ANGGUN

ANGGUN
Bab 33. Meminta Alamat


__ADS_3

Orang tua Anggun terkejut saat mendapati putrinya kembali ke rumah. Yang mereka tahu, Anggun diterima bekerja di kota dan merupakan perusahaan besar.


"Nggun, kamu balik lagi, Nak?" tanya Maryamah, ibunya.


"Iya, Bu. Anggun gagal bekerja di kota. Ada sedikit masalah sehingga Anggun tidak bisa diterima kerja di sana," ujar Anggun berbohong.


Kapasitasnya sebagai anak cukup memberikan kebohongan kecil agar ibu dan bapaknya tidak memikirkan anaknya. Namun, yang namanya feeling orang tua terkadang tidak pernah salah. Bagi Anggun, mengatakan hal seperti itu memang mudah. Namun, bagaimana dengan Maryamah? Apa dia percaya begitu saja? Tentu saja tidak.


Walah, Nduk. Apa ini gara-gara kamu habis cerai 2 kali? Mungkin kamu perlu diruwat. Ibu akan cari Pak Yai yang bisa bantu kamu untuk lepas dari kehidupan suram ini, Nduk. Entah, nanti kamu akan diajarkan berdzikir seperti apa. Ibu sudah pasrah. Sukur-sukur kamu akan dicarikan jodoh.


"Bu, kenapa diam? Anggun kan bisa usaha dari rumah. Jualan online misalnya. Atau mungkin Anggun akan buka kedai jajanan yang lagi hits. Misalnya seblak, ceker mercon, atau mungkin juga es boba. Yang penting usaha. Rezeki pasti akan datang dari mana saja kan, Bu," ujar Anggun.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Maryamah tidak mau putrinya sengsara seperti itu. Kalau bekerja di kota, setidaknya Anggun akan menjadi wanita terhormat. Paling pulang hanya pada saat liburan atau acara tertentu.


"Ibu tidak setuju, Nak. Lebih baik kamu cari pekerjaan lagi di kota."


"Apa Ibu malu kalau Anggun jualan?"


Maryamah mengangguk. "Ya, salah satunya itu. Selain itu, mereka pasti akan menghinamu, Nduk."


"Bu, kita makan nggak minta mereka. Mengapa Ibu mesti takut dan khawatir? Rezeki datangnya dari Allah, tetapi berpikir buruk sebelum mencoba sama saja bohong."


"Memang benar rezeki pasti ada, tetapi ibu pasti lelah, Nggun. Tetangga akan mengataimu jelek. Apalagi kamu sudah menjanda sebanyak 2 kali. Bagaimana ibu nggak pusing?"


"Ibu jangan khawatir. Doakan Anggun, ya?"


Maryamah tidak pernah putus untuk mendoakan putrinya. Sampai pada jodoh pun, Maryamah berharap mendapatkan pengganti yang seperti Firhan. Pria itu adalah sosok yang tepat untuk mendampingi Anggun.


Berada di tempat yang berbeda, Martha Aruna yang merupakan mama dari Witha tiba-tiba datang ke rumah. Posisi Witha dan Kaluna sedang tidak baik-baik saja. Keduanya bertengkar hanya gara-gara keinginan Witha yang melakukan inseminasi buatan ditolak oleh Kaluna.


"Mama, apa kabar?" tanya Kaluna menyambut mama mertuanya.


"Baik. Witha mana?"


"Ada di ruang kerjanya, Ma. Kami bertengkar," ujar Kaluna.

__ADS_1


Seringkali Kaluna menyampaikan hubungannya dengan Witha pada mama mertuanya. Apalagi Kaluna mendapatkan dukungan 100 persen dari Martha yang sangat menyayanginya.


"Kenapa lagi?"


"Mas Witha menolak rencana kami untuk melakukan program kehamilan, Ma. Dia malah mendukung inseminasi buatan," ujar Kaluna sendu.


"Oh, ya ampun anak itu. Kenapa pikirannya begitu?" Martha tidak habis pikir dengan pola pikir anak laki-lakinya. "Mama akan temui dia. Siapkan 2 kopi. Mama ingin bicara padanya."


Martha berjalan menuju ruang kerja Witha. Sampai di sana, dia pun segera mengetuk pintu. Tanggapan Witha sangatlah mengejutkan.


"Pergi, Lun! Jangan ganggu aku!" teriak Witha dari dalam. Dia tidak tahu jika mamanya yang datang.


"Ini mama, Witha. Buka pintunya!" balas Martha.


Witha segera membuka pintu lalu membiarkan mamanya masuk. Dia pun tidak mengunci pintu seperti sebelumnya. Sebentar lagi Kaluna pasti akan masuk membawa beberapa minuman permintaan sang mama.


"Kamu kenapa lagi?" Martha duduk di sofa.


Sementara Witha kembali ke kursi yang dipakainya untuk mengecek beberapa pekerjaan penting. Lebih tepatnya hanya scrolling media sosial milik Anggun. Saat mamanya datang, secepatnya dia mengganti ke beberapa pekerjaan penting.


