ANGGUN

ANGGUN
Bab 55. Kembali Tenang


__ADS_3

Kabar meninggalnya bayi prematur Jihan sampai juga pada Kaluna. Dia berniat melayat karena Firhan adalah rekan bisnis suaminya. Kabar itu didapatkan Kaluna pagi hari sebelum suaminya pergi ke kantor. Rencananya Kaluna akan datang agak siangan ke sana.


"Mas, bayi Jihan meninggal. Kasihan, ya?"


"Iya, Lun. Kamu mau pergi ke sana?" tanya Bagaskara yang sedang bersiap.


"Mas nggak ikut?"


"Tentu saja, Lun. Lagi pula aku hari ini nggak ada meeting. Jadi, kita bisa di sana lebih lama."


"Baiklah, Mas. Oh ya, apa aku kabarin Anggun, ya?"


Bagaskara menggeleng. Dia teringat masa lalu Jihan yang bersikap buruk pada Anggun. Walaupun Firhan adalah mantan suaminya, hal seperti itu tidak perlu diberitahukan pada Anggun.


"Jangan! Anggun sedang hamil. Nanti bukannya tenang, Jihan pasti nyari gara-gara."


"Baiklah, Mas. Ayo, kita berangkat sekarang."


Suasana rumah Firhan banyak pelayat dari kalangan rekan bisnisnya. Kalau tetangga hanya beberapa saja yang mengenal mereka. Apalagi perumahan yang ditempati Firhan itu jarang yang ada di rumah. Rata-rata bekerja di luar kota.


Jihan saat ini berada di kamarnya. Dia terus saja menangisi anaknya yang sudah tidak bernyawa itu. Sesekali dia tertawa dan berteriak histeris. Terkadang juga menangis sejadi-jadinya.


Kaluna yang melihat kondisi Jihan jadi tidak tega. Dia memang jahat pada Anggun, tetapi hukuman ini jauh lebih mengerikan lagi. Seandainya posisi Kaluna menjadi Jihan, dia pun belum tentu kuat. Kaluna sendiri mengalami masalah yang tidak kunjung hamil sampai saat ini.


"Pak, kenapa bisa menjadi seperti itu?" tanya Kaluna pada Firhan.


"Sebelumnya dia terpeleset dari tangga, Lun. Entah, bagaimana posisinya. Aku tahunya dia sudah di rumah sakit," jawab Firhan sendu.


Bagi Kaluna, Firhan adalah sosok yang sangat sabar. Bagaimanapun buruknya Jihan, Firhan tetap bertanggung jawab. Dia juga tidak meninggalkan Jihan dalam kondisi terpuruk saat ini.


"Pak Witha tahu kalau anak Bapak meninggal?" tanya Bagaskara.


"Kurasa tahu dari teman-teman yang lainnya, Pak. Aku tidak mengabarinya. Dia juga mungkin sibuk."


"Pak, boleh aku temui Jihan?" Kaluna cuma ingin menenangkan wanita itu.


"Silakan, Lun. Cuma lebih baik kamu jangan bicara apa pun. Kalau tidak, dia bisa mengamuk. Oh, atau lebih baik kamu jangan ke sana. Aku takut karena dia tidak stabil. Nanti bisa membahayakan kamu. Maaf, ya," ujar Firhan.


"Iya, Pak. Kalau begitu aku di sini saja." Kaluna juga tidak mau mengambil risiko.

__ADS_1


Tidak lama, Witha datang. Dia langsung menyalami Firhan dan mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya bayi mungil itu.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Witha.


"Aku baik, Pak. Cuma kurasa Jihan benar-benar terpukul. Aku tidak tega melihatnya seperti itu."


Mereka sempat mendengar tawa Jihan yang terdengar sangat bahagia. Beberapa detik kemudian berganti menjadi suara tangis yang terdengar cukup kencang. Posisi Jihan saat ini berada di kamar yang ada di lantai bawah.


"Pasti sangat kehilangan," ujar Witha pelan.


Witha kemudian memilih duduk di samping Bagaskara. Setelah kecelakaan itu, Witha semakin tidak terawat. Bulu-bulu halus di rahangnya dibiarkan memanjang.


"Lun, kamu apa kabar?" tanya Witha.


"Baik, Mas. Kamu apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku selalu seperti ini. Hari-hariku kuhabiskan bersama mama."


"Kenapa tidak menikah lagi?" tanya Bagaskara.


Saat obrolan itu baru saja dimulai, para pria segera pergi ke pemakaman. Firhan dan Witha ikut, tetapi Bagaskara akan berada di rumah itu untuk menjaga Jihan. Siapa tahu wanita itu memerlukan sesuatu.


"Makanya aku tidak ikut ke pemakaman. Lebih baik kita berjaga di sini saja."


Selama orang-orang pergi ke pemakaman, Jihan rupanya keluar kamar. Dia terlihat biasa saja seperti orang normal pada umumnya.


"Luna? Sudah lama di sini?" tanya Jihan.


"I-iya, Jihan. Kenapa?" Kaluna sempat melirik ke arah suaminya.


"Apa kamu sudah melihat anakku?"


"I-iya."


"Di mana dia sekarang?" Jihan terus saja memberondong dengan beberapa pertanyaan.


"Di bawa suamimu. Lebih baik kamu masuk ke kamar dan beristirahat," perintah Bagaskara.


"Ah, iya. Anakku ada di kamar," ujar Jihan.

__ADS_1


Kaluna benar-benar kasihan melihat kondisi Jihan. Dia menggenggam erat tangan suaminya berharap mendapatkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup selanjutnya.


Sementara di tempat lain, di rumah kediaman Zayn. Anggun baru saja sampai rumah bersama bibi dan suaminya. Setelah meletakkan kunci mobil di tempat biasa, Zayn menuju ke kamarnya.


Setelah Anggun meminta bibi untuk menata semua barang belanjaannya, dia pun segera menyusul suaminya. Anggun segera mengganti pakaiannya dengan daster berwarna hijau daun yang lebih longgar.


"Mas, aku ingin bicara." Anggun duduk di ranjang menghadap ke suaminya.


"Ada apa?"


"Mas, kamu nggak ada niat gitu kasih tahu Anita kalau kamu sudah menikah?"


"Kamu ketemu Anita di mana? Kalian tidak bertengkar, kan?"


"Udahlah, Mas. Jawab pertanyaanku dulu."


Zayn menarik napas panjang. "Aku belum memberitahu lantaran ibunya sakit, Nggun. Aku minta maaf. Jadi, yang kemarin itu aku habis mengoperasi ibunya."


"Oh, jadi gara-gara itu Mas nggak mau jujur sama Anita? Sampai kapan, Mas? Aku nggak mau ya kalau sampai dia salah paham sama kamu dikira kasih harapan. Ingat loh kalian udah jadi mantan. Mengenai makanan itu dari Anita juga, kan?"


"Iya, Nggun. Aku minta maaf. Setelah ibunya dipindahkan ke ruang rawat, aku akan mengatakan padanya."


"Nggak perlu! Cukup jauhi dia saja karena kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Jadi, tolong lebih bijak lagi. Jangan hanya gara-gara mantan, Mas tiba-tiba berubah sama aku, ya. Kalau Mas berani macam-macam, jangan salahkan aku bertindak nekat. Oh ya, sama satu lagi. Aku ingin Mas memesan satu buah cincin berbahan perak dan ukir namaku di sana. Dia nggak percaya kalau aku adalah istrimu," jelas Anggun.


"Iya, Sayang. Aku minta maaf. Lagian aku juga nggak ada niat buat kembali sama dia. Aku sudah punya seorang istri yang sangat aku sayangi dan cintai."


"Bener? Gak bohong?"


"Iya. Aku mencintaimu, Nggun. Sini aku mau peluk kamu."


Anggun rasanya tenang sekali. Dia harus belajar dari masa lalu. Jangan sampai suaminya ditikung lagi oleh orang-orang egois yang hanya menginginkan kebahagiaan pribadinya tanpa memandang ada istri yang terluka.


Setelah puas memeluk istrinya, Zayn kemudian berbicara dengan janin yang ada di dalam kandungan istrinya.


"Anakku, baik kamu laki-laki atau perempuan, ayah minta selalu jaga ibumu, ya. Jangan biarkan orang-orang menyakitinya. Ayah sangat mencintai ibumu dan juga kamu. Ayah nggak sabar ingin segera bertemu denganmu. Sehat-sehat terus ya, sayang."


Anggun melihat kesungguhan di wajah suaminya. Dia kembali tenang dan mempercayakan kelanjutan hidupnya pada Allah SWT. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecilnya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


__ADS_1


__ADS_2