ANGGUN

ANGGUN
Bab 37. Kesabaran Zayn


__ADS_3

Witha kembali ke rumah dengan perasaan dongkol. Dia sudah mencoba menghubungi sang istri, tetapi wanita itu tidak menjawab panggilannya.


"Heran. Ke mana perginya? Apa sebenarnya yang dilakukan Kaluna pada Anggun? Oh, atau mungkin Kaluna pergi ke rumah orang tuanya?" ujar Witha kesal.


Daripada sekadar menebak-nebak, Witha memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya. Tidak hanya itu, dia juga sudah mengirimkan pesan untuk menjemput Kaluna. Bukan karena ingin bersamanya, tetapi Witha ingin mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi ganjalan kepada Anggun.


Kaluna cemas. Witha pasti sudah tahu semuanya setelah pemakaman. Mungkin ini akan menjadi akhir yang terbaik untuk hubungan rumah tangganya.


"Lun, kenapa cemas?" tanya mama.


"Luna pamit pulang dulu, Mam. Takut mas Witha nyariin." Sejujurnya Luna tidak ingin membuat keluarganya cemas, tetapi imbas kecerobohannya ini pasti akan berakibat fatal.


Berniat masuk ke mobilnya sendiri, ternyata Witha telah masuk ke halaman. Secepatnya pria itu menghampiri Kaluna kemudian mengajaknya keluar dari sana.


"Ayo, ikut aku!" Witha menarik tangan Kaluna sangatlah kasar. Dia pun menghempaskan Kaluna di jok belakang hingga wanita itu mengaduh.


"Aduh, sakit! Ada apa, sih?" tanya Kaluna.


Witha tidak menjawabnya. Dia segera mengemudikan mobilnya kembali ke rumah.


"Kamu mau aku yang bertanya atau kamu yang menjelaskan?"


Satu kalimat tak berjeda itu mampu membuat Kaluna panik, takut, dan segala kekhawatiran lainnya yang akan terjadi setelah itu. Ingin lari pun, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan. Bahkan untuk menggunakan Bagaskara sebagai perisai, sama sekali belum dilakukan.


"Aku minta maaf, Witha. Iya, aku akui kalau aku salah," ujar Kaluna akhirnya. Walaupun dia sedang duduk di jok belakang, tidak ada salahnya mengungkapkan rasa bersalahnya pada Witha.


"Apa kamu pikir bisa mengembalikan keadaan?" tanya Witha sambil fokus menyetir.


"Aku akan berusaha. Beri aku kesempatan itu, Witha," pinta Kaluna mengiba.


Sesampainya di rumah, Witha segera menarik Kaluna untuk masuk ke kamar. Dia menghempaskan tubuh Kaluna ke atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan pada ibunya Anggun?"


Kaluna terdiam. Dia bingung, harus mulai dari mana? Apalagi ibunya Anggun sudah mengira kalau putrinya menjadi seorang pelakor.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Wit. Sungguh itu bukan keinginanku. Aku datang untuk meminta pengertiannya. Aku ingin Anggun membantuku meyakinkan dirimu mengenai program kehamilan kita. Anggun menolak dan aku membuatnya berada di dalam posisi yang sulit. Ibunya datang. Lalu, kejadian itu begitu cepat. Aku bingung, Witha. Aku minta maaf, tetapi sebagai rasa bersalahku, aku sudah meminta tolong seseorang untuk memberitahukan itu padamu," jelas Kaluna.


"Dan orang itu adalah Bagaskara, kan? Seharusnya kamu cocok hidup bersamanya. Jangan hidup denganku!"


Witha menyugar kasar rambutnya. Kesempatan untuk dekat dengan Anggun semakin tipis. Apalagi ini penyebabnya adalah Kaluna sendiri.


"Kamu membuatku semakin susah, Lun. Aku berjuang mati-matian untuk kembali pada Anggun, tetapi kamu menghancurkannya. Apa sebenarnya keinginanmu, hah?" lanjut Witha.


Pertengkaran antara Witha dan Kaluna tidak bisa dihindarkan. Sementara di tempat lain, Firhan baru saja kembali. Dia sengaja sampai rumah dini hari agar Jihan tidak bertanya lagi tentang pertemuan apa yang dilakukan bersama dengan Bagaskara. Jelas dia memiliki banyak pertanyaan mengenai hal itu.


"Mas, kamu baru pulang?" tanya Jihan.


"Hemm, tidur saja. Ini masih malam. Aku mau mandi lalu tidur," ucap Firhan.


