ANGGUN

ANGGUN
Bab 52. Sikap Martha


__ADS_3

Kabar kecelakaan Witha sampai juga ke telinga Jihan. Dia pun berinisiatif untuk mengajak suaminya membesuk Witha yang saat ini berada di rumah sakit luar kota.


"Mas, kamu gak jenguk Witha? Dia mengalami kecelakaan," ujar Jihan.


"Ah, mana mungkin? Kamu jangan membuat gosip," tegur Firhan.


"Aku nggak ngadi-ngadi, Mas. Lihat saja story WhatsApp Kaluna. Apa kamu nggak berniat datang ke sana sebagai koleganya? Kalau kamu tidak percaya, lebih baik hubungi Bagaskara."


"Kamu itu lucu, Jihan. Aku kan nggak punya nomor Kaluna. Di ponselku hanya ada nomor Bagaskara, Witha, dan–"


"Mantan istrimu, kan?" sahut Jihan memotong ucapan suaminya.


"Kamu masih saja cemburu sama Anggun. Ingat kalau kamu sedang hamil. Jangan sampai Allah membungkam mulutmu karena masih saja mencurigai orang lain. Kalaupun aku masih berhubungan dengan Anggun, itu cuma sebatas mantan suami kepada mantan istrinya. Lagi pula aku tidak mungkin menjadi pebinor di antara hubungan Zayn dan Anggun. Taraf hidup mantan istriku jauh lebih baik daripada saat bersamaku. Jadi, apa yang perlu kukhawatirkan soal itu?"


Sialan sekali, bukan? Niatnya memojokkan suaminya, Jihan malah terpojok sendiri. Sementara Firhan segera mengambil ponsel lalu menghubungi Bagaskara.


"Selamat pagi, pak Firhan. Tumben pagi sekali sudah menghubungi aku," jawab Bagaskara di seberang sana.


"Pagi juga, pak. Oh ya, pagi ini istriku melihat story wa istri bapak. Apa benar kalau pak Witha mengalami kecelakaan?"


"Ah, iya. Kami berencana untuk mengunjungi pagi ini. Apa bapak juga mau bareng sekalian?"


"Bapak kirimkan saja di mana rumah sakitnya. Aku dan Jihan akan segera menyusul."


"Baik, pak. Segera setelah ini, akan aku kirimkan."


"Terima kasih, pak Bagas."


"Sama-sama, pak Firhan."

__ADS_1


Mereka pun segera mengakhiri sambungan telepon lalu bersiap. Firhan kembali ke dalam untuk mengganti pakaiannya. Semenjak Jihan hamil, istrinya itu sudah tidak bekerja di mall. Dia fokus mengurus rumah dan menjaga kandungannya.


"Jadi, bagaimana, Mas?"


"Lebih baik kamu siap-siap dan pikirkan apa yang akan kamu bawa untuk membesuk mereka."


Firhan lebih dulu menuju ke kamar. Dia mengambil kemeja yang tidak terlalu formal. Hanya kemeja dan celana jeans. Penampilannya sungguh berbeda sekali. Itu pun saat Jihan masuk langsung mendapat komentar pedas.


"Ck, mau besuk orang sakit saja dandanannya sudah kek pria muda yang berniat menggaet mangsa. Apa ini ada tujuannya untuk merebut kembali Anggun?"


Firhan memejamkan mata sejenak. Dia mencoba fokus pada pemikirannya untuk menyadarkan Jihan. Setelah mendapat pencerahan, beberapa detik kemudian dia meminta Jihan duduk di ranjang.


"Sebelum pergi, lebih baik kamu duduk dulu di sini. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


"Apalagi? Memang benar kan ucapanku?"


Firhan membimbing Jihan duduk. Setelah itu, Firhan berjongkok di hadapannya. Jihan merasa terharu dengan sikap suaminya. Ini baru pertama kalinya diperlakukan seperti itu.


Begini nasib Jihan jika sudah berhadapan dengan Firhan. Dia pasti selalu kalah telak.


"Aku cemburu sama Anggun, Mas. Mungkin juga dia akan merebutmu dariku."


"Terus saja berpikiran seperti itu. Mungkin bukan Anggun, tetapi akan ada wanita lain yang merebutku di kemudian hari. Saat itu, kamu akan menyadari betapa harus menjaga mulut dengan baik. Sebagai suami, aku bisa saja berbuat kasar. Namun, itu tidak akan aku lakukan. Aku merasa nasib yang kujalani haruslah seperti ini. Jadi, kalau kamu masih mau berpikiran negatif, maka silakan saja. Aku sudah tidak akan menegurmu lagi. Aku akan diam." Firhan kemudian beranjak dari tempatnya berjongkok.


Sementara di tempat lain, yaitu di kediaman Anggun. Zayn bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Hari ini dia sudah harus bekerja karena ada jadwal operasi. Namun, saat Zayn bersiap berangkat, ponsel Anggun mendapatkan pesan dari Kaluna yang mengabarkan akan membesuk Witha dan mengajak bertemu di rumah sakit.


"Sayang, Kaluna mengirimkan pesan padaku. Dia meminta aku untuk datang ke rumah sakit. Apakah kamu mengizinkan?" tanya Anggun.


Sejak perseteruannya dengan Zayn karena kesalahpahaman, Anggun lebih banyak berubah. Dia akan membuktikan bahwa hidupnya kini hanya untuk Zayn dan anak dalam kandungannya.

__ADS_1


"Kalau kamu mau datang, ya datang aja. Gak papa, kok."


"Kamu udah percaya padaku, kan? Aku nggak ada hubungan apa pun dengan Witha ataupun Firhan, Sayang. Aku istrimu dan akan terus bersamamu," ujar Anggun meyakinkan suaminya.


"Tentu saja, Sayang. Terima kasih sudah membuatku yakin." Zayn memberikan senyuman terbaiknya.


"Terima kasih."


Setelah Zayn pergi, Anggun meminta diantarkan menggunakan sopir pribadi yang akan menemani ke mana pun Anggun pergi. Ini karena permintaan Zayn yang selalu ingin memastikan bahwa istrinya tetap aman di mana pun dia berada.


Sebelum sampai ke rumah sakit, Anggun mampir dulu untuk membeli bubur ayam. Walaupun dia tahu kalau di rumah sakit sudah disediakan makanan, mungkin saja Witha atau mamanya ingin makanan yang lain.


Pagi ini dia masuk dulu ke kamar rawat Martha. Wanita itu beruntung tidak mengalami cedera berat. Cuma kemarin dia lama baru sadarkan diri.


"Selamat pagi, Tante," sapa Anggun setelah berada di ruang rawat itu.


"Kamu? Kenapa ada di sini?" tanya Martha dengan suara yang masih lemah.


"Aku hanya ingin melihat kondisi Tante dan Witha. Ini juga karena Kaluna yang memintaku untuk datang ke sini."


"Lebih baik kamu keluar sekarang. Aku tidak sudi melihat wajahmu. Gara-gara kamu, anakku jadi pembangkang. Lebih baik kamu jauhi keluarga kami. Terlebih Witha. Sampai kapan pun, dia tidak akan aku restui menjalin hubungan denganmu," tegas Martha memaksa berucap kasar padahal tubuhnya begitu lemah.


Anggun tersenyum. "Maaf, Tante. Aku pun sudah lama tidak berminat dengan Witha. Aku datang ke sini untuk menjengukmu, bukan untuