ANGGUN

ANGGUN
Bab 50. Karena Mama


__ADS_3

Hari menjelang malam, Zayn mempersilakan mereka untuk beristirahat di kamar tamu. Beberapa dari mereka ada yang memilih duduk di ruang tengah, yaitu para pria. Sementara Kaluna tidak mau istirahat bersama mantan mama mertuanya maupun Jihan.


Akhirnya Anggun membawa Kaluna ke kamar lain dan berbincang di sana. Sementara Kaluna sedang berada di atas ranjang, Anggun duduk di sebelahnya.


"Kenapa kamu nggak mau bersama mamanya Witha? Bukannya kalian dulu sangat akrab sekali?" tanya Anggun.


Walaupun dulu Anggun datang ke pernikahan Witha, tetapi mamanya Witha memang tidak peduli dan tidak mau tahu kalau anaknya suka dengan wanita dari kampung. Itulah mengapa pertemuan pertamanya dengan Anggun terkesan sangat tidak nyaman saat di supermarket kala itu.


"Sejak aku memutuskan bercerai dan memilih mas Bagas, sebenarnya mantan mama mertuaku itu nggak setuju kami bercerai. Kalau dengan Jihan, kami sempat ribut di rumah sakit. Mulutnya memang benar-benar seperti ular. Suka-suka saja tuh ngatain orang. Oh ya, bagaimana cara siluman ular itu merebut suamimu saat itu?" tanya Kaluna penasaran karena kesal.


Anggun menggeleng. Sejujurnya dia tidak sanggup menceritakan bagaimana liciknya sang sahabat di kala itu. Setelah Zayn seringkali mengatakan padanya untuk melupakan masa lalu dan tidak menceritakannya pada sembarang orang, Anggun lebih banyak mengunci kisah kelam hidupnya.


"Gak perlulah diingat masa itu. Aku sudah bahagia dengan mas Zayn. Kurasa dengan membuka luka lama akan mengingatkan aku pada kesedihan saja. Lagian aku sudah move on."


"Maaf, ya," ujar Kaluna.


"Nggak apa-apa, Lun. Lagian itu udah kuanggap tutup buku. Gak perlulah dibuka lagi. Oh ya, apa kamu mau mandi dulu? Semuanya akan disiapkan bibi, ya."


"Terima kasih, Nggun. Kamu memang wanita yang baik. Nggak salah kalau mas Witha masih menyukaimu hingga saat ini. Kurasa mantan suamimu juga masih peduli sama kamu."


"Aku manusia biasa, Luna. Sama saja seperti kamu. Oh ya, aku keluar dulu ya."


Sebagai tuan rumah, Anggun harus menyiapkan jamuan makan malam. Walaupun bukan dia, tetapi bibi yang akan menyiapkan semuanya.


"Bi, apa makanannya sudah siap?" tanya Anggun.


"Sudah, Bu. Tinggal siapkan minumannya saja. Pak Zayn minta dibuatkan kopi dan air jahe panas, Bu."


"Ya sudah, buatkan saja, Bi. Saya mau lihat mas Zayn dulu."

__ADS_1


Tempat ternyaman bagi Zayn adalah kamar. Di sana dia bisa mengekspresikan segala sesuatu yang dirasakan saat ini. Benar saja saat Anggun masuk, suaminya sedang merebahkan diri di sana.


"Zayn, kamu nggak menemani tamu?" tanya Anggun.


"Biarkan mereka istirahat dulu. Oh ya, apakah bibi sudah menyiapkan apa yang aku minta? Mungkin kamu tadi sempat bertemu."


"Sudah. Sedikit lagi selesai. Oh ya, mereka tidak akan menginap di sini, kan?"


"Nggak. Kenapa?"


"Syukurlah, Zayn. Aku nggak nyaman aja kalau ada mamanya Witha. Tatapannya tetap mengejek. Beruntung sih aku nggak jadi menantunya. Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai istrimu."


"Sini, Sayang. Kenapa harus berterima kasih? Cinta tidak memandang terima kasih. Justru aku sangat bersyukur saat aku kembali, kamu sudah sendiri lagi. Jadi, aku nggak perlu jadi pebinor, kan?" canda Zayn.


"Zayn, jangan bicara seperti itu. Aku trauma dengan kata-kata pebinor atau pelakor. Aku dan mas Firhan bercerai karena orang ketiga. Kamu juga sudah tahu kan siapa orangnya."


