
Setelah melakukan sidang berulang kali, gugatan perceraian Kaluna atas suaminya pun dikabulkan. Tidak sulit karena Witha dan Kaluna sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan.
Ya, Kaluna ditemani oleh Bagaskara. Dia ingin agar pria itu turut menyaksikan langsung putusan pengadilan atas dirinya.
"Bagaimana? Apa ini yang kita inginkan?" tanya Kaluna pada Bagaskara.
"Tentu saja, Luna. Setelah masa iddahmu berakhir, maka kita akan bertunangan lalu menikah. Aku tidak mau kalau kita terlalu buru-buru memutuskan sesuatu, padahal kamu harus menunggu," ujar Bagaskara.
"Baiklah. Terserah kamu saja, Bagas."
Berniat pulang, tetapi Martha menahan mantan menantunya. Dia ingin tahu, apa yang menyebabkan Kaluna menyerah dengan pernikahannya?
"Luna, mama ingin bicara denganmu."
Kaluna menoleh. Bagaskara memberikan waktu dengan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Dia tidak mau ikut campur dalam pembicaraan itu.
"Ada apalagi, Ma? Bukankah sudah jelas kalau aku dan Witha resmi bercerai?"
"Mama nggak habis pikir kalau kamu udah selingkuh dengan pria itu, kan? Kenapa kamu lakukan pada anak mama, Luna?"
Kaluna tersenyum. "Terserah Mama mau bilang apa. Mau aku selingkuh atau apa pun itu, Luna udah enggak peduli. Daripada melanjutkan pernikahan neraka dengan Witha yang nggak pernah bisa menghargai aku sebagai istrinya, lebih baik harus diakhiri."
"Kamu, ya!"
"Mama!" panggil Witha.
"Mas, katakan pada Mama kalau perceraian ini kita yang ingin," ujar Kaluna kemudian masuk ke dalam mobil.
"Ma, kami sudah sepakat. Mama jangan ganggu Kaluna lagi. Dia sudah bukan istri Witha sekarang."
"Mama nggak habis pikir. Otakmu itu isinya apa sih, Witha? Kaluna itu keluarga orang kaya, terpandang, sumber dana keluarga kita, dan dia juga cantik. Apa yang kamu lihat sehingga kamu rela melepaskannya begitu saja? Sampai mati pun, mama nggak akan restui kamu mengejar wanita kampungan itu!" ujar Martha.
"Ma, itu artinya Mama harus siap kalau aku menduda untuk selamanya. Anggun itu cinta pertama dan terakhirku, Ma. Dia tidak akan tergantikan oleh siapa pun. Mama harusnya dukung anaknya biar bahagia, bukan egois dengan keinginan Mama sendiri!"
__ADS_1
Jika Witha baru saja mendapatkan status dudanya, maka lain halnya dengan Anggun. Hari ini dia akan melangsungkan pernikahan dengan dokter Zayn.
Ya, setelah kejadian siang itu, Anggun semakin yakin kalau Zayn lah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia tidak lagi berada di posisi yang paling sulit, tetapi meminta pernikahannya dengan cara yang sangat sederhana sekali.
Semua anggota keluarga tampak berkumpul di ruang tamu menunggu penghulu datang. Anggun sedang dirias di dalam kamarnya. Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Anggun dan juga dokter Zayn.
"Pak Gian, Pak Penghulunya sudah datang. Lebih baik panggil Mbak Anggun dengan segera," ujar salah satu kerabatnya.
Gian pun masuk. Tidak lama, dia keluar bersama Anggun yang menggunakan kebaya putih serta jariknya. Terlihat sangat cantik karena rias yang digunakan Anggun adalah pengantin Jawa.
Anggun duduk di kursi sebelah Zayn. Keduanya tampak terlihat sangat bahagia. Pigura dan kotak mahar pun sudah tertata rapi di meja.
"Bagaimana? Apakah bisa dimulai?" tanya pak penghulu.
"Bisa," jawab mereka serempak.
Setelah berbincang dengan penghulu sebentar, maka sudah diputuskan kalau Gian lah yang akan menikahkan Anggun. Seperti sebelumnya memang selalu bapaknya sendiri.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anggun Maharani binti Gian Raharja dengan maskawin tersebut, tunai."
