ANGGUN

ANGGUN
Bab 35. Ibunya Tiada


__ADS_3

Sering keluar masuk rumah sakit membuat dokter menegur Anggun dengan cukup keras. Memang bukan ranahnya, tetapi dokter itu kenal betul dengan Anggun. Siapa lagi kalau bukan dokter Zayn Mahendra. Pria yang dulunya merupakan kakak kelas Anggun di SMA.


"Nggun, ini kali ketiganya ibumu masuk ke rumah sakit. Aku sudah membaca semua rekam medisnya. Kali ini aku takut kalau ibumu tidak bisa tertolong," ujar dokter Zayn.


Zayn Mahendra adalah dokter baru pindahan. Namun, dia kenal betul siapa Anggun dan seluruh anggota keluarganya. Saat Anggun masuk, dia langsung tahu kalau ibunya pernah dirawat berulang kali.


"Dokter, tolong sembuhkan ibuku. Ini memang salahku karena penyebab semua kekacauan ini adalah aku," ujar Anggun sendu.


Gian pun berada di sana untuk menemani putrinya. Dia juga mengenal Zayn seperti halnya dokter itu mengenal keluarganya.


"Nak Zayn, tolong selamatkan istriku. Bapak tidak tahu lagi harus bagaimana?" tanya Gian.


"Lebih baik Bapak berdoa saja. Semoga kondisi ibu baik-baik saja." Zayn pun kemudian masuk ke ruang IGD.


Sementara Kaluna juga berada di sana melihat semua duka yang dialami Anggun. Sungguh tragis kehidupannya. Dia sudah menjadi janda sebanyak dua kali. Yang paling menyedihkan, Witha malah memintanya untuk menjadi yang kedua. Andaikan posisi Kaluna berada di dalam posisi Anggun, dia belum tentu kuat menjalaninya.


Apakah aku harus melepaskan mas Witha lalu memilih Bagaskara? Sampai kapan kehidupan pernikahanku akan seperti ini? Bagaskara lebih mencintai aku ketimbang mas Witha.


Kaluna masih berada di rumah sakit. Dia merasa bersalah karena sudah membuat ibu Anggun menjadi seperti itu. Bila menilik ke belakang, Kaluna lah yang menjadi orang ketiga di dalam hubungan Anggun dan Witha. Saat itu Witha belum memutuskan hubungan apa pun dengan Anggun. Anggun lah yang datang lalu mengakhiri semuanya.


Anggun merupakan wanita yang baik. Bahkan dia rela melepaskan Firhan menjadi milik sahabatnya. Lalu, masihkah Kaluna tega memaksa Anggun untuk menyetujui rencana Witha? Mumpung jalan kehidupan belum terlalu rumit, lebih baik Kaluna segera memutuskan sesuatu.


Terkadang menjadi wanita yang mencintai seorang pria yang berakhir setengah hati akan menjadi rumit. Lebih baik mencintai pria yang sebenarnya lebih dulu mencintai kita. Mungkin itu akan jauh lebih baik ketimbang memaksakan cintanya pada Witha.


"Mungkin ini alasan Allah belum memberikanku keturunan. Supaya aku bisa menentukan pilihan. Melihat Anggun seperti itu, rasanya aku juga tidak sanggup," gumam Kaluna.


Tidak lama, Kaluna melihat dokter tampan yang baru saja keluar dari ruangan IGD. Wajah dokter itu terlihat lesu. Sangat tidak bersemangat.

__ADS_1


Anggun langsung menyambut Zayn dengan beberapa pertanyaan.


"Dokter, bagaimana kondisi ibuku? Dia baik-baik saja, kan? Kamu pasti bisa menolongnya, kan?" Anggun mengiba berharap akan ada keajaiban setelah ini.


"Anggun dan Bapak, Zain minta maaf. Ibu sudah tiada."


Anggun langsung lemas dan jatuh ke lantai. Zayn mencoba menahannya, tetapi Anggun benar-benar lemas. Dia tidak pingsan, tetapi seolah air mata itu sudah tidak ada artinya lagi.


"Nggun, jangan seperti ini. Ikhlaskan ibu. Mungkin ini sudah jalan yang terbaik baginya," ujar Zayn mencoba menguatkan.


Sementara Gian, suaminya tampak tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah kehilangan separuh napasnya. Bagi Gian, Maryamah adalah wanita yang paling sabar. Wanita yang akan selalu dicintainya sepanjang sisa hidupnya. Namun, kini dia telah meninggalkannya lebih dulu.


"Nduk, kamu yang sabar, ya. Bapak sudah ikhlas dengan kepergian ibumu." Mungkin Gian bisa berucap dengan mudah dari mulutnya, tetapi urusan hati siapa tahu.


Kaluna sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dia sungguh merasa bersalah. Bukannya menelepon Witha, dia malah menghubungi Bagaskara.


"Halo, Lun. Tumben kamu menghubungi aku," sapa Bagaskara di balik telepon selulernya.


"Kenapa bisa seperti itu, Luna? Apa yang kamu lakukan pada ibunya Anggun? Apa kamu melakukan hal buruk padanya?" Bagaskara terdengar khawatir. Mungkin ini juga penyebab karena keegoisan Bagaskara untuk mendapatkan Kaluna melalui Anggun dengan membuat permainan konyol itu.


"Bukan seperti itu, Bagas. Ceritanya panjang. Seusai pemakaman ibunya Anggun, kita akan bertemu. Aku ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Tapi tolong jangan katakan apa pun pada mas Witha jika aku mengabarimu. Kumohon," ucap Kaluna mengiba.


"Hemm, baiklah. Aku mengerti. Hari ini aku ada pertemuan dengan Witha dan juga mantan suami Anggun. Aku juga akan menyampaikan kabar itu pada mereka."


"Hemm, baguslah. Aku tutup dulu teleponnya," pamit Kaluna.


Berada di ruang meeting, Witha dan Firhan mengabaikan masalahnya dengan Bagaskara. Sejak kejadian malam itu, mereka memang tidak banyak bicara. Hanya membicarakan bisnis saja karena mereka harus profesional.

__ADS_1


"Apakah rapat hari ini sangat penting?" tanya Bagaskara memulai obrolannya.


"Sebenarnya hanya penyampaian progres kerjasama saja. Kalaupun tidak terlalu penting, bisa langsung baca dokumen masing-masing. Di sana sudah dijelaskan secara detail. Mungkin ada beberapa poin saja yang perlu dibahas. Itu pun paling sekitar 20 persen. Jadi, menurutku tidak terlalu banyak pembicaraan," jelas Firhan.


"Baiklah kalau begitu. Tidak perlu meeting kalau begitu," ujar Bagaskara.


"Apa maksudmu? Jadi, kamu meminta kami datang ke sini untuk bermain-main begitu? Profesional dong!" geram Witha. Sesungguhnya Bagaskara sudah menyita waktunya hari ini.


"Wit, tolong jangan emosi. Dengarkan aku dulu! Aku mengatakan itu karena ada kabar duka yang ingin kusampaikan. Mungkin kita akan pergi ke sana bersama-sama," ungkap Bagaskara mencoba menentramkan keadaan.


Firhan dan Witha akhirnya memusatkan perhatian pada Bagaskara. Mereka pun seakan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kabar duka apa? Ini bukan masalah proyek kita yang sedang berjalan, kan?" tanya Firhan. Kalau sampai proyek ini gagal, jabatan Firhan dipertaruhkan di perusahaan tempatnya bekerja.


"Bukan. Katamu proyek kita berjalan lancar. Ini mengenai Anggun," ucap Bagaskara membuat kedua mantan itu langsung menatap tajam ke arahnya.


"Ada apa dengan Anggun?" tanya keduanya kompak.


Bagaskara menyadari kepada kedua pria itu. Mereka sama-sama belum bisa move on dari Anggun. Terlebih Firhan. Walaupun sudah menikah lagi, tetapi mata pria itu tidak mampu dibohongi.


"Ibunya meninggal dunia hari ini," ucap Bagaskara.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap mereka bersama.


"Tunggu! Kamu dapat kabar dari siapa? Ini bukan berita hoax, kan? Kamu tidak mengada-ada, kan?" tanya Witha.


Bagaskara terdiam. Dia harus menyampaikan apa pada Witha agar pria itu percaya. Apalagi Kaluna sudah mewanti-wanti untuk tidak mengatakan kabar ini darinya. Bisa-bisa Witha akan semakin membenci istrinya itu.

__ADS_1


"Kebetulan aku ada relasi bisnis yang rumahnya dekat dengan daerah Anggun. Kebetulan dia bertemu di rumah sakit dan mengetahui kalau Anggun pernah menjadi karyawan di perusahaanku," ujar Bagaskara berbohong.


Cuma itu yang bisa Bagaskara sampaikan. Setelah ini, mereka pun akan pergi ke rumah Anggun untuk membantu pemakaman. Walaupun mereka akan sampai sana pada malam hari.


__ADS_2