
Anggun memasuki lobi sebuah perkantoran. Dia diminta datang untuk melakukan interview dengan membawa beberapa dokumen pelengkap. Dia tidak menyangka akan mendapatkan respon secepat ini. Rasanya seperti mimpi.
_Akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Aku harus bisa membuktikan pada mereka bahwa aku mampu bangkit dari keterpurukan. Aku yakin, pekerjaanku ini akan membuatku lupa segalanya._
Beruntung Anggun tidak harus menunggu lama. HRD bernama Arif itu dengan cekatan menerima berkas lamaran yang diminta. Dia juga sudah menyiapkan berkas-berkas kontrak yang harus ditandatangani Anggun.
"Bu Anggun, selamat, ya! Anda diterima bekerja di sini. Anda akan menjadi sekretaris pak Bagas. Hari ini staf akan mengantarkan Ibu ke tempat pak Bagas," jelas Arif.
"Apakah saya harus bekerja hari ini juga, Pak?" Anggun sebenarnya belum siap kalau harus bekerja saat ini juga, tetapi untuk menolak pun tidak bisa.
"Sebenarnya Ibu baru bisa bekerja esok hari, tetapi karena hari ini pak Bagas langsung membutuhkan Anda, kami tidak enak menolaknya."
Benar juga. Apalagi Anggun adalah karyawan baru. Dia harus mengikuti aturan main perusahaan termasuk harus bekerja saat ini juga.
"Baik, Pak. Apakah saya harus ke sana sendiri atau menunggu staf yang akan mengantar?"
Arif sedikit ragu. Pasalnya staf yang bertugas untuk mengantarkan ternyata hari ini tidak masuk. Lagi pula untuk sampai ke ruangan pak Bagaskara juga tidak terlalu rumit.
"Ibu bisa pergi sendiri. Tidak apa-apa, kan? Masalahnya staf sedang tidak ada di tempat," ucap Arif.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah Arif menunjukkan arah ruangan CEO Bagaskara, Anggun lekas menuju ke sana. Jangan sampai gara-gara keterlambatannya untuk berada di hadapan CEO itu akan menjadi masalah untuk Anggun.
Sesampainya di sana, Anggun mengetuk pintu. Tidak lama, suara Bagaskara mempersilakan Anggun masuk.
"Masuk!"
Anggun bergegas membuka pintu lalu menutupnya kembali. Untuk pertama kalinya Anggun bertemu dengan Bagaskara. Jika dilihat, pria itu seumuran mantan suaminya, Firhan.
_Ah, kenapa aku masih mengingat mas Firhan? Aku harus tetap fokus. Ayo, Anggun. Jangan mau kalah dengan dirimu sendiri!_
__ADS_1
Anggun terpaku hingga suara Bagas membuatnya tersadar.
"Bu Anggun? Apa Anda baik-baik saja?"
"Oh, maaf Pak Bagas. Saya hanya sedikit terkejut melihat ruangan Bapak yang begitu luas," ucap Anggun beralasan.
"Oh, tidak apa-apa, Bu. Pak Arif sudah menginformasikan tentang Anda kepada saya. Jadi, saya langsung bisa mengenali nama Ibu saat masuk ke sini. Tidak masalah kan kalau kita tidak berkenalan lagi?"
Anggun mengangguk pelan.
"Ah, tapi itu sangat tidak enak sekali, ya, Bu Anggun. Baiklah, perkenalkan saya Bagaskara Trijaya. CEO perusahaan Trijaya grup." Bagas melanjutkan sesi perkenalan sebelum masuk ke pekerjaan.
"Oh, saya Anggun Maharani, Pak."
"Oh, ya ampun. Maafkan saya, Bu. Silakan duduk." Barulah Bagas tersadar dengan apa yang harus dilakukan.
"Terima kasih, Pak."
Suasana hening sebentar karena Bagas sedang menyiapkan beberapa berkas yang akan digunakan untuk meeting klien satu jam lagi.
Anggun harus memastikan ruangan meeting sudah siap dengan segala perlengkapannya. Selain itu, Anggun juga diminta memastikan konsumsi untuk klien benar-benar siap dan tidak ada yang terlewat. Selain itu, beberapa botol air mineral akan diletakkan di meja rapat. Bagaskara juga sudah menginformasikan bahwa akan ada 4 tamu hari ini.
"Baik, Pak. Semuanya sudah saya catat untuk dikerjakan dan diingat dengan baik. Ehm, bila nantinya ada kendala, apakah saya boleh bertanya pada Bapak?"
