
Sambil menunggu istrinya di pindahkan ke kamar rawat, Firhan mengecek ponselnya. Ada balasan pesan dari Cakra dan nomor asing yang terus saja menerornya sejak pagi.
Tatapan mata Firhan membulat sempurna saat tahu isi pesan dari nomor asing tersebut.
"Mas, datanglah ke kostku. Kalau kamu tidak datang, tepat setelah jam makan siang, kamu akan menemukan mayatku terbujur kaku. Aku tidak main-main, Mas. Jihan."
Firhan dibuat kacau oleh wanita itu. Bagaimana kalau Jihan benar-benar mengakhiri hidupnya? Apa yang akan dikatakan pada semua orang? Ah, Firhan sangat dilema sekali. Jiwa kemanusiaannya bertentangan dengan naluri untuk menunggu sang istri. Di sisi lain, istrinya jauh lebih penting. Sementara Jihan adalah orang asing yang sudah membuat segalanya hancur.
"Aku tidak mungkin meninggalkan istriku, tetapi aku juga tidak akan membiarkan orang lain mengakhiri hidupnya dengan cara yang salah!"
Firhan buru-buru menuju ke tempat parkir. Dia mengabaikan panggilan suster yang mengatakan bahwa istrinya telah siuman. Biarkan setelah ini orang akan mencibir ataupun menghinanya karena lebih memilih menyelamatkan nyawa wanita lain ketimbang menunggui istrinya.
Firhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke tempat Jihan. Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi untuk mencapai sana butuh waktu lebih dari 20 menit. Kalau sampai terlambat, Firhan pasti orang pertama yang akan dituduh sebagai penyebab kematian Jihan.
Firhan bergegas turun dari mobil lalu berlari menuju pintu yang terbuka lebar.
"Jihan! Jihan! Di mana kamu?" teriak Firhan.
Pintu kamar yang tertutup membuat Firhan mencoba mendobraknya. Jihan sedang terkapar di dalam. Di sebelahnya ada pisau dan tangannya yang dia sakiti.
Firhan tak lekas membawa Jihan keluar dari sana. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa Jihan masih bernapas dan ada kesempatan untuk hidup lagi.
Setelah Firhan yakin kalau Jihan masih bernapas, buru-buru dia mengangkat wanita itu tanpa memikirkan apa risikonya nanti. Dia pun membawa Jihan ke rumah sakit tempat Anggun dirawat karena hanya itu yang paling dekat.
Seperti sebelumnya, Firhan meletakkan mobil di tempat yang sama. Suster agak terkejut karena pria yang sempat membawa pasien atas nama Anggun malah membawa lagi wanita yang sepertinya sedang mencoba untuk bunuh diri.
Karena harus segera dirawat, brankar Jihan di dorong masuk bersamaan dengan brankar Anggun yang keluar untuk pindah ruang rawat.
Anggun yang sudah sadar, tetapi masih dalam keadaan lemah bisa melihat Jihan masuk dan suaminya berada di sana.
Tatapan mata Anggun dan Firhan beradu. Sepertinya Anggun tidak lagi memiliki kata damai untuk kesalahpahaman keduanya. Firhan tertegun di tempat kemudian menyusul Anggun ke kamar rawatnya tanpa memedulikan mobil yang masih terparkir asal di depan.
__ADS_1
"Nggun, ini salah paham," ucap Firhan setelah suster yang mengantarkan Anggun keluar.
Anggun diam. Dia sama sekali tidak merespon karena apa yang dilihatnya jelas bukan sebuah kebetulan.
"Lebih baik Mas keluar sekarang. Temui saja wanita keduamu itu!"
Anggun lelah. Dia tidak mau berdebat. Sementara Firhan merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Anggun maupun rumah tangganya.
Baru saja keluar dari ruang rawat Anggun, seorang pria menghentikannya. Padahal Firhan sama sekali tidak mengenal pria itu, tetapi dia tahu Firhan.
"Suaminya Anggun?" tanya Witha.
Ya, Witha hari ini ke rumah sakit untuk sekadar mengambil hasil pemeriksaan mamanya yang sedang sakit. Sebenarnya Witha tahu kalau Firhan baru saja keluar lalu masuk lagi membawa Jihan. Witha masih bingung dengan situasi itu dan berusaha mencernanya.
"Iya. Kamu siapa?" tanya Firhan.
"Saya Witha. Teman Anggun," jawab Witha berbohong. Kalau dia mengaku mantan pacar Anggun, jelas Firhan tidak akan mengizinkannya untuk membesuk Anggun. Ini kesempatan langka dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Oh, Witha. Saya Firhan. Iya, Anggun ada di dalam."
"Hanya kelelahan saja."
"Boleh saya jenguk sebentar?" Meminta izin suaminya tidak menjadi masalah, bukan? Daripada Witha menerobos masuk lalu diusir.
Firhan tidak bisa menolak. Mungkin dengan bertemu teman-temannya, Anggun mulai mereda. Walaupun demikian, kesalahan tetap bertumpu pada Firhan. Seolah semesta telah mengatur skenario yang melelahkan seperti ini.
"Silakan masuk, tapi aku tidak bisa menemani kalian. Mungkin ada yang dibicarakan, silakan saja."
Firhan juga baru ingat kalau mobilnya pasti mengganggu orang lain di depan IGD. Tak ada waktu lagi selain harus cepat meninggalkan bangsal rawat inap istrinya.
Witha baru saja membuka pintu langsung disuguhkan suara amarah Anggun yang terdengar meledak-ledak.
__ADS_1
"Apalagi, Mas?" tanya Anggun tanpa melihat siapa yang datang.
"Nggun, ini aku," ucap Witha kemudian menutup pintunya kembali.
"Witha?" Anggun terkejut lalu menoleh ke sumber suara.
"Kamu sakit apa?" Witha mencari tempat duduk agar bisa dekat dengan Anggun lagi.
"Aku hanya kelelahan. Kenapa kamu tahu kalau aku ada di sini?"
Witha menceritakan kalau melihat Firhan. Sebenarnya dia tidak terlalu ingat, tetapi saat tahu dia menggendong Jihan yang baru saja keluar dari mobil pria itu, Witha mencoba mencari informasi.
"Kamu ada masalah rumah tangga? Ceritakan saja! Aku masih mau mendengarkan, Nggun. Jangan simpan kesedihanmu sendiri!"
Sudah pernah meninggalkan untuk menikahi wanita lain, sekarang datang sok peduli pada kehidupan Anggun. Rasanya Anggun malas sekali untuk meladeninya. Apalagi kejadian ini berbuntut setelah Witha membawanya kabur saat di vila itu.
"Apa diam-diam kamu bekerja sama dengan Jihan?" tanya Anggun.
Kejadiannya seperti sebuah kebetulan. Witha membawanya pergi, lalu suaminya dan Jihan berada di dalam kamar yang seharusnya ditempati Anggun dan suaminya.
"Bekerja sama bagaimana? Aku dan Jihan sama sekali tidak pernah berkomunikasi. Aku memang mengenal Jihan darimu, tetapi nomor ponsel atau kehidupan Jihan, aku sama sekali tidak tahu!"
Jelas saja Witha mengelak tuduhan yang sama sekali tidak pernah dilakukan. Namun, mengingat pembicaraan ini mengenai Jihan dan juga dirinya, Witha menarik kesimpulan bahwa ada hubungan spesial antara Firhan dan Jihan.
"Suamimu berselingkuh?" tanya Witha akhirnya.
Hening. Mata Anggun mulai berkaca-kaca. Dari sudut matanya yang tidak mampu menahan gejolak terbesar selama hidupnya itu akhirnya banjir. Ya, Anggun menangis. Dia tidak mungkin membuka aib suaminya, tetapi ucapan Witha seketika membuat Anggun tidak bisa menahan diri.
"Nggun, jangan menangis! Aku minta maaf kalau sudah membuatmu bersedih. Aku tahu kalau kamu kuat, tetapi tolong jangan gunakan perasaan untuk menangisi pria bejat sepertinya."
Andaikan Firhan mendengar, sudah pasti terjadi baku hantam di antara keduanya. Baik Anggun dan Witha sama-sama mengira kalau Firhan memiliki hubungan khusus dengan Jihan.
__ADS_1
"A-aku tidak tahu, Witha. Tolong keluarlah! Jangan buat aku semakin terbebani dengan semua masalahku!"
Bukannya menghibur, kehadiran Witha malah menambah berat masalahnya. Pasalnya, pria itu sudah pernah mengatakan bahwa pernikahannya sendiri sama tidak bahagianya dengan pernikahan Anggun. Apakah setelah ini keduanya akan merajut hubungan yang sempat putus itu? Atau, keduanya memilih bertahan dengan pernikahan masing-masing yang sudah sama hancurnya?