
Anggun, cinta tidak akan pernah berakhir. Sekuat apa pun Witha memohon dan meminta, sepertinya tidak ada kesempatan lagi untuk kembali.
Setelah hari itu, Anggun tidak mau bertemu lagi dengan Witha. Alasan memang klise. Jauh di dalam lubuk hatinya, masih tersisa sedikit cinta.
"Kenapa melamun? Jadi resign dari tempat kerjanya?" tanya Zayn.
Selama menjalani program kehamilan, Zayn membebaskan istrinya untuk menentukan pilihan. Anggun memang menginginkan anak, itulah mengapa dia akhirnya memutuskan untuk resign dan fokus pada dirinya dan suami.
"Jadi, Zayn. Aku sudah mengatakannya. Tinggal membawa surat resign-nya lalu pamit."
"Hemm, baguslah. Setelah sarapan, aku akan pergi ke rumah sakit. Kamu mau bareng aku atau mau naik taksi saja?"
"Naik taksi saja. Zayn, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Soal apa?"
"Bapak. Maksudku, apakah boleh bapak kita boyong ke rumah ini. Aku pasti merasa kesepian saat kamu bekerja. Kalau kamu pulang malam pun, aku masih punya teman di rumah."
"Boleh, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan. Kita jemput bapak setelah aku pulang kerja atau tunggu aku libur. Biar kamu nggak capek. Ya udah, aku berangkat dulu, ya," pamit Zayn.
Anggun mencium punggung tangan suaminya. Sementara Zayn memberikan kecupan di kening.
"Jaga diri baik-baik. Kalau sudah kembali dari klinik, jangan lupa kabari aku," ujar Zayn mengingatkan.
Hari ini Anggun sangat senang sekali. Setelah urusannya dari klinik selesai, dia berniat pergi ke pusat perbelanjaan. Sekadar hanya untuk mengisi kebutuhan dapur saja. Dia juga tidak lupa mengirimkan pesan pada suaminya supaya tidak khawatir.
"Zayn, aku pergi ke supermarket dulu. Kalau kamu ingin sesuatu, balas pesan ini." Bunyi pesan yang dikirimkan Anggun pada suaminya.
Tidak lama, ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
"Tidak perlu, Sayang. Semua yang kamu beli sudah mewakili kebutuhan harianku."
Ya, Zayn merupakan sosok yang romantis. Sementara Anggun sendiri masih kikuk untuk mengutarakan panggilan sayangnya pada sang suami. Namun, Zayn tidak pernah protes. Justru kehidupan mereka jauh seperti teman dekat ketimbang suami istri.
Saat mengambil troli, tanpa sengaja seorang ibu mengomel padanya lantaran Anggun dan ibu itu berniat mengambil troli yang sama.
"Heh, masih banyak troli yang lainnya. Mengapa merebut punyaku?" geram ibu itu.
__ADS_1
"Maaf, Bu, saya nggak tahu jika Anda mau mengambilnya lebih dulu. Kalau begitu, saya akan ambil troli yang lainnya saja," ujar Anggun dengan sopan.
"Mama? Ada apa?" tanya seorang pria yang suaranya tidak asing di telinga Anggun.
"Wanita itu mau rebut troli yang akan mama ambil," ujarnya.
Ya, pria itu adalah Witha. Dia sengaja pergi berlibur ke daerah dekat tempat tinggal Anggun. Bukannya sengaja untuk bertemu dengan Anggun, tetapi memang sedang berlibur dengan mamanya saja.
Witha menoleh ke arah Anggun dan matanya sempat beradu sejenak.
"Apakah wanita yang Mama maksud adalah wanita ini?" Witha menunjuk Anggun.
"Iya. Memangnya kamu kenal?"
"Dia ini adalah Anggun, Ma. Mama kan yang bikin Witha nggak bisa lanjutin hubungan dengannya."
Martha meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kalau dibandingkan dengan Kaluna, Anggun terlihat jauh lebih dewasa dan berkelas.
Martha sempat meremehkan Anggun karena dia berasal dari kampung. Namun, saat bertemu langsung, Martha tampak terlihat berubah sikap yang tadinya seperti tidak suka, ternyata mulai menunjukkan senyumannya.
"Oh, mama minta maaf. Mama nggak tahu. Maaf, ya," ujar Martha.
Anggun maju mengambil troli yang lain. Dia berniat untuk segera menuju ke rak di mana beberapa daging dan ikan diletakkan.
