ANGGUN

ANGGUN
Bab 11. Dari Wajah


__ADS_3

Rumah tipe 36 dengan dua lantai yang dibeli Firhan. Untuk keluarga baru seperti mereka yang belum memiliki anak memang terlalu luas. Namun, jika keluarga datang berkunjung, mereka tidak akan kesulitan lagi untuk memberikan tempat istirahat yang nyaman.


"Mas, apa ini tidak terlalu besar untuk kita tinggali?" tanya Anggun saat keduanya memasuki ruang tamu.


Ya, rumah itu sudah dilengkapi garansi sehingga Firhan tidak sulit untuk memarkir mobil seperti di kostnya terdahulu.


"Cukup, Nggun. Belum nanti kalau bapak dan ibu datang. Apa kamu nggak pengen mereka menginap di sini?"


Anggun manggut-manggut. Harusnya dia lebih banyak bersyukur karena suaminya sudah menyediakan tempat tinggal yang layak. Tinggal bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan momongan di sela kesibukan mereka.


"Mas, kapan kita buat syukuran kecil-kecilan? Ya setidaknya kamu bisa mengundang beberapa teman kerja. Aku pun demikian. Bagaimana?"


Rata-rata teman kerja Anggun adalah laki-laki. Firhan sama sekali tidak khawatir karena Anggun tipikal wanita yang baik.


"Terserah kamu saja. Mumpung mas belum ada proyek ke luar kota. Jadi, kamu bisa adakan kapan pun kamu mau."


Anggun mencoba memikirkan rencananya, tetapi Firhan keburu mengajak Anggun untuk berkeliling di rumah barunya.


"Sayang, pikirkan itu lagi nanti. Ayo, kita lihat-lihat dulu rumahnya!"


Rumah dengan 3 kamar tidur. Dua berada di lantai atas dan satu di lantai bawah. Tidak memiliki kolam renang, tetapi di bagian belakang rumah sengaja disiapkan tempat untuk berkebun. Ya, walaupun tidak begitu luas. Dapur pun di buat di ruangan terbuka sehingga Anggun akan merasa nyaman tinggal di rumah ini.


"Suka?" tanya Firhan saat keduanya berada di kamar lantai atas.


"Bagus, Mas."


Tiba-tiba Firhan menarik Anggun ke dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma dari tubuh istrinya. Seakan sudah menjadi candu baginya. Firhan tidak akan bisa mendapatkan wanita sebaik Anggun.


"Mas, kamu kenapa?"


"Aku rindu, Nggun. Kebayang kan saat aku pergi ke luar kota. Aku memang belum menjadi suamimu, tetapi aku merasa ingin sekali memelukmu seperti ini."


Rasa cintanya yang begitu dalam membuat Firhan semakin menggila. Tidak hanya mengungkapkannya secara lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Sungguh, tidak ada wanita yang paling beruntung di dunia ini, kecuali Anggun.


"Mas akan memelukku setiap hari. Tidak masalah, kan? Sekarang kita sudah bersama. Semoga pernikahan kita langgeng sampai maut memisahkan."


"Aamiin," jawab Firhan.

__ADS_1


Setelah bermesraan sejenak, Anggun baru ingat jika semua barang-barangnya belum mereka turunkan. Anggun meminta suaminya untuk membawa barang-barang itu masuk ke dalam. Dia yang akan menyusunnya.


Seminggu setelah itu, Anggun memboyong kedua orang tuanya. Rencana untuk membuat syukuran kecil-kecilan tanpa mereka tidak akan lengkap. Sementara orang tua Firhan yang rumahnya memang sangat jauh hanya bisa memberikan doa restu saja.


Anggun berada di rumah sedang menyiapkan segalanya. Dia berbelanja bahan makanan. Mulai dari beras, sayuran, buah, daging, dan beberapa kebutuhan lainnya. Itu dilakukan Anggun dengan menggunakan motor yang sudah diambil dari kostannya.


Sementara tugas Firhan adalah menjemput mertuanya. Semula Maryamah ingin naik bus bersama suaminya, tetapi Anggun dan Firhan tidak setuju. Mengingat kondisi ibunya yang memiliki riwayat darah tinggi.


"Akhirnya sampai juga," ucap Firhan kepada mertuanya.


Maryamah dan Gian turut bahagia dengan rumah yang ditempati Anggun. Kalau di desa, ini sudah sangat mewah sekali.


"Bapak dan Ibu masuk saja dulu. Anggun pasti sudah di rumah. Aku yang akan membawakan barang-barangnya."


Gian sebagai bapak mertua tentu tidak akan membiarkan anak mantunya bekerja sendiri. Dia meminta Maryamah masuk lebih dulu. Sementara dia akan membantu Firhan membawa beberapa tas dan buah pisang yang sengaja dibawa dari kampung.


