
Setelah mengajak bapaknya untuk tinggal di rumah bersama sang suami, Anggun mulai bertingkah aneh. Dia bahkan mencium aroma nasi yang ada di magic com membuatnya mual dan ingin muntah.
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Gian.
"Anggun jijik liat nasi, Pak."
"Lah, kenapa? Kan kamu yang masak."
"Nggak tau, Pak. Aneh aja gitu," ujar Anggun.
Zayn belum pulang. Semalam dia mendapatkan panggilan darurat untuk melakukan operasi. Itulah mengapa pagi ini belum berada di rumah.
Baru setelah terdengar Zayn mengucap salam, Anggun seperti mendapatkan kejutan yang luar biasa. Anggun pergi ke depan lalu menyambut kedatangan suaminya.
"Zayn, sudah pulang?"
"Iya, Nggun. Kenapa kelihatan gembira begitu?"
"Jangan mandi dulu, ya. Aku ingin bicara berdua denganmu dulu," ujar Anggun. Padahal sebenarnya dia ingin mencium aroma tubuh Zayn yang belum mandi. Anggun sangat merindukan aroma keringat yang bercampur dengan parfum.
"Iya. Ayo, masuk!" ajak Zayn. Sebelum masuk ke kamar, Zayn sempat berpapasan dengan bapak mertuanya. "Selamat pagi, Pak. Semoga harimu menyenangkan. Kalau Bapak ingin apa pun, jangan sungkan untuk bilang. Kalau Bapak nggak nyaman ngomong sama aku, bisa sampaikan pada Anggun."
"Terima kasih, Nak Zayn. Semoga kamu juga begitu."
Zayn langsung masuk ke kamar diikuti sang istri. Padahal biasanya Anggun menyiapkan teh atau kopi di pagi hari, tetapi kali ini terlihat sangat berbeda sekali.
"Tumben nggak ada penyambutan?"
"Hah, penyambutan apa? Bukannya aku tadi sudah ke depan lalu ngikutin kamu masuk ke kamar ini? Penyambutan yang mana lagi, Zayn?"
"Biasanya selalu ready teh atau secangkir kopi di meja. Tumben aku nggak mencium aroma salah satu yang kusebut tadi."
Anggun cengengesan. "Maaf, ya. Hari ini aku malas sekali."
"Tumben, sih," ujar Zayn yang kemudian duduk di ranjang. Dia melepaskan salah satu kancing bajunya. Sebenarnya dia berniat untuk langsung mandi, tetapi kelakuan Anggun pagi ini membuat rasa penasaran Zayn timbul.
"Kenapa pagi ini aku malas sekali? Aku juga tidak tahu. Lalu, aku mencium aroma aneh pada nasi yang ada di magic com. Padahal aku baru saja masak. Aku lapar, tapi buka magic com dengan aroma nasi itu membuatku mual," ujar Anggun.
"Serius seperti itu? Lalu kamu makan apa?"
"Belum makan, Zayn. Aku melihat nasi kayak melihat sesuatu yang menjijikkan," jelas Anggun lagi.
Zayn langsung ingat sesuatu. Semua yang disampaikan oleh Anggun adalah beberapa tanda-tanda kehamilan. Setiap orang memang memiliki trimester satu yang berbeda.
__ADS_1
"Ya udah, aku mau mandi dulu. Setelah itu ikut aku. Oke?" ujar Zayn lalu berniat masuk ke kamar mandi.
"Tinggalkan kemejamu di sini. Jangan letakkan di tempat pakaian kotor."
"Kamu mau lihat aku bertelanjang dada sepagi ini? Jangan aneh-aneh deh."
"Enggak! Aku gak butuh kamu, tapi aku butuh aroma keringatmu dan sisa-sisa parfum yang menempel di sana. Kumohon," pinta Anggun mengiba.
Zayn pun mengabulkan keinginan istrinya. Dia berada di kamar mandi sambil tersenyum sendiri. Rasanya lucu kalau Anggun tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil.
"Punya istri lucu sekali. Dia berubah manja pun tidak sadar. Enaknya langsung dibawa ke rumah sakit atau ke apotek saja, ya? Mungkin semacam surprise supaya dia menyadari kalau sedang hamil."
Setelah beberapa menit di kamar mandi, akhirnya Zayn memiliki ide gila untuk membuat istrinya sadar bahwa dia sedang hamil.
Selepas mengganti pakaiannya, Zayn menyemprotkan parfum ke bajunya. Dia pun menyisir rambutnya yang baru saja keramas itu.
"Zayn, rapi lagi. Mau ke mana?" Anggun terheran.
"Aku pengen makan nasi Padang. Apa kamu mau ikut? Oh, aku lupa. Aku harus mengajakmu."