"Capek menikah dengan Kaluna? Kamu jangan gitu ih. Kasihan Kaluna. Kalau kalian ribut terus, kapan bisa punya anak?"


"Mam, aku sudah menyarankan cara yang efektif. Dia menolak!" Witha menutup laptopnya lalu beralih memandang Martha.


"Witha, sebenarnya apa maumu?" Martha sudah lelah dengan pertengkaran yang tiada pernah berakhir.


"Aku dan Kaluna sudah membuat kesepakatan. Kaluna akan hamil, sementara aku akan menikah lagi dengan Anggun. Itu cukup adil, kan? Kaluna menginginkan pernikahan ini, tetapi aku tidak! Mama sudah memisahkan aku dari Anggun. Sekarang, aku mau Mama kembalikan aku padanya. Sekuat apa pun Mama mencoba mempertahankan hubunganku dengan Kaluna, justru Kaluna lah yang akan terus tersakiti, Mam. Mama juga jangan egois." Witha terus menuduh 2 wanita itu menjadi penyebab berakhirnya hubungan cinta Witha dengan wanita masa lalunya, Anggun.


"Kamu mau poligami dan mama akan coret namamu dari daftar ahli waris keluarga? Iya? Anggun itu bukan siapa-siapa! Berbeda dengan Kaluna yang memiliki keluarga jelas terpandang. Apa kamu nggak takut kalau keluarga Kaluna memiskinkan keluarga kita? Hidup harus dipikirkan matang-matang, Witha. Jangan asal suka dan terus saja mengejar wanita yang nggak memiliki power." Martha tidak mau putranya menjalin hubungan lagi dengan Anggun.


Kaluna masuk membawa 2 cangkir kopi. Beberapa lagi ada makanan kecil yang diletakkan di hadapan masing-masing.


"Kalau sudah selesai, lebih baik segera keluar!" perintah Witha dengan suara yang agak kasar.


"Witha, pelankan suaramu! Nggak seharusnya kamu ngomong gitu ke Kaluna," ujar Martha.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Ma. Kaluna akan keluar. Oh ya, aku mau pergi ke supermarket. Apa Mama mau titip sesuatu? Kebetulan belanja bulananku udah mau habis, Mam," ujar Kaluna.


"Pergi saja sendiri, Lun. Mama masih ada urusan dengan Witha. Hati-hati di jalan ya, Sayang?" Terlihat jelas kalau Kaluna memang menjadi kesayangan Martha.


"Iya, Ma. Terima kasih." Kaluna kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja itu.


Sementara saat dia pergi ke supermarket, tanpa sengaja dia pun bertemu dengan Jihan. Wanita yang sudah menjadi istri dari mantan suaminya Anggun, Firhan.


Jihan terlihat mendorong trolinya. Sepertinya dia juga baru saja masuk. Terlihat dari isi trolinya yang baru diisi dengan beberapa macam mi instan.


"Jihan!" sapa Kaluna melambaikan tangan.


Suasana supermarket sedang ramai sehingga suaranya pun agak samar. Namun, Jihan juga menyadari keberadaan Kaluna di sana.


"Belanja juga, Lun?"


"Iya. Kamu sendiri?" Kaluna sambil memperhatikan beberapa rak yang kebetulan dilewatinya.


"Iya. Belanja bulanan. Soalnya aku kerja. Jadi, beberapa macam makanan harus tersedia di rumah."


Kaluna sebenarnya beruntung bertemu dengan Jihan. Ada hal penting yang ingin ditanyakan padanya.


"Jihan, sebelumnya aku minta maaf. Aku nggak ada maksud ngungkit masa lalumu dengan mas Firhan, ya. Hanya saja aku ingin tanya. Apakah Anggun masih suka mengganggu rumah tanggamu?"


Jihan tampak sedang berpikir. Sejauh ini yang dia tahu, Anggun bukan tipikal wanita seperti itu. Walaupun Jihan sendiri sudah jahat sama dia, tetapi keyakinannya pada Anggun tidak pernah salah.


"Nggak. Memangnya kenapa?" Kali ini Jihan jujur. Kenyataannya memang seperti itu. Hanya Firhan saja yang masih mencintai Anggun. Itu terlihat jelas dari sikap dan kesehariannya, tetapi Jihan tidak peduli.


"Bisa kamu kasih alamat rumah Anggun? Aku ada perlu sedikit dengannya."


"Hemm, tentu saja. Aku akan kirim alamatnya padamu. Boleh aku minta nomor hapemu?" tanya Jihan.


"Tentu."


Nomor ponsel masing-masing sudah disimpan. Entah, Kaluna akan melakukan apa dengan meminta alamat rumah Anggun? Mungkin ini masih ada hubungannya dengan Witha. Mungkinkah Kaluna akan membuat perhitungan dengan Anggun, atau malah menyerahkan Witha padanya?

__ADS_1



__ADS_2