
Tidak sulit bagi Anggun untuk menyelesaikan masalahnya. Terlebih sikap Moiz memang sudah sangat keterlaluan. Tanpa mengalami kesulitan, hanya melewati satu kali mediasi yang gagal lalu beberapa kali sidang, akhirnya majelis hakim memutuskan perceraian keduanya.
"Selamat, Anggun! Kau hanya mempermainkan pernikahan ini tanpa mau mempertahankan!" sesal Moiz. Padahal dia mau berubah dan memperbaiki kesalahannya, tetapi pihak Anggun sudah menutup akses untuk melakukan semua itu.
"Aku tidak menyesal, Mas. Harusnya kamu yang bisa mengayomi aku, bukannya malah membuatku kecewa seperti ini." Anggun pun memiliki pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Baiklah. Tidak masalah untukku. Tapi ingat, suatu hari nanti kamu pasti akan menerima kesakitan yang lebih dari ini. Kamu akan menyesal tidak bisa menemukan pria sebaik aku dalam segala hal. Maka, kamu akan menyadari betapa baiknya aku di masa lalu."
Anggun tersenyum kecut. Bisa-bisanya Moiz dengan percaya diri mengatakan hal yang demikian. Rasanya begitu aneh dan menjengkelkan.
"Kamu mendoakan buruk padaku, Mas? Kamu masih belum rela kita berpisah?" tanya Anggun.
"Hemm, seperti ucapanmu. Aku memang belum rela, tetapi kamu sudah keburu menutup pintu maafmu. Aku sudah berjanji akan memperbaiki segalanya, tetapi—"
"Terlambat, Mas! Lebih baik lupakan aku dan carilah wanita lain yang bisa kamu bohongi dan porotin sesuka hatimu!"
Kabar perceraian Anggun mencuat ke permukaan. Tidak hanya Firhan saja yang tahu, tetapi juga kekasihnya yang sudah menikah dengan Kaluna. Sayang, kesempatan Witha untuk mendekat kembali sangat sulit. Berbeda dengan Firhan yang mendapatkan kesempatan begitu lebar.
"Nggun, nanti makan siang aku traktir, ya?" tanya Firhan saat Anggun sudah kembali bekerja.
Beberapa kali absen untuk mengurus perceraiannya membuat Firhan harus bersabar. Kini, saat dia kembali adalah kesempatan terbesar Firhan untuk melakukan pendekatan.
"Hah, kenapa, Pak?"
Anggun sama sekali tidak fokus saat Firhan mengajaknya berbicara. Walaupun ruangannya hanya disekat dengan dinding kaca, nyatanya saat Firhan masuk ke ruangan Anggun, wanita itu sama sekali tidak menyadarinya.
"Hentikan dulu pekerjaanmu! Setiap hari akan ada banyak kesibukan lain, Nggun. Sebelum melanjutkan pekerjaan, dengarkan aku sebentar!" pinta Firhan.
"Ya, Pak. Anggun minta maaf."
__ADS_1
"Aku mau mengajakmu makan siang bersama. Terserah kamu mau pilih di Kafe A atau makan sate taichan di warung A, atau kamu punya tempat lain yang ingin kamu datangi. Terserah kamu yang pilih!"
Anggun tidak berpikiran apa pun mengenai Firhan. Sebagai atasan yang baik, tentunya Anggun tidak bisa menolak ajakan pria itu. Namun, dia cukup malu kalau harus makan berdua saja dengan Firhan. Apalagi sampai diketahui karyawan lainnya.
"Hemm, baiklah, Pak. Bagaimana kalau kita makan di kafe saja. Aku cuma rindu nasi goreng tunanya."
Tidak menjadi masalah asalkan Firhan bisa berduaan dengan Anggun. Kesempatan emas tidak akan dilewatkan begitu saja.
Saat makan siang tiba, buru-buru Firhan mengajak Anggun masuk ke mobil. Jangan sampai didahului karyawan lainnya. Apalagi Anggun sekarang sudah menjanda untuk pertama kalinya. Akan menjadi gosip hangat bila mereka tahu jika Mbak Anggun pergi bersama Pak Firhan.
"Kenapa kita seperti pencuri ya, Pak?" tanya Anggun saat menyadari kelucuannya bersama.
"Kenapa? Apa seperti ini sangat lucu?"
Anggun tertawa. "Bapak seperti sedang menculikku!"
Firhan kemudian membalasnya dengan senyuman. Saat sampai di kafe yang dimaksud, bergegas Firhan membuka pintu untuk Anggun. Memperlakukan wanita itu bak orang yang harus dijaga sepanjang umurnya.
Berada di sudut ruangan membuat keduanya sama-sama nyaman. Sambil menunggu pesanan datang, Firhan ingin tahu apa pun tentang Anggun.
"Nggun, sebenarnya aku ingin berbicara banyak denganmu. Anggap saja ini rencana masa depan yang entahlah aku pun tidak tahu."
Anggun mencoba memahami ucapan Firhan. Mungkinkah pria itu memiliki perasaan kepadanya? Sementara rahasia kehidupan Firhan sendiri tidak diketahui oleh Anggun.
"Iya, Pak. Lalu?" Anggun sengaja menggantung ucapannya.
"Kamu benar-benar hebat bisa menjalani kehidupan yang tidak biasa ini. Aku salut padamu, Nggun. Mengenai kabar perceraianmu, aku sempat menguping pembicaraanmu. Aku minta maaf."
Sudah bisa diduga. Pantas saja Firhan tidak pernah menolak izinnya yang berulang kali. Rupanya dia sudah tahu.
__ADS_1
"Ya, Pak. Tidak masalah. Lagi pula itu sudah lewat juga, kan?"
Firhan mengangguk. Sebelum menuju ke tahap serius, mereka menikmati makanan yang sudah dipesan. Anggun dengan nasi gorengnya, sementara Firhan lebih menyukai makanan yang berkuah. Ya, dia memesan mie kuah.
"Nggun, kalau ada pria yang menyukaimu, apa kamu akan menolaknya? Mengingat perceraianmu baru saja diputuskan."
Anggun menghentikan kunyahan nasi goreng yang saat ini ada di mulutnya. Sebenarnya siapa pun orangnya, Anggun tidak merasa lelah. Dia hanya tahu kalau ini adalah hidup yang harus dijalaninya. Jadi, tidak ada salahnya membuka hati untuk pria lain.
Sambil memikirkan apa yang akan diucapkan kepada Firhan, Anggun menyelesaikan makannya lebih dulu. Dia mengambil gelas yang berisi lemon tea kemudian meminumnya hingga tersisa setengahnya.
"Hidup akan terus berjalan, Pak. Kabur dari masalah satu menuju masalah lainnya memang bukan solusi, tetapi menutup hati itu sulit sekali kulakukan."
Ibunya pernah bilang bahwa setelah luka lama tertutup, maka akan timbul kebahagiaan yang baru. Maka jangan pernah sekali pun menutup diri jika masih sendiri, karena sendiri itu tidak akan senyaman berdua.
Mengingat kata itu, Anggun tetap bersemangat. Siapa pun orangnya jika sudah ditakdirkan bersama Anggun, maka dia tidak bisa menolaknya lagi.
"Jadi, kau bisa menerima pria lain? Ehm, maksudku membuka hati untuk pria lain setelah luka yang kamu terima?"
Anggun mengangguk pasrah. Dia bukan wanita bodoh sehingga tidak menyadari bahwa Firhan sendiri sudah memiliki niat untuk mendekatinya. Buktinya bukan saat ini saja, tetapi beberapa hari yang lalu saat bos datang ke kantor menanyakan keberadaan Anggun, Firhan sangat melindunginya.
"Tergantung, Pak. Kalau cocok ya lanjut, kalau enggak ya cari yang lain," jawab Anggun asal.
Padahal Firhan menantikan keseriusan Anggun untuk memberikan kesempatan itu padanya. Sepertinya Firhan harus menunggu waktu yang tepat sampai Anggun benar-benar siap.
Firhan mengaduk minuman di hadapannya kemudian dia memandangi Anggun. Sesekali menoleh ke arah lain untuk mengatasi kegugupannya. Tidak bisa menunda waktu lebih lama lagi karena Anggun bukan saja akan menjadi incarannya, tetapi para pria lain banyak yang menginginkan Anggun.
"Nggun, aku ke kasir sebentar. Lanjutkan minummu sampai habis. Ingat, jangan pernah disisakan, ya?"
Anggun mengangguk lalu mengacungkan satu jempol tanda setuju. Setelah Firhan membayar, mereka bertemu lagi di dalam mobil. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat parkir, Firhan menyempatkan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Nggun, maaf. Mungkin ini terlalu cepat untukmu, tetapi aku tidak bisa menahan diri. Maukah kau menjadi istriku?" Ya, Firhan melamar Anggun.