Mendengar kata 'nasi', otak Anggun langsung merespon lain. Dia sepertinya langsung merasa mual lalu pergi ke kamar mandi diikuti suaminya.
"Kenapa? Apa aku salah ngomong?"
Anggun tidak peduli. Dia mencoba memuntahkan apa yang sedang tercekat di tenggorokannya. Rasanya cukup aneh sekali.
"Iya. Aku ingin makan na–"
"Cukup, Zayn! Jangan sebut nama benda menjijikkan itu!"
"Loh, itu makanan paling enak, Sayang. Ya sudah, lebih baik kamu bersiap dan temani aku ke sana. Kita juga bungkus buat bapak. Bagaimana? Apa aku sudah masuk standar menantu yang baik?"
"Aku mau ikut, tetapi enggak mau masuk. Pasti di sana ada benda-benda kecil yang kayak ulet berwarna putih dan berkumpul menjadi satu. Iyuh, mual rasanya."
Zayn menyembunyikan senyumnya di balik wajah serius itu. Dia kemudian menyetujui apa pun keputusan Anggun.
Saat berpapasan dengan mertuanya, Zayn menyapa. Namun, hal mengejutkan terjadi lagi di sana.
"Mau pergi lagi, Nak Zayn?"
"Iya, Pak. Kami mau pergi ke warung na–"
"Mas Zayn mau makan Padang, Pak," sahut Anggun cepat.
__ADS_1
"Oh, pergilah. Hati-hati di jalan," ujar Gian.
Mereka pergi menggunakan mobil, tetapi Anggun sangat terkejut saat Zayn membelokkan mobilnya ke sebuah apotek yang hampir dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja.
"Zayn, ini bukan rumah masakan Padang. Kenapa kita ke sini?"
"Ayo, ikut aku sebentar. Aku mau beli sesuatu."
Anggun pun turun. Saat berada di depan apoteker, Zayn mengutarakan tujuannya.
"Mbak, tolong berikan 3 macam merek test pack, ya. Sama sekalian beri cup urine-nya ukuran sedang."
"Zayn, sejak kapan dokter jantung butuh alat-alat seperti itu?"
"Sejak istriku berubah aneh," bisik Zayn.
Anggun baru merasa kalau dirinya sedang hamil. Ingatannya kembali pada masa terakhir menstruasinya.
Anggun terkekeh. "Maaf, ini pertama kalinya. Aku merasa bego sekali," ujarnya lirih.
"Jadi, masih lanjut bungkus masakan Padang apa enggak?" tanya Zayn yang sudah bisa dipahami istrinya.
"Jadi. Kita belikan buat bapak sama kamu aja. Aku nggak ada selera makan."
"Hemm, oke. Nanti kita beli buah-buahan juga. Biar kamu bisa makan walaupun nggak makan na–"
"Cukup, Zayn. Jangan sebut itu lagi!" kesal Anggun.
Setelah urusannya di apotek selesai, mereka kemudian pergi ke masakan Padang. Zayn yang turun untuk membungkus makanan. Setelah itu pergi ke toko buah untuk membeli jeruk, melon, dan alpukat.
Sesampainya di rumah, buru-buru Anggun menuju ke kamar mandi. Walaupun dia sempat yakin, tetapi test pack itu adalah bukti nyata jika dirinya benar-benar hamil atau tidak.
"Kenapa dia terlihat buru-buru begitu?" tanya Gian pada Zayn.
"Dia itu lupa kalau sedang hamil, Pak. Wajar karena ini kehamilan pertamanya. Jadi, dia agak kikuk menghadapi kondisi tubuhnya. Oh ya, ini tadi Zayn beli nasi Padang buat Bapak juga. Kalau memang Bapak belum sarapan, langsung di makan saja, Pak," ujar Zayn.
"Pantas saja kelakuannya aneh, Nak. Mencium aroma nasi dari magic com saja seperti kesal begitu."
Sementara Anggun yang sedang berada di kamar mandi mendadak gugup. Apakah benar dia bisa hamil? Sementara dari pernikahannya dengan Firhan, Anggun dipermainkan oleh Jihan dengan obat penunda kehamilan. Jika saat ini dia bisa hamil, berarti memang pengikat cintanya hanyalah dengan Zayn.
Setelah beberapa detik berlalu, test pack yang dipegangnya saat ini pasti sudah menunjukkan perubahan. Anggun masih menutup matanya karena takut kecewa lagi.
"Oke, dengan hitungan satu, dua, tiga, mari kita buka!" serunya.
__ADS_1
Berulang kali Anggun mencoba memejamkan matanya kembali. Takut kalau salah, yaitu garis dua terpampang nyata di sana.