"Tentu, Bu. Kita memang perlu bekerjasama dalam bekerja. Jadi, kalau salah satu mengalami kendala, jangan sungkan untuk bertanya."
Bagas memutuskan untuk pergi ke ruang rapat terlebih dahulu. Sementara Anggun harus menyelesaikan tugasnya. Dia akan masuk ke ruang rapat setelah beberapa menit kemudian.
Hari ini Bagaskara akan meeting bersama Firhan dan Witha. Dua orang dari perusahaan yang berbeda sedang bekerja sama dengan perusahaan Bagaskara.
"Wah, kalian datang bersama-sama. Ada angin apa ini? Kompak bener," ucap Bagaskara.
__ADS_1
"Oh, kami tidak sengaja bertemu di lobi depan. Jadi, kami memutuskan untuk naik ke sini bersama-sama," jelas Witha.
"Oh ya, Pak Bagas. Bukankah Anda tidak memiliki sekretaris? Mengapa meeting ini tetap sesuai jadwal? Padahal Bapak sudah pernah menjadwal ulang," sahut Firhan.
"Pihak HRD sudah mendapatkan karyawan baru untuk mengisi kekosongan jabatan itu, Pak Firhan. Makanya hari ini meeting akan dilangsungkan. Sementara sekretaris saya sedang menyiapkan beberapa keperluan kita, bagaimana kalau meeting segera dimulai?" ungkap Bagas.
Firhan memang bersama dengan Cakra. Sementara Witha juga dengan seorang laki-laki yang sama sekali belum pernah ditemuinya. Namun, Witha agaknya juga tidak mau memperkenalkan diri lagi.
Saat meeting sedang berjalan, tiba-tiba sekretaris Bagaskara masuk. Aroma wangi yang pernah dikenalnya membuat Firhan dan Witha menutup matanya sejenak. Mereka seakan-akan menikmati kehadiran Anggun di sana.
Aroma ini sangat kuat. Apa aku sudah gila membayangkan Anggun yang sama sekali tidak memberikan respon kepadaku? Kartu nama yang kuberikan padanya pun tidak membuat dia lekas menghubungi aku. Ini benar-benar aneh dan aku seperti sedang berhalusinasi.
Aroma ini adalah wangi mantan istriku. Aku sudah gila karena terus memikirkannya. Maafkan aku, Anggun. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan kita.
Bagaskara tidak mengamati kedua pria yang sedang bernostalgia itu. Hingga sebuah suara membuat mereka dan Anggun terkejut bersamaan.
"Silakan masuk, Bu Anggun," ucap Bagas.
Sontak membuat Firhan dan Witha membuka mata. Mereka tidak menyangka kalau itu benar Anggun. Cakra pun mengenali wanita yang menjadi sekretaris Bagaskara.
"Bu Anggun? Kita bertemu lagi di sini," ungkap Cakra.
Cakra sangat senang bisa bertemu dengannya lagi. Pasalnya saat tahu Firhan menceraikan Anggun lalu menikah dengan Jihan, Cakra seakan tidak terima dengan apa yang dilakukan atasannya saat itu. Namun, dengan penjelasan yang masuk akal, akhirnya Cakra mau menerima.
"Kalian saling kenal?" tanya Bagaskara.
"Oh, kami pernah bertemu di sebuah restoran, Pak," jawab Cakra. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Anggun adalah mantan istri atasannya. Baik Anggun ataupun Firhan pasti akan malu.
"Oh, baiklah. Kalau begitu sesi perkenalan dulu dengan sekretaris saya." Bagaskara memberikan kode agar Anggun menjabat tangan satu per satu kliennya.
Sorot mata Firhan dan Witha memang tidak bisa dibohongi. Sorot mata kerinduan yang sangat dalam. Saat berjabat tangan pun, kedua orang itu seakan tidak mau melepaskan.
__ADS_1
Oh, ya ampun. Bagaimana sekarang? Aku baru saja bekerja. Rupanya Pak Bagaskara memiliki kerjasama di dua perusahaan yang masih berhubungan dengan masa laluku. Aku harus bagaimana? Mereka pasti mencoba mengejarku lagi.
Perkenalan itu berlangsung singkat karena Bagaskara akan melanjutkan meetingnya. Sementara Anggun, dia dengan setia menyiapkan dan mendampingi atasannya sampai meeting selesai.