ANGGUN

ANGGUN
Bab 43. Kebohongan Zayn


__ADS_3

Anggun dan Zayn hadir di dalam pernikahan Bagaskara dan Kaluna. Ini merupakan pesta termegah daripada pernikahannya sendiri.


Banyak foto prewedding yang dipajang di depan pintu masuk ballroom. Terlihat sekali kalau Bagaskara sangat mencintai Kaluna. Sorot matanya sudah menggambarkan semua itu.


"Sayang, sepertinya kita datang paling awal," ujar Zayn yang sedari tadi terus menggenggam erat tangan istrinya.


"Sepertinya begitu. Belum terlalu banyak yang datang. Paling juga sebentar lagi," ujar Anggun.


"Kamu nggak pingin ngadain wedding party? Kalau pingin, bilang aja. Aku bisa urus dengan beberapa wedding organizer, kok."


"Nggak perlu, Mas. Aku begini sudah cukup bahagia."


Dari jauh, Firhan datang bersama Jihan. Terlihat lebih berisi dari biasanya. Anggun memang sudah menganggap tutup pertemanan dengan Jihan. Setidaknya dia ingin menjauhinya supaya hal yang sama tidak terulang lagi.


Rupanya mereka malah menghampiri Anggun karena Firhan masih menjalin hubungan baik dengan mantan istrinya.


"Assalamualaikum, Nggun," sapa Firhan.


"Waalaikumsalam, Mas Firhan. Apa kabar?" balas Anggun.


"Baik. Oh ya, pak Bagaskara juga mengundang kamu?" Firhan hanya ingin tahu.


"Iya, Mas. Oh ya, perkenalkan ini suamiku, Mas Zayn. Mas, ini Mas Firhan," ujar Anggun.


"Zayn."


"Firhan."


Keduanya berjabat tangan.


"Itu istrinya, Mas?" tanya Zayn yang melihat sosok wanita seakan tidak peduli dengan kejadian barusan.


"Iya, ini istriku. Namanya Jihan. Anggun juga kenal, kok," ujar Firhan.


"Iyakah, Sayang?"


Sebenarnya Anggun tidak terlalu suka berinteraksi dengan Jihan. Di dalam pikirannya selalu saja dipenuhi sifat iri dan dengki.


"Iya, Mas. Dulu. Oh ya, lebih baik kita ke sana. Sepertinya Kaluna akan segera datang," ujar Anggun mengalihkan pembicaraan.


Zayn tidak bisa menolak keinginan sang istri. Sementara Jihan tampak terlihat kesal sehingga Firhan menegurnya.


"Kenapa? Mau tukar tambah suami? Kelihatan nggak seneng lihat temen bahagia," ujar Firhan.


"Ish, nggak gitu, Mas. Anggun sombong amat gak mau bicara sama aku."

__ADS_1


Mungkin Jihan lupa. Dia harus mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Bagaimana dia menjebak Firhan, membuat Anggun krisis kepercayaan, dan dia hampir depresi karena kehilangan segalanya. Namun, Anggun masih bisa survive hingga detik ini berkat kesabaran dan keteguhannya untuk bangkit.


Sepertinya hari ini bukan saja sebagai acara pernikahan Kaluna saja, tetapi sebagai ajang reuni untuk Anggun dan para mantannya.


Witha pun datang seorang diri. Sudah lama dia tidak mengetahui kabar Anggun karena mamanya terus mencegah agar tidak bertemu dengannya. Saat melihat keberadaan Anggun di pesta pernikahan mantan istrinya, Witha merasa kebahagiaan kembali lagi.


"Anggun," sapa Witha.


"Hai, apa kabar?" tanya Anggun dengan wajah yang sangat cerah.


Witha melihat sosok pria yang ditemuinya di pemakaman ibunya Anggun kala itu. Setelah bercerai dari Kaluna, Witha terus sibuk bekerja. Apalagi larangan mamanya untuk menemui Anggun dan tidak akan pernah merestuinya.


"Aku baik. Kamu datang juga. Kupikir tidak akan menjadi bagian dari pernikahan ini. Siapa yang mengundangmu? Bukannya hubunganmu dengan Kalina sedang tidak baik?"


"Mereka sudah minta maaf padaku. Suamiku lah yang berjasa atas hubungan kami yang membaik."


Witha terkejut. Dia pikir Anggun akan menyerah setelah menjanda sebanyak 2 kali. Ternyata dia menikah lagi. Bahkan pernikahannya tidak diketahui oleh Witha. Atau mungkin hanya Kaluna yang tahu?


"Senang bertemu dengan Anda," ucap Zayn.


"Witha."


"Zayn."


