ANGGUN

ANGGUN
Bab 27. Tersudut


__ADS_3

Bagaskara sudah menunggu kehadiran para tamunya. Dia sengaja meminta Rahman untuk membawa Anggun sedikit terlambat dari waktu yang sudah ditentukan.


"Selamat datang Pak Witha bersama istri. Kalian merupakan contoh pasangan yang romantis dan ideal malam ini," puji Bagaskara.


"Terima kasih, Pak Bagas. Anda pun sangat luar biasa sudah mengundang kami. Sayang, kau bisa duduk dulu," perintah Witha pada Kaluna. Dia ingin membicarakan tentang Anggun agar tidak didengar oleh sang istri.


"Sayang, aku juga ingin mengobrol sebentar dengan Pak Bagas. Bukankah sudah lama kita tidak bertemu, Pak?" tanya Kaluna pada Bagas.


"Lebih baik kamu duduk dulu, Bu Kaluna. Ini hanya akan menjadi pembicaraan yang membosankan antara kita. Ya, karena kami akan membicarakan bisnis. Bukan begitu, Pak Witha?"


"Ya, Pak."


Kaluna pun akhirnya mengalah. Dia sebenarnya penasaran dengan pembicaraan Bagas dan Witha. Setelah pulang dari kantor, mimik muka suaminya terasa tidak mengenakkan. Padahal beberapa bulan terakhir ini hubungannya kembali seperti biasa. Walaupun tidak harmonis, tetapi tidak banyak pertengkaran.


Menilik keseriusan kedua orang itu, Kaluna yakin kalau ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Ya, Kaluna memang sudah mengenal Bagaskara sejak lama. Namun, hubungan bisnis yang terjalin antara suaminya dan Bagaskara memang ada campur tangan dari Kaluna.


"Kenapa Anggun bisa bekerja di perusahaan Anda?" tanya Witha lirih. Dia tidak mau Kaluna tahu kalau sebenarnya Anggun berada di sekitarnya.


"Anda tanya saya? Sebagai rekan bisnis yang baik, seharusnya Anda harus mengesampingkan urusan pribadi, Pak Witha. Bu Anggun bekerja di perusahaan saya karena dia melamar kerja, bukan saya yang mengundangnya!" tegas Bagaskara.


"Bohong! Anda pasti tahu Anggun dari istri saya, kan? Jangan bilang Bapak merencanakan semua ini untuk mempertemukan kami?" Tudingan Witha jelas beralasan. Tiba-tiba Bagaskara mengajak makan malam bersama pasangannya. Sementara Bagaskara sendiri tidak jelas punya istri atau belum.


Sementara di tempat parkir, sepasang suami istri sedang bertengkar. Siapa lagi kalau bukan Firhan dan Jihan. Setelah menikah, keduanya memang menempati rumah Firhan.


"Sudah kubilang kan, kita nggak perlu datang ke acara ini. Ada mantan pacarnya Anggun juga," ujar Firhan dengan ketus.


"Mas, mantan pacar Anggun itu relasi bisnis kamu sekarang. Jadi, sah-sah aja dong kalau kita datang."


"Aku yang malas. Seharian kami sudah bertemu." Ada alasan lain yang membuat Firhan enggan untuk masuk. Bagaskara pasti memiliki rencana lain. Dia tahu Anggun adalah mantan istrinya. Apalagi sekarang? Jihan pasti akan mengamuk saat ada Anggun di sana.


_Ah, semoga Anggun tidak datang._

__ADS_1


Berdebat dengan Jihan tidak akan menemukan pangkal dan ujungnya. Firhan pun memutuskan untuk segera masuk kemudian pulang jika itu perlu.


Firhan melihat Witha dan Bagaskara mengobrol dari jauh. Perasaannya menjadi semakin tidak enak. Namun, pada saat Bagaskara menyadari kehadirannya, pria itu lekas maju untuk menyambut kedatangan Firhan.


"Selamat malam, Pak Firhan, Bu Jihan. Apa kabar? Kalian makin luar biasa, ya," puji Bagaskara.


"Terima kasih, Pak. Saya nggak nyangka kalau Mas Firhan bisa berbisnis dengan Bapak. Ini merupakan kebanggaan tersendiri buat saya sebagai seorang istri." Jihan memang selalu membanggakan suaminya.


"Ah, Anda terlalu memuji, Bu. Mari silakan!" Bagaskara langsung meminta mereka duduk di kursi masing-masing.


"Loh, kok reservasinya kursi 6, Pak? Apa ada yang ditunggu?" tanya Jihan penasaran.


"Ah, iya. Sebentar lagi pasti datang." Bagaskara melihat mimik muka Witha yang terlihat tidak senang. Sementara saat melihat Firhan, pria itu mulai gelisah.