"Jihan, kan? Udah kelihatan, Sayang. Tatapannya memang menggoda seperti itu. Wajar kalau mantan suamimu kepincut dengannya."


Zayn memang sengaja menggodanya. Namun, siapa sangka mood bumil yang satu ini berubah begitu cepat. Dia pun harus maju menenangkan istrinya supaya tidak ngambek.


"Maaf, aku hanya bercanda, Sayang. Bagiku, kamu adalah yang terbaik. Ayo, siap-siap. Sebentar lagi makan malam siap."


Bibi sudah memanggil. Semua orang berkumpul di meja makan. Beruntung meja makan di rumah Zayn mampu menampung lebih dari 8 orang. Jadi, mereka tidak perlu berdesakan.


"Silakan dicicipi masakan Bibi. Semoga sesuai dengan lidah kalian dan tidak mengecewakan. Iya kan, Bi?" ujar Zayn memecah keheningan.


Mereka semua hanya saling tatap tanpa mau berucap. Sesungguhnya Zayn mampu merasakan bahwa cinta yang dimiliki mantan suami Anggun dan juga mantan kekasihnya di masa lalu masih terlihat jelas. Namun, di sini Zayn lah pemenangnya.


"Terima kasih, Dokter. Jamuan ini sungguh luar biasa," ujar Jihan memuji.

__ADS_1


Bagaskara dan Kaluna sudah bisa memprediksi kalau Jihan kali ini seperti orang yang iri. Namun, Kaluna tidak mau menanggapi. Jika ingat kelakuan Jihan di rumah sakit, Kaluna rasanya ingin menonjoknya hingga babak belur.


"Terima kasih," jawab Zayn singkat.


Mereka pun makan dengan lahap. Setelah makan malam, mereka rencananya langsung kembali ke kota karena esok hari mereka sudah memulai kesibukan masing-masing.


Anggun sebenarnya berharap kalau Kaluna bisa tinggal sebentar di rumahnya walaupun hanya semalam. Namun, Bagaskara tidak bisa karena besok pagi ada meeting penting dan tidak bisa dibatalkan.


"Maaf sekali, Anggun. Jika besok tidak ada meeting, kami akan tinggal semalam di sini. Oh, atau lain kali kami akan datang ke sini lagi untuk berkunjung," ujar Bagaskara.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang ke gubuk kami," ujar Anggun.


"Ck, sengaja merendah untuk pamer," cibir Martha yang sejak tadi sudah menahan kekesalannya. Kalau tahu begini, dia juga tidak akan mau ikutan ke rumah Anggun.


"Mama, jangan bicara seperti itu," tegur Witha.


"Ya kenyataannya begitu, kan? Tahu begini, mama nyesel ikut kamu."


"Maaf, Bu. Tidak ada salahnya ikut melayat. Bila Ibu merasa keberatan, memang sejak awal lebih baik tidak ikut kalau cuma niatnya untuk membuat tuan rumah merasa kecewa. Padahal mereka menerima kita dengan baik dan menjamu dengan sangat luar biasa," sahut Firhan.


Firhan diam bukan berarti tidak peduli. Justru karena dia tahu kalau Anggun mampu bersikap baik kepada siapa pun. Bahkan dia juga tidak mengusir Jihan karena masa lalu mereka. Lalu apalagi?


"Mas, kamu kok belain Anggun, sih?" tegur Jihan terlihat tidak suka.


"Bagaimanapun Anggun sudah menerima kita dengan baik, Jihan. Lebih baik kamu bersikap sewajarnya daripada mempermalukan dirimu sendiri," ujar Firhan pelan.


"Pak Zayn, terima kasih sudah menerima kami dengan baik. Bila ada waktu longgar, jangan lupa ke kota untuk menemui kami," ujar Witha.


"Tentu, Pak Witha. Nanti aku dan Anggun akan mencari waktu luang. Namun, tidak dalam waktu dekat ini. Apalagi ini adalah kehamilan pertama Anggun yang baru memasuki trimester pertama. Doakan kehamilannya lancar agar kami bisa datang ke kota. Mungkin trimester kedua akan kami usahakan," jelas Zayn. Dia merasa tidak enak menolak undangan Witha.

__ADS_1


Mendengar penuturan Zayn, Witha merasa nyeri sekali di hatinya. Dia harus menahan rasa cemburunya karena tidak bisa memiliki Anggun. Ini semua dikarenakan mamanya yang sama sekali tidak mau mendengarkan atau peduli pada perasaannya.



__ADS_2