"Nduk!" seru Maryamah saat tidak menemukan keberadaan putrinya. Wajar kalau masih suka kesasar dengan rumah baru milik anaknya.


"Ibu? Alhamdulillah sudah sampai dengan selamat. Bagaimana perjalanannya? Oh, ya ampun, Ibu. Ucapkan salam dulu biar lega," pinta Anggun.


"Assalamualaikum, Nduk," ucap Maryamah dengan perasaan bahagia.


Maryamah tampak kikuk karena sedang memperhatikan sekelilingnya. Rumah berlantai dua itu membuatnya tidak mampu berkata apa pun lagi selain ucapan syukur yang tiada terkira.


"Eh, lancar, Nggun. Ini pertama kalinya Ibu naik mobil mantu," canda Maryamah. Padahal waktu Anggun menikah, Maryamah sudah berulang kali naik mobil itu.


Anggun mengajak ibunya berkeliling sebentar. Sementara suaminya membawa bapaknya untuk duduk-duduk di teras sambil menikmati udara segar perkotaan yang sebenarnya cukup panas.


"Jadi, ini rumah pemberian suamimu?"


"Iya, Bu. Hadiah pernikahan kami katanya. Ibu suka?"


Tentu saja sangat suka. Kamarnya juga banyak. Bayangan Maryamah tertuju pada beberapa cucunya nanti yang akan melengkapi kebahagiaan rumah ini.


"Bu, kenapa diam?"


Maryamah malah memeluk putrinya. "Ibu doakan pernikahanmu selalu bahagia, Nduk. Firhan pria yang baik. Ibu tidak menyangka kamu akan mendapatkan suami sebaik dirinya."

__ADS_1


Anggun pun berkaca-kaca. Mungkin karena kebaikan orang tuanya di masa lampau sehingga membawa Anggun kepada kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan seperti ini.


"Sudah, Ibu jangan bersedih lagi. Mau bantu Anggun di dapur?"


Malam ini rencananya beberapa teman Firhan dan Anggun akan datang. Anggun juga mengabari Jihan untuk datang lebih awal. Dia ingin agar sahabatnya itu membantu sepulang dari tempatnya bekerja.


Sore hari, Anggun dan Maryamah sibuk di dapur. Sementara Gian, sesekali ikutan di sana karena Firhan sedang beristirahat di kamarnya.


Orang tua Anggun akan tidur di kamar bawah, sementara Anggun dan suaminya sudah lama menempati kamar atas. Sesekali mereka tinggal di kamar bawah saat ingin menonton film bersama.


Sementara di tempat lain, Jihan baru saja keluar dari mal. Dia mampir sejenak ke toko roti. Niatnya mau pulang ke kostnya lebih dahulu, tetapi akan sangat terlambat jika harus memutar arah lebih dulu.


Jihan memutuskan untuk langsung datang ke tempat Anggun tanpa persiapan apa pun. Dia hanya menenteng kue dan beberapa makanan ringan yang sengaja dibelinya.


"Jihan! Ayo, masuk!" perintah Anggun saat membuka pintu ruang tamu.


Anggun tahu kedatangan Jihan karena bel rumahnya berbunyi. Makanya dia buru-buru ke depan.


"Apa ini? Nggak perlu repot-repot seperti ini, Jihan. Kamu datang saja aku sudah senang," ucap Anggun sambil menerima bungkusan yang diberikan Jihan padanya.


"Hanya sedikit kue, Nggun. Maaf, aku terburu-buru hingga tidak sempat ganti pakaian. Dari tempat kerja, aku langsung ke sini."


"Tidak apa-apa, Jihan. Kamu bisa pakai bajuku nanti. Tidak masalah, kan?" Anggun memang sangat baik dengan siapa pun.


Saat Jihan memasuki dapur, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan ibunya Anggun. Tatapannya terlihat tidak suka saat Jihan baru saja meletakkan tasnya lalu berniat untuk membantu.


"Ibu, perkenalkan ini Jihan. Sahabat dekat Anggun," ucap Anggun memperkenalkan Jihan.


Maryamah tidak menjawab. Dia merasa ada sesuatu yang tidak disukai dari sosok Jihan sehingga Maryamah memutuskan menarik Anggun masuk ke kamarnya.


"Ibu, ada apa? Kenapa Ibu diam?" Anggun merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.


"Apa suamimu kenal dengan temanmu itu?"


"Iya, Bu. Mas Firhan dan Jihan saling kenal. Kenapa, Bu?"


"Tolong jangan biarkan suamimu dekat dengannya. Atau, kalau bisa kalian menjauh saja darinya. Maaf, ya, Nggun. Ibu tidak suka melihat wajahnya," jelas Maryamah.

__ADS_1


Ibunya ini aneh. Hanya dari wajah saja dia langsung tidak suka pada sahabatnya. Daripada berbuntut panjang, akhirnya Anggun pun mengiyakan permintaan ibunya.


__ADS_2