Anggun, wanita yang ditunggu kehadirannya oleh Bagaskara dan yang lainnya masih harus mampir dulu ke toko sepatu. Sebelumnya Rahman memaksanya untuk datang ke salon karena permintaan Bagaskara. Anggun menolak, tetapi Rahman terus saja memohon. Jika Anggun tidak mau mengabulkan, gaji Rahman akan dipotong selama dua minggu. Anggun kesal sekaligus sedih. Hanya gara-gara Anggun, rezeki orang lain hampir saja hilang. Makanya Anggun mengalah.


"Pak, kita tidak akan terlambat ke restoran, kan?" Anggun cemas. Dia takut Bagaskara akan memotong gajinya seperti Rahman.


"Mbak Anggun tenang saja. Kata bapak bisa sampai sana jam 7 lebih. Mbak tenang aja, ya."


Ternyata jarak restoran sudah dekat. Jadi, Anggun tidak perlu was-was lagi. Saat mobil mulai memasuki halaman restoran, Anggun minta diturunkan di sana. Dia akan masuk sendiri tanpa harus merepotkan Rahman lagi.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Mbak. Nanti kalau pulang, Mbak Anggun bisa langsung ke tempat parkir saja. Saya tunggu di sana," pesan Rahman.


Debaran jantung Anggun tidak menentu. Mengapa Bagaskara memperlakukannya seistimewa ini? Tidak mungkin tidak ada maksud tersembunyi.


Anggun melangkahkan kakinya sambil berdoa untuk dirinya sendiri. Semoga dia baik-baik saja dan Bagaskara tidak akan memperlakukan yang tidak-tidak padanya.


Tampaknya Anggun tahu maksudnya saat hampir sampai di tempat Bagaskara dengan kliennya. Anggun berniat kembali, sialnya Bagaskara melihat.

__ADS_1


"Bu, mau ke mana?" tanya Bagaskara sehingga membuat semua orang terpusat pada Anggun. "Dia sekretaris saya."


Bagaskara menjemput Anggun yang terdiam di tempatnya. Dari jauh, Anggun jelas melihat ada Firhan dan Witha. Mereka bersama pasangan masing-masing.


"Kamu mau ke mana?" tanya Bagaskara dengan suara pelan.


"Pak, apa sebenarnya yang Bapak inginkan? Mengapa Bapak menyiksa saya seperti ini?" Mata Anggun mulai berkaca-kaca.


"Jangan menangis. Hapus dukamu. Justru kita berada di sini untuk membuat mereka terluka. Percayalah! Ikuti permainanku," pinta Bagaskara.


"Permainan apa? Saya hancur, Pak," ucap Anggun dengan parau.


"Saya juga sudah hancur," ungkap Bagaskara.


Anggun sama sekali tidak mengerti hingga Bagaskara menarik tangan Anggun. Dia menggenggam erat tangan itu sampai ke hadapan semua orang.


"Anggun?" Jihan terkejut. Pandangannya tertuju pada tangan Bagaskara. "Jadi, Anda dan Anggun saling kenal, Pak?"


"Iya. Kami ada hubungan khusus. Benar kan, Anggun?" tanya Bagaskara.


Anggun tidak bisa berbuat banyak selain mengangguk pelan. Betapa bodohnya dia harus menjadi seperti ini. Dia juga tidak tahu hubungan apa yang terjadi antara Bagaskara dengan semua orang-orang ini.


"Sayang, ini kan mantan pacar kamu," ucap Kaluna. "Pak Bagas, kamu berutang banyak penjelasan padaku."


"Silakan duduk kembali. Bu Anggun ini memang terkadang suka bersikap seperti ini. Dia memang pemalu. Ayo, mulai dinikmati makanannya," perintah Bagaskara.


Sejujurnya pandangan Firhan dan Witha tidak bisa beralih dari Anggun. Banyak kerinduan yang tumbuh di hati mereka. Sementara Anggun, dia menguatkan hati untuk memandang kedua pria yang pernah menjadi bagian terpenting kehidupannya.


"Pak, mau makan apa?" Tiba-tiba Anggun berubah menjadi orang lain. Ucapannya memang parau. Suasana benar-benar memojokkan dirinya.


Bagaskara pun terkejut. "Oh, maaf. Aku lupa kalau bawa pasangan. Ambilkan apa saja, tapi jangan banyak-banyak," ujar Bagaskara.

__ADS_1


Lagi-lagi tatapan Witha dan Firhan dilema. Lagi pula mereka sudah berumah tangga. Harusnya biarkan Anggun move on dari mereka, bukannya malah membuat Anggun merasa tidak nyaman.



__ADS_2