ANGGUN

ANGGUN
Bab 17. Pil Penunda Kehamilan


__ADS_3

Istirahat siang bukannya makan, Anggun malah pergi ke toilet. Dia sama sekali tidak ada niat untuk menyentuh makanan sama sekali. Padahal pagi tadi Anggun juga masak untuk suaminya, tetapi sama sekali tidak mau menyentuh makanan itu.


Matanya sembab. Beruntung dia memiliki ruangan khusus sehingga tidak banyak orang yang tahu kalau dia sedang mengalami masalah yang begitu rumit.


"Aku harus bagaimana? Haruskah aku melepaskan Mas Firhan untuk Jihan?"


Anggun jelas dilema. Kalau memang ini jebakan Jihan, sampai kapan pun Anggun tidak akan bisa hidup tenang. Jihan pasti akan terus membuatnya hidup dalam keterpurukan sampai wanita itu mendapatkan keinginannya.


Lelah, tekanan batin yang bertubi-tubi, dan pikiran yang tidak menentu membuat darah dan oksigen yang masuk ke tubuh Anggun menjadi kacau. Sayup-sayup pandangannya pada cermin kabur dan tubuhnya luruh ke lantai. Ya, Anggun pingsan di toilet wanita.


Sementara Firhan sudah menunggu Anggun di luar pabrik. Dia meminta izin untuk istirahat lebih dulu karena ingin menemui istrinya. Namun, sekitar 25 menit berlalu tak kunjung melihat Anggun keluar.


Firhan terpaksa menanyakan keberadaan Anggun pada security. Mereka pasti tahu keberadaan Anggun.


"Loh, Pak Firhan. Selamat siang, Pak!" sapa security bernama Iswanto.


"Siang, Pak Is. Oh ya, Bapak lihat istri saya nggak?"


Sontak Iswanto tertegun menatap wajah Firhan. Dia bahkan tidak tahu siapa istrinya Firhan. Masih dalam kebingungannya, tiba-tiba Dedi dan Johan menghampiri.


"Loh, Pak Firhan?" Jihan terkejut.


"Iya. Aku ke sini mau bertemu Anggun. Apa kalian melihatnya?"


Iswanto tampak terkejut saat tahu Anggun adalah istri dari Firhan. Atasan di tempatnya bekerja yang beberapa bulan lalu memutuskan untuk resign.


"Jadi, Pak Firhan ini suaminya Mbak Anggun?" tanya Iswanto.


"Iya, Pak. Maaf ya sudah membuat Bapak terkejut," balas Firhan.


Johan dan Dedi memang tahu kalau Anggun hari ini masuk. Namun, mereka sama sekali belum melihat Anggun keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Mau bapak bantu carikan, Pak? Mungkin Mbak Anggun masih ada di ruangannya," usul Iswanto.


"Boleh, Pak." Firhan menyetujui.


Sementara Firhan menunggu di pos satpam, Iswanto menuju ke ruangan Anggun. Dia mengetuk pintu ruangan itu, tetapi tidak ada respon. Tanpa ragu lagi, Iswanto hanya membukanya agar yakin kalau di dalam benar-benar kosong.


Tidak ada siapa pun. Mungkinkah Anggun keluar melalui pintu lain? Apalagi pabrik ini hanya bisa keluar masuk melalui satu pintu utama, yaitu di depan pos penjagaan.


"Kok kosong, sih? Sebenarnya Mbak Anggun ke mana?"


Saat keluar dari ruangan Anggun melewati toilet perempuan. Iswanto berhenti sejenak. Toilet itu tertutup dan tidak ada pergerakan sama sekali. Nalurinya mengatakan kalau di dalam situ ada seseorang.


Iswanto mencoba mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, tetapi pintu itu memang terkunci dari dalam. Daripada mengira-ngira, Iswanto sebenarnya sedang berpikir kalau dia merusaknya pasti pihak pabrik akan meminta untuk memperbaiki. Namun, demi keselamatan yang mungkin terjadi sesuatu dengan penghuni yang ada di dalamnya, Iswanto mendobrak pintu tersebut.


Saat berhasil mendobrak pintu, tatapannya tertuju pada wanita yang tergeletak di lantai. Tidak lain adalah Anggun yang sedang pingsan. Merasa tidak pantas untuk menyentuh istri pria lain, Iswanto lari terbirit-birit menuju ke depan.


"Pak! Pak! Pak!" Iswanto berteriak panik hingga mengundang perhatian semua orang.


"Ada apa, Pak Is?" tanya Dedi yang sedari tadi menemani Firhan di pos penjagaan.


"Ada apa, Pak? Apa Bapak menemukan Anggun?" tanya Firhan.


"Ah, iya, Pak. Ada, tapi Mbak Anggunnya sedang pingsan." Akhirnya Iswanto mampu mengurai teka-teki yang membuat semua orang terkejut.


Tanpa tahu di mana Anggun pingsan, Firhan buru-buru lari ke dalam. Dia tidak peduli lagi jika bukan karyawan di perusahaan ini. Toh dia juga tahu lokasi yang paling sulit sekali pun di tempat kerjanya di masa itu.


Firhan masuk ke ruangan Anggun yang diikuti oleh Iswanto.


"Bukan di sana, Pak. Ada di kamar mandi!" Iswanto menunjukkan tempatnya.


Firhan secepatnya menuju ke kamar mandi. Anggun masih belum siuman sehingga buru-buru Firhan mengangkatnya lalu membawa ke mobil yang kebetulan diparkir di depan gerbang masuk pabrik. Beberapa orang yang tahu hubungan Anggun dengan Firhan sama sekali tidak terkejut, tetapi beberapa lagi merasa heran dengan sikap Firhan pada Anggun.

__ADS_1


Mengabaikan rekan kerja Anggun, dia meminta Iswanto untuk mengambilkan tas istrinya yang masih ada di ruang kerja. Setelah membaringkan Anggun di kursi belakang, Firhan menerima tas itu lalu meletakkannya di kursi depan tepat di sebelahnya.


"Terima kasih, Pak Is. Aku pamit dulu mau bawa Anggun ke rumah sakit," ucap Firhan dengan terburu-buru.


"Sama-sama, Pak."


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Firhan sangat cemas. Pasti ini masih berhubungan dengan kejadian di vila kemarin lusa.


Firhan berusaha menyembunyikan kejadian itu dengan rapat, tetapi melihat kondisi istrinya seperti ini lambat laun semua orang akan tahu.


"Anggun, lekaslah sadar, Sayang! Jangan buat aku khawatir seperti ini!"


Jarak rumah sakit dengan tempat Anggun bekerja memang tidak jauh sehingga mobil Firhan langsung diparkir di depan IGD. Di sana brankar pasien dan beberapa perawat siap menunggu kedatangan pasien yang membutuhkan pertolongan darurat. Setelah meletakkan istrinya di atas brankar lalu mengantarkan sampai pintu IGD, Firhan baru memindahkan mobilnya.


Saat panik seperti ini, rupanya ponsel Firhan tidak berhenti berdering. Ada panggilan dengan nomor asing yang terus mengganggunya sedari pagi. Namun, Firhan mengabaikannya.


Saat ini keselamatan Anggunlah yang lebih penting. Daripada pusing memikirkan nomor asing yang tidak ada hentinya, Firhan terpaksa mengganti nada deringnya menjadi silent. Sebelum itu, dia mengirimkan pesan pada Cakra untuk meminta izin tidak kembali ke kantor karena istrinya sakit.


Firhan diminta perawat untuk mengurus administrasi lebih dulu. Dia harus kembali ke mobil untuk mengambil tas istrinya. Beberapa identitas penting Anggun ada di sana.


Berada di depan antrean pendaftaran membuat Firhan membuka tas istrinya lebih dulu. Dia mencari KTP yang disimpan di dalam dompet. Namun, tatapannya tertuju pada sebuah botol kecil seperti berisi obat-obatan.


"Apa Anggun sakit? Kenapa ada obat seperti vitamin? Ini benar vitamin atau apa?" gumamnya.


Setelah mendapatkan antrean, Firhan segera menyelesaikan semuanya. Setelah itu dia pergi ke apotek untuk menjawab rasa penasarannya.


Beruntung apotek sedang tidak terlalu penuh sehingga Firhan langsung menemui apoteker.


"Bu, di sini bisa cari vitamin seperti ini?" Firhan menunjukkan obat yang ada di dalam botol vitamin.


Apoteker tersebut sedang berpikir. Dia sama sekali tidak pernah tahu ada vitamin yang bentuknya menyerupai pil penunda kehamilan.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Ini bukan vitamin. Ini adalah pil kontrasepsi atau pil penunda kehamilan."


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Firhan langsung lemas mendengar penuturan apoteker tersebut. Mengapa Anggun diam-diam mengkonsumsi pil penunda kehamilan? Apa sebenarnya yang dirahasiakan istrinya itu?


__ADS_2