"Bagaimana, Saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Doa-doa pernikahan pun dibacakan. Setelah itu, Anggun diizinkan untuk mencium punggung tangan suaminya. Setelah selesai, barulah Zayn memegang puncak kepala istrinya dan membacakan doa.
Zayn pun menghadiahi cincin pernikahan untuk Anggun karena dia sendiri memilih untuk tidak menggunakan cincin pernikahan itu. Apalagi terbuat dari emas. Cukup Anggun saja yang menggunakan.
Tidak ada acara lain, selain makan-makan dan berfoto bersama keluarga. Zayn memiliki waktu cuti hanya beberapa hari. Itu artinya harus memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.
__ADS_1
"Nggun, bapak titipkan kamu pada Nak Zayn. Ke mana pun kalian pergi, jangan lupa untuk kembali ke rumah. Sesekali kamu bisa tengok bapak. Jangan tenggelam dengan masa lalu, tetapi hiduplah bersama masa depanmu. Kita tidak akan pernah tahu kapan kesedihan atau kebahagiaan datang menghampiri. Bapak berdoa agar kalian berdua dihadiahi kebahagiaan yang tiada terkira," ujar Gian.
"Iya, Pak. Anggun pasti akan merindukan Bapak selalu," ujar Anggun yang mulai meneteskan air mata.
Seperti rencana, Zayn akan memboyong Anggun ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah sakit. Anggun pun dibebaskan untuk bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
"Bapak jangan khawatir. Rumah kita juga nggak jauh dari sini. Kalau Bapak kangen, bisa telepon Anggun atau saya, Pak. Kami pasti akan datang," ujar Zayn.
"Iya, Nak. Titip Anggun, ya. Tolong bahagiakan dia. Jangan pernah sakiti dia ataupun sampai terpengaruh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya bapak memiliki ketakutan tersendiri dengan pernikahan Anggun yang ketiga ini, tetapi bapak yakin kalau Nak Zayn adalah sosok yang baik untuk mendampingi Anggun."
"Terima kasih atas kepercayaan Bapak. Saya pasti akan memperlakukan Anggun sebaik mungkin, Pak. Saya mencintainya," ujar Zayn.
Beberapa hari kemudian, Anggun sudah menempati rumah yang ditinggali bersama Zayn, suami barunya.
"Zayn, apa kamu yakin kalau aku masih bisa bekerja? Jika kamu melarang pun, aku tidak masalah berhenti," ujar Anggun saat berada di ruang tengah bersama suaminya.
"Aku hanya nggak ingin kamu merasa jenuh di rumah. Itu saja. Kalau nanti kamu hamil, kamu bebas memutuskan ingin berhenti atau lanjut bekerja."
Anggun tertunduk. Dia sedikit merasa asing dengan satu kata itu, yaitu hamil. Pernikahannya dengan Firhan kandas karena Anggun tak kunjung hamil. Ternyata Jihan sengaja memberikan obat penunda kehamilan agar sahabatnya tidak hamil.
"Nggun, kenapa menunduk? Apa kamu belum siap untuk hamil?"
Anggun menggeleng. "Aku sebenarnya sangat siap, Zayn. Hanya saja aku merasa ragu. Apakah aku masih bisa memiliki anak setelah apa yang dilakukan sahabatku kala itu?"
Zayn memang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia mencoba untuk memahami istrinya dengan menjadi pendengar yang baik.
"Memangnya apa yang terjadi? Banyak hal yang belum aku ketahui soal ini."
Anggun menceritakan bagaimana jahatnya Jihan yang memberikan obat penunda kehamilan berkedok vitamin. Rasanya sakit melebihi kehilangan apa pun.
"Jangan khawatir. Harusnya kamu lebih banyak bersyukur karena Allah memberikan cobaan seperti itu. Coba kamu bayangkan, seandainya kamu hamil lalu memiliki anak dari mantan suamimu itu. Apa tidak semakin rumit? Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita, kembalikan lagi sama Allah. Nanti aku akan bantu konsultasi dengan dokter kandungan. Kamu jangan khawatir, Nggun," jelas Zayn.
Adem dan teduh sekali pembawaannya. Sungguh, Anggun harus lebih bersyukur lagi karena mendapatkan pria yang memiliki paket komplit. Dia bahkan mau menjadi pendengar yang baik dan sangat berwibawa.
__ADS_1