Mereka saling berjabat tangan. Tidak lama, pasangan pengantin akhirnya memasuki ballroom. Kaluna terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang menjuntai panjang. Dia terlihat begitu bahagia dengan menggandeng mesra tangan suaminya.


Jalan kehidupannya sudah kacau. Terlebih saat Kaluna malah memilih menikah dengan pria lain, sedangkan Anggun sudah menikah kembali. Mengapa Witha selalu kehilangan kesempatan untuk menikah dengan orang yang sangat dicintainya?


Saat diberikan kesempatan untuk mengucap selamat pada sepasang pengantin, Zayn dan Anggun memilih maju lebih dulu.


"Selamat ya, Kaluna. Kamu terlihat sangat bahagia sekali," ucap Anggun.


"Terima kasih, Nggun." Kaluna melihat cincin indah di jari manis Anggun. "Apakah dia pria beruntung itu?"


"Apa maksudmu?" tanya Anggun tidak mengerti.


"Apakah kalian sudah menikah?" tanya Kaluna.


"Alhamdulillah, kami baru saja menikah. Semoga kalian selalu dilimpahkan banyak kebahagiaan. Saling mendoakan dan selalu berteman baik," ujar Anggun sebelum turun dari pelaminan.


"Terima kasih. Doa terbaik untukmu juga," balas Kaluna.


Anggun bergeser ke hadapan Bagaskara. Dia pun mengucapkan selamat. Namun, yang membuatnya tertarik adalah interaksi antara Kaluna dan Zayn.


"Selamat atas pernikahan kalian? Mengapa tidak mengundang kami?" tanya Kaluna.

__ADS_1


"Kami menikah secara sederhana. Tidak ada perayaan atau pesta. Itu semua karena permintaan Anggun," jawab Zayn.


"Bagaimanapun caranya, aku doakan semoga kalian bahagia. Jangan lupa jaga selalu Anggun."


"Aamiin. Terima kasih. Tentu saja."


Mereka pun akhirnya turun. Zayn segera mengajak Anggun segera makan lalu meninggalkan ballroom untuk urusan lain.


"Sayang, makan dulu, yuk," ajak Zayn.


"Kamu sudah lapar, Zayn?"


"Sangat," ujar Zayn.


"Hemm, baiklah."


"Ambilkan siomay, ya. Kelihatannya enak," ujar Zayn.


Selera makan keduanya ternyata sama untuk hari ini. Dua piring siomay dengan kelengkapannya diberikan Anggun pada suaminya.


"Kita ambil duduk si sana, Zayn," ujar Anggun sambil menunjuk satu tempat yang kebetulan masih kosong.


Baru saja mendaratkan tubuhnya di sana, Jihan bergabung duduk di hadapan Zayn.


"Ah, maaf. Aku nggak tahu kalau kalian akan duduk di sini. Maklum, bumil gampang sekali lelah," ujar Jihan seolah memamerkan kalau dia sedang hamil.


Anggun berniat untuk berdiri, tetapi dicegah oleh Zayn. Dia tahu betul kalau istrinya menghindari Jihan. Namun, Zayn tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Bila dia ingin membuat Anggun sedih, maka orang pertama yang akan menjadi perisainya adalah Zayn.


"Maaf, sesama bumil harusnya bisa saling mengerti. Istriku juga sedang hamil," ujar Zayn sehingga membuat Anggun dan Jihan terkejut.


"Benarkah?" tanya Jihan seolah tidak percaya.


"Zayn, lebih baik kita pergi sekarang," ajak Anggun.


"Di sini saja. Bumil nggak pantes berdiri," tolak Zayn.


Sebenarnya ada perasaan suka karena Zayn mencoba membelanya, tetapi Anggun tidak bisa terima karena suaminya berbohong. Walaupun untuk membalas Jihan, bukan cara itu yang diinginkan.


"Zayn," ujar Anggun pelan seolah memberikan kode bahwa jangan pernah teruskan lagi mengatakan tentang kehamilan. Anggun akan semakin sedih karena dia sedang berjuang.


"Lanjutkan makanmu, Sayang. Setelah itu kita pulang. Kamu harus istirahat."


"Wah, selamat, Nggun. Akhirnya kamu hamil juga. Memang mas Firhan nggak berjodoh sama kamu. Buktinya kamu dan suamimu bisa hamil sekarang. Aku ikut senang atas kabar bahagia ini," ujar Jihan berbohong.


Jihan sangat cemburu dengan Anggun yang berhasil mendapatkan pria setampan Zayn. Dia seperti sosok blasteran produk lokal dan tambahan impor. Terlihat dari rahang kokohnya yang terdapat bulu-bulu halus di sana. Jelas sekali kan kalau dia merupakan perpaduan produk dalam negeri dan luar negeri.

__ADS_1



__ADS_2