
Dua bulan kemudian, Anggun tanpa memberitahukan ke siapa pun bahwa hari ini adalah pernikahannya. Mereka melangsungkan pernikahan secara sederhana di KUA yang tidak jauh dari tempat tinggal Anggun.
Firhan sangat mencintai Anggun sehingga dia pun memberikan mahar yang lumayan besar untuk ukuran pria kota sepertinya. Mahar yang diberikan berupa uang satu juta rupiah dan kalung seberat 15 gram. Ini merupakan jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran wanita desa seperti Anggun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anggun Maharani binti Gian Raharja dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
Satu tarikan napas, Firhan mampu menyelesaikan kabulnya dengan cukup baik. Kini keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Anggun menyalami suaminya kemudian Firhan memberikan kecupan pertama di kening wanitanya.
"Alhamdulillah, terima kasih, Nggun. Aku tidak menyangka kalau kita akan secepat ini menikah."
Anggun juga terlihat bahagia. Pasalnya, Firhan sudah resign dari pekerjaannya. Dia langsung mendapat pekerjaan di tempat lain. Sesuai dengan apa yang diinginkan. Hanya saja Firhan tidak lagi bekerja di perusahaan Packaging industri, melainkan yang bergerak di bidang konstruksi.
"Terima kasih, Mas Firhan. Anggun juga tidak menyangka kalau takdir menyatukan kita."
Orang tua Anggun turut bahagia atas pernikahannya. Seperti permintaan Anggun, di rumah tidak diadakan pesta. Hanya saja Maryamah membuatkan tumpeng sebagai rasa syukur karena putrinya menemukan jodoh.
Sesampainya di rumah, untuk pertama kali Firhan masuk ke kamar Anggun. Kamar yang berukuran 4x4 itu cukup besar untuk ukuran kamar pada umumnya.
"Mas mau rebahan dulu atau mau langsung mandi? Pasti gerah setelah pulang dari KUA," ucap Anggun yang sudah tidak canggung lagi.
"Kenapa, Nggun? Apa kamu mau memerintah saya untuk mengurus proyek di luar kota?" canda Firhan.
Satu bulan sebelum mereka menikah, perusahaan tempat Firhan bekerja memintanya untuk mengurus proyek di luar kota. Selama itu Anggun hanya bisa melakukan komunikasi jarak jauh. Sesekali keduanya melakukan video call yang berakhir Anggun harus menutup panggilan itu lebih dulu.
"Mas!" Anggun baru bisa manja hanya dengan Firhan yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya.
"Sini, temani masmu duduk di ranjang! Jangan buru-buru keluar. Ibu dan bapak pasti sedang mengurus beberapa tamu."
__ADS_1
Ya, hanya syukuran kecil-kecilan. Tidak seperti pernikahan Anggun yang pertama. Ini benar-benar dibuat sesederhana mungkin.
Anggun duduk di samping Firhan. Pria itu berinisiatif menarik istrinya ke dalam pelukannya. Aroma parfum yang wangi dan lembut malah membuat Firhan betah melakoni adegan seperti itu.
"Kamu bahagia?" tanya Firhan di sela-sela menghirup wangi tubuh istrinya.
"Tentu, Mas. Anggun sangat bahagia. Kadang, Anggun berpikir buruk tentang takdir sendiri. Mengapa aku harus dipertemukan dengan masa lalu yang menyakiti seperti itu?"
Kini tidak hanya memeluk Anggun dari samping, tetapi juga salah satu tangannya menggenggam erat tangan istrinya.
"Karena dari masa lalu yang buruklah kita ditempa menjadi orang-orang kuat, Nggun. Semula aku juga tidak percaya bahwa kebahagiaan itu ada. Kenyataannya setelah istriku meninggal, aku tidak ada niatan untuk menikah lagi. Namun, pandanganku berbeda saat pertama kali bertemu denganmu. Apalagi saat tahu kamu menikah. Nyaliku benar-benar ciut kala itu."
Anggun tersenyum. Firhan memang sosok yang bijaksana. Sebenarnya setelah Firhan keluar dari pabrik, Anggun merasa ada yang hilang. Beberapa rekan kerjanya pun sempat tidak percaya dengan keputusan Firhan yang tiba-tiba keluar. Mereka juga tidak tahu kalau antara Firhan dan Anggun sudah terjalin hubungan yang sangat serius.
