kami. Agar kami merasa nyaman, Jihan," jelas Anggun.
Jihan manggut-manggut. Betapa beruntungnya Anggun. Setelah menikah dengan Moiz, pria brengsek itu. Kemudian bercerai. Sekarang, dia menikah lagi dengan pria yang tampan dan lebih berkelas. Walaupun hanya seorang karyawan, tetapi Firhan menjelma menjadi sosok yang berbeda.
"Oh, ya, niatku ke sini karena ingin mengambil barang-barangku," ucap Anggun.
"Loh, kenapa? Aku pasti kesepian, Nggun."
"Kami mau pindah ke rumah baru," timpal Firhan.
Ah, ini namanya keberuntungan berlipat ganda. Suaminya tampan, pengertian, dan terlihat sekali sangat mencintai Anggun. Gestur tubuh yang ditunjukkan Firhan terlihat sangat jelas. Sesekali pria itu menarik tangan Anggun kemudian menggenggamnya. Siapa pun yang melihat pasti iri dengan perlakuannya.
"Wah, aku boleh main ke rumah kalian?"
Sebagai seorang teman sekaligus sahabat yang baik untuk Anggun, tentunya tidak bisa menolak keberadaan Jihan. Anggun mengangguk tanda setuju bahwa sahabatnya bisa main ke rumah barunya kapan pun dia mau.
"Jadi, kamu mau bantu aku berkemas?" tanya Anggun setelah tidak ada pembicaraan lagi.
Keduanya masuk ke kamar. Kebetulan barang-barang Anggun tidak sebanyak milik Jihan. Hanya beberapa baju dan mungkin perlengkapan yang dia letakkan di kamar. Seperti kipas, lemari kecil, dan beberapa kursi serta meja kerja kecil.
"Aku tidak bisa membawanya, Jihan. Aku ambil baju-bajunya saja. Yang lainnya bisa kamu pakai. Atau, kalau tidak mau, jual saja! Tapi, uangnya memang tidak seberapa, sih," jelas Anggun.
"Ah, Anggun. Aku masih tidak percaya ini. Aku merasa kesepian sekali," ucap Jihan. Dia menunjukkan wajah sedihnya.
"Hemm, nanti kapan-kapan datang ke rumah. Kita makan malam sama-sama. Aku akan masakin yang spesial untukmu. Bagaimana?"
Jihan menyetujuinya. Namun, dia minta maaf karena tidak bisa mengantarkan Anggun pindahan.
"Boleh, tapi untuk hari ini aku gak bisa ikutan, ya? Aku ada pekerjaan penting."
"Hemm, jangan terus bekerja. Sesekali cari jodoh. Kalau seperti ini, aku merasa bersalah sudah meninggalkanmu sendirian, Jihan. Aku minta maaf."
__ADS_1
"Hemm, iya, Nggun. Aku belum nemu yang cocok. Sekalinya nemu, eh udah ada bini," canda Jihan.
Anggun sama sekali mengganggap ucapan Jihan adalah sebuah candaan. Dia tidak mengerti jika di dalam ucapan sahabatnya itu yang akan menjungkirbalikkan kehidupannya suatu hari nanti.