"Tunggu, Anggun! Bagaimana kalau kita belanja bareng?" Martha mencoba menawarkan.
"Maaf, Tante. Saya nggak bisa," tolak Anggun. Bukannya tidak mau, tetapi dia harus pulang lebih awal karena sudah mengirim pesan pada Zayn untuk tidak terlambat pulang ke rumah.
"Kenapa ditolak? Apa kamu masih kesal sama saya?" Martha langsung ke intinya.
"Ma, biarkan saja dia pergi," bisik Witha pada mamanya.
"Maaf, Tante. Anda salah paham. Saya harus segera berbelanja kebutuhan harian. Setelah itu saya harus pulang karena suami saya akan segera pulang. Jadi, nggak ada waktu untuk menemani Tante. Maaf, ya."
Martha tentunya terkejut. Anggun sudah bersuami. Jadi, selama ini apa yang dikatakan Witha memang tidak bohong. Anggun adalah spek wanita yang digilai banyak pria. Pertama Witha. Lalu, beberapa mantan suaminya.
"Sombong sekali kamu. Memangnya suamimu itu seperti apa, sih? Aku mengajakmu dengan cara baik-baik, tapi kamu menolaknya." Martha meradang.
__ADS_1
"Ma, tolong jangan buat keributan. Biarkan Anggun pergi, Ma. Kumohon," pinta Witha.
"Maaf, Tante. Apa pun kondisi suami saya, saya juga nggak perlu ngumbar atau memperkenalkannya di hadapan Tante. Apalagi itu sudah bukan merupakan urusan Tante lagi. Permisi."
"Tunggu! Kamu akan menyesalinya karena menolak saya. Padahal saya berniat untuk berkenalan denganmu lebih dekat lagi," ujar Martha.
Anggun berhenti. Rupanya Martha tidak akan berhenti mengejarnya sampai Anggun memilih kata sepakat. Anggun kembali, tentunya bukan untuk menyetujui permintaan Martha melainkan untuk menjelaskan semuanya.
"Maaf, Tante. Saya tidak mau membuat keributan di sini. Suami saya seorang dokter. Jadi, kalau Tante menghalangi niat saya untuk pergi dari sini, saya minta maaf. Waktu saya sangat berharga untuk mengurus kehidupan suami saya. Maaf," ujar Anggun kemudian pergi menuju tempat sayuran.
"Mama udah bikin aku malu di hadapan Anggun. Seharusnya kita langsung belanja saja."
Martha masih diam. Dia merasa bersalah karena tidak mendengarkan permintaan putranya. Anggun adalah wanita yang cantik, dewasa, dan cukup pantas bila disandingkan dengan putranya.
Sejak awal Martha memang tidak ingin tahu siapa Anggun sebenarnya. Terlebih Witha menceritakan kalau Anggun adalah wanita dari kampung yang berhasil mengusik hatinya hingga mereka menjalin hubungan.
Anggun yang sedang belanja, sesegera mungkin menyelesaikan urusannya. Dia tidak mau lagi bertemu dengan Witha ataupun mamanya. Setelah mendapatkan semua barang belanjaannya, Anggun segera ke kasir untuk membayar.
Tidak lama, Anggun keluar dari supermarket tersebut kemudian menunggu taksi online yang sudah dipesannya. Ternyata sampai rumah, Zayn sudah berada di sana.
"Zayn, kamu sudah pulang?"
"Iya, aku baru saja sampai. Kenapa? Kelihatan panik banget gitu?"
"Aku barusan bertemu mamanya Witha di supermarket. Dia udah bikin aku nggak nyaman banget hari ini."
"Kenapa begitu? Apa kalian baru bertemu?"
Anggun berjalan menuju ke dapur diikuti suaminya.
"Iya, Zayn. Kami memang baru bertemu. Awalnya dia kelihatan tidak senang begitu sama aku karena kami mau ambil troli yang sama. Namun, saat Witha mengatakan kalau itu aku, dia terlihat berubah seolah baik-baikin aku, Zayn."
"Mungkin dia nyesel baru ketemu kamu sekarang. Setelah tahu kamu cantik, dia berubah pikiran mau jadiin kamu mantunya," canda Zayn.
"Zayn! Aku nggak mau ya kamu bahas itu terus," tegur Anggun.
Mana mungkin Anggun mau sama orang yang sudah menyakitinya berulang kali?
__ADS_1