"Apa Mas juga bahagia?" Anggun mendongak menatap wajah suaminya sekilas. Dia kemudian tersenyum melihat parasnya yang rupawan itu.
"Ish, Mas Firhan belajar dari mana kata-kata itu? Tapi memang itu sangat unik. Kalau ditulis di buku atau diketik di hape ataupun laptop, memang benar hanya satu titik di akhir kalimat. Memangnya kalau ada tanda titik di tengah, kenapa, Mas?"
Kadang Firhan memikirkan Anggun yang begitu lugu dan polos. Sayangnya beberapa luka di masa lalunya seolah menutupi siapa sebenarnya dirinya.
"Ya, mas harus ngulang lagi, Sayang."
Anggun tersenyum. Kabar pernikahannya bahkan tidak diketahui oleh Jihan, sahabatnya. Anggun hanya pamitan padanya untuk liburan selama beberapa hari bersama keluarga besarnya.
"Mas, kapan kita sampaikan kabar pernikahan ini ke Jihan? Dia pasti sangat marah padaku karena tidak jujur."
Firhan melepaskan pelukannya. Dia beralih menatap wajah Anggun. Memindainya dari ujung rambut hingga dagunya yang lancip dan seksi.
__ADS_1
"Setelah kita kembali. Lalu, aku akan membawamu ke rumah baru kita."
Tunggu! Rumah baru? Anggun sama sekali tidak tahu rencana seperti ini. Dia hanya tahu kalau Firhan sampai saat ini tinggal di rumah kost.
"Kok rumah baru, Mas? Bukannya Mas masih—"
"Sssttt, rumah baru itu aku beli sebelum pergi ke luar kota. Sudah lama aku menabung. Saat jodohku dipertemukan, maka aku harus menyiapkan segalanya untuk istri dan anak-anakku kelak."
Firhan sangat romantis sekali. Anggun kembali mengingat Witha, mantan kekasihnya yang selalu pamer liburan dan kemesraan dengan istrinya. Apa dia juga sebahagia Anggun sekarang?
Ya, Witha yang saat ini berada di tempat lain sedang dibuat gusar. Setiap hari pekerjaannya ribut terus dengan istrinya. Beberapa kali Kaluna memaksa Witha untuk berlibur dan membagikan momen-momen palsu kemesraan mereka.
Witha sama sekali tidak bahagia dengan pernikahannya. Apalagi saat tahu Anggun pernah menikah lalu bercerai. Jika tahu Anggun sudah menikah untuk yang kedua kalinya, Witha pasti menyesal tidak bisa mendapatkan Anggun kembali.
"Mas, aku mau pulang ke rumah ibu," ucap Kaluna.
Berada di rumah suaminya yang sama sekali tidak pernah dianggap keberadaannya. Perjodohan yang dilakukan orang tua Witha nyatanya tidak sebanding dengan cinta Kaluna pada Witha. Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Pernikahan yang sehari-hari diisi dengan drama kepalsuan. Saat orang tua mereka berkumpul, barulah mereka berpura-pura mesra. Terkadang mereka seperti sepasang suami istri yang sama sekali tidak bisa dipisahkan.
"Pergi saja. Kamu memang istri yang sama sekali tidak bisa memahami perasaan suami." Tuduhan Witha ini sengaja dilayangkan supaya Kaluna menggugat cerai lebih dulu.
Selain perjodohan sialan itu, Witha benar-benar diikat kuat oleh kedua orang tuanya. Dia sama sekali tidak bisa bercerai dari Kaluna sampai kapan pun.
"Mas, kamu yang nggak bisa ngertiin aku. Selama ini kita menikah hanya untuk drama kebahagiaan orang tua kita, kan? Aku yang mencintaimu, Mas! Tolong sadarlah bahwa tidak ada wanita lain sebaik diriku!"
Kemarahan Kaluna memuncak. Seringkali dia mengetahui suaminya sedang memandangi potret masa lalu seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Anggun. Kekasih Witha yang ditinggal menikah begitu saja.
__ADS_1
Kaluna rasanya ingin bertemu dengan Anggun kemudian memakinya. Namun, selama ini Kaluna sudah membuntuti suaminya bahwa Witha sama sekali tidak pernah berhubungan langsung dengan Anggun. Kecurigaan Kaluna tidak pernah terbukti.