ANGGUN

ANGGUN
Bab 42. Menanam Kebaikan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Anggun mendapatkan undangan pernikahan dari Kaluna dan Bagaskara. Mereka benar-benar akan menikah di sebuah ballroom hotel di kota X. Anggun menerima undangan itu dari bapaknya saat dia datang ke rumah bersama Zayn.


"Ini ada paket dari kurir, Nggun. Cuma bapak nggak berani buka. Tunggu kamu datang."


Isi paket itu adalah undangan pernikahan. Anggun lantas memandangi wajah suaminya seolah meminta persetujuan.


"Weekend kan, Sayang? Kalau weekend, kita dateng aja gak papa. Lagian di rumah sakit juga pasti libur," ujar Zayn.


"Beneran, Mas?"


"Iya, dong. Oh ya, Bapak apa kabar?" tanya Zayn.


Selama ini cuma Zayn yang baik di mata Gian. Walaupun Firhan juga baik, tetapi setelah perceraiannya dengan Anggun kemudian menikah lagi membuat Gian hilang kepercayaan pada menantunya. Namun, saat mengenal Zayn, kepercayaan itu tumbuh kembali seiring perjalanan waktu.


"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana? Rumah sakit ramai apa bagaimana?"


"Berharapnya sepi, Pak. Kalau sepi, itu artinya banyak orang yang sehat, kan? Semoga Bapak juga selalu sehat. Oh ya, apa Bapak ingin ziarah ke makam ibu? Kalau memang ingin ke sana, jangan lupa ajak kami, Pak. Kami mau ke sana sendirian rasanya ada yang kurang kalau tanpa Bapak," jelas Zayn.


"Iya, Pak. Anggun sudah lama nggak ke sana lagi. Bagaimana kalau sore ini?"


"Undangan pernikahan temanmu itu kapan?" tanya Gian.


"Besok, Pak. Sore ini kita ke makam ibu bareng-bareng. Ibu pasti tenang di sana karena Mas Zayn benar-benar membuat Anggun menjadi satu-satunya wanita paling bahagia di muka bumi ini."


"Jangan berlebihan begitu, Nggun. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya saja," ujar Zayn.


Zayn mencintai Anggun bermodal kesabaran dan waktu. Dia selalu meyakini bahwa akan dipertemukan di saat yang tepat.


Sore harinya, setelah Anggun mendapatkan bunga-bunga untuk dibawa ziarah, mereka pergi menggunakan mobil. Ya, Zayn merupakan orang kaya yang memiliki mobil WR-V.


Mereka sampai di pemakaman. Saat itu masih sepi karena memang bukan hari-hari tertentu orang kampung ke makam. Mereka langsung menuju ke makam Maryamah.

__ADS_1


Setelah menaburkan bunga yang ditambah dengan air, Gian yang memimpin. Setelah membacakan Surat Yasin kemudian diakhiri dengan doa-doa, mereka pun segera kembali.


Sepertinya kehadiran mobil Zayn mengundang kedatangan warga untuk melihat. Selama ini jarang sekali mobil bagus masuk ke area pemakaman. Tampak dari kejauhan, ada Moiz yang merupakan mantan suami Anggun yang pertama.


Anggun tetap tenang. Dia tidak boleh sampai emosi karena setiap bertemu Moiz, pria itu pasti selalu mengejeknya.


"Wah, ada mantan Bapak mertua, nih. Apa kabar, Pak? Bagaimana kabar ibu mertua? Apa sudah lebih tenang sekarang?" ujar Moiz.


Beruntung Anggun segera menceraikan pria yang tidak bisa menjaga mulut dan tidak bertanggung jawab itu. Kalau tidak, Anggun bisa saja berubah menjadi psikopat karena tertekan dengan kelakuannya.


"Moiz, sebaiknya kamu pergi. Sangat tidak pantas berbicara seperti itu di pemakaman," tegur Gian.


"Pak, justru anak Bapak itu yang tidak pantas. Dia bersuamikan orang-orang kaya. Pasti karena jual diri, kan? Harusnya aku dulu langsung membuatnya mengalah agar tidak menceraikan aku. Sayang, aku kalah langkah," ujar Moiz seperti orang yang tidak waras.


"Nggun, sebaiknya kita langsung pulang. Tidak perlu meladeni orang seperti ini. Ayo, Pak langsung ke mobil saja," ujar Zayn.