"Sebenarnya pak Bagaskara ngajak kamu ke mana sih, Mas? Tiba-tiba mendadak banget. Apa ada bisnis baru? Setahuku kalian nggak ada tuh bisnis ke luar kota," ujar Jihan masih dengan rasa penasarannya.


"Kamu nggak perlu terlalu curiga seperti itu. Toh aku perginya bukan sama perempuan. Jangan terlalu penasaran, endingnya sakit," ujar Firhan kesal kemudian langsung masuk ke kamar mandi.


"Baiklah. Gak masalah, mas. Yang penting kamu tetap sama aku," ujar Jihan kemudian kembali tidur.


"Assalamualaikum," ucap Zayn saat berada di depan pintu masuk rumah.


"Waalaikumsalam," balas Gian yang baru keluar karena mendengar orang mengucapkan salam. "Oh, Nak Zayn. Masuk, Nak."


Setelah dipersilakan duduk, Zayn mengutarakan maksud kedatangannya.


"Pak, bagaimana kabar Anggun? Saya ke sini karena khawatir kalau Anggun masih belum bisa melupakan ibu."


"Anggun nggak pernah keluar dari kamar, Nak. Bapak sudah bujuk dia untuk keluar, makan, atau apa pun itu. Dia selalu menolak."


Zayn tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Anggun sekarang. Dia harus segera membujuknya. Jika tidak, maka entah apa yang akan terjadi pada Anggun.


"Pak, boleh panggilkan Anggun?"


"Tentu, Nak. Sebentar, ya."

__ADS_1


Gian segera masuk. Dia mengetuk pintu kamar yang selama beberapa hari ini hampir tidak pernah dibuka.


"Nggun, keluar, Nduk. Nak dokter ada di sini. Ayo, jangan mengurung diri terus. Apa kamu nggak malu sama bapak? Bapak sudah ikhlas melepas ibumu," panggil Gian.


Tidak lama, Anggun pun keluar. Dia terlihat seperti orang yang tidak tidur. Badannya terlihat semakin kurus. Walaupun Anggun masih makan, tetapi porsinya cuma sedikit.


"Zayn, Pak?" tanya Anggun dengan suara yang lumayan pelan.


"Iya, temui sana!"


Anggun mengangguk. Ketika bertemu dengan Zayn, pria itu mengucap salam lebih dulu pada Anggun.


"Assalamualaikum, Nggun. Bagaimana kabarmu?"


"Waalaikumsalam. Aku baik. Tumben ke sini. Ada apa?" Anggun duduk tidak jauh dari tempat Zayn berada.


"Aku hari ini libur. Sebenarnya rencanaku ke sini karena ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku mau pergi ke kota, tetapi aku butuh teman supaya tidak jenuh. Apa kamu mau menemaniku?"


Ajakan Zayn ini untuk pertama kalinya. Lagi pula setelah puluhan tahun tidak bertemu, mengapa Zayn sangat peduli padanya?


"Aku rasanya lelah, Zayn. Mungkin lain kali saja kita pergi," tolak Anggun.


"Nggun, jarang-jarang aku mendapat libur seperti ini," ujar Zayn merayu. Sebenarnya dia sengaja mengambil cuti selama 2 hari karena ingin mengajak Anggun jalan. Dia juga tahu kejadian apa saja yang sudah menimpa Anggun selama ini.


"Nduk, pergi saja," ujar Gian yang baru saja keluar membawa air mineral kemasan gelas yang disuguhkan untuk dokter Zayn. "Maaf, cuma air."


"Nggak apa-apa, Pak. Jadi, bagaimana? Bapakmu sudah mengizinkan pergi. Tolong jangan tolak," pinta Zayn.


Sejujurnya Zayn sudah memiliki perasaan sejak lama. Namun, dia tidak yakin ada kesempatan untuk bisa bersama dengan Anggun. Pertemuannya di rumah sakit beberapa hari yang lalu membuat Zayn getol mencari informasi dari berbagai pihak. Informasi yang paling akurat didapatkan dari Gian, bapaknya Anggun sendiri.


"Baiklah. Aku akan bersiap dulu," ujar Anggun.


Terlihat senyum bahagia terpancar di wajah Zayn. Kesabarannya hingga bisa menjadi dokter dan rasa cintanya terhadap Anggun membuatnya betah melajang sampai detik ini. Semoga setelah ini, Anggun mau membuka hati untuknya.


__ADS_1


__ADS_2