Sejak dulu, Zayn memang paling anti yang namanya ribut atau bertengkar. Kalau ada teman yang mengajak bertengkar, pasti Zayn ogah-ogahan.


"Kamu yang mundur atau aku akan laporkan ke polisi sekarang?" ancam Zayn.


"Silakan! Aku nggak takut!" Moiz malah menghadangnya.


Beberapa orang yang mencoba melerai Moiz merasa takut. Apalagi mereka juga mendengar dari tetangga dekat bahwa kehidupan Anggun sekarang sudah makmur karena bersuamikan seorang dokter.


"Moiz, lebih baik kamu pulang," ujar salah satu warga.


Moiz malah seolah menantang mautnya. Dia terus saja maju lalu memberikan bogem mentah pada Zayn sehingga membuat Anggun histeris.


"Mas!" teriak Anggun.


Anggun yang semula berada di mobil kemudian turun menghampiri. Dia meminta warga untuk segera membawa Moiz. Jika tidak mau mundur, maka Anggun akan menghubungi polisi.

__ADS_1


Menurut rumor yang beredar, Moiz ini setres karena seringkali ditolak oleh wanita. Sejak bercerai dari Anggun, kelakuannya bukan tambah baik, malah menjadi tidak terkontrol.


"Maaf, Mbak Anggun, kami bawa pulang saja Moiz. Mas Dokter, maaf sudah membuat Mas babak belur seperti itu," ujar salah satu warga.


"Iya, Pak. Nggak apa-apa. Kalau memang Masnya perlu pengobatan, nanti saya rekomendasikan dokternya. Saya takut kalau orang lain yang dihajar," ujar Zayn. Bahkan dia sudah terluka seperti itu masih memikirkan orang lain.


"Mas, kamu nggak apa-apa? Ini berdarah," ujar Anggun. Dia memegangi sudut bibir Zayn. "Pasti sakit?"


"Nggak, Sayang. Aku pria kuat, kok. Ayo, Bapak sudah nunggu di sana," ajak Zayn.


Anggun sangat khawatir, tetapi Zayn malah biasa-biasa saja. Mereka pun masuk ke mobil lalu pergi dari sana.


"Nak, maafin Moiz, ya. Dia sekarang setres. Kata orang-orang apa itu masih terobosan atau apa, sih?" tanya Gian.


"Terobsesi, Pak," sahut Anggun.


"Iya, itu. Terobsesi sama kamu, Nggun. Makanya dia kelihatan marah saat lihat kamu sama Nak Zayn."


Zayn fokus mengemudi. Jangankan Moiz yang sudah diceraikan Anggun, Zayn sendiri dulu seperti hampir kehilangan kepercayaan dan keyakinan. Apalagi mendengar kabar pernikahan Anggun yang kedua. Rasanya sakit dan tidak ingin kembali ke kota ini.


"Itu nanti biar saya hubungi teman, Pak. Kasihan kalau dibiarkan. Iya kalau dia sadar, kalau nggak sadar lalu mencelakakan orang lain, bagaimana?" tanya Zayn.


"Mas yakin mau bantu penyembuhan Moiz? Dia kan udah nyakitin kamu, Mas? Maaf, bukan apa-apa. Pasti akan terus seperti itu. Dianya aja nggak mau berubah," ujar Anggun sewot.


"Sayang, kalau kita membantu orang dengan ikhlas, suatu hari nanti akan berbalik pada diri kita sendiri. Kamu percaya sama mas, ya. Moiz harus diobati. Kalau kamu memang masih memiliki sakit hati sama dia, udah ikhlasin aja. Lagi pula keihklasanmu bersabar setelah kehilangan ibu, kita bisa menikah, kan? Intinya, kita nggak akan pernah tahu hari esok akan seperti apa?" jelas Zayn.


"Suamimu benar, Nggun. Kebaikan yang kita tanam, kalau nggak kita panen, nantinya pasti akan turun ke anak-anak kita. Bapak setuju, kok. Lagian kalau Moiz nggak disembuhkan, bagaimana? Dia itu masih suka nungguin kamu di pertigaan arah rumah, loh. Bagaimana? Nggak takut?" sahut Gian.


Kali ini Anggun sudah kalah telak dari dua pria yang sama-sama dicintainya. Niat baik Zayn harus mendapatkan support penuh dari sang istri. Itulah mengapa Zayn juga meminta pendapat Anggun.


__ADS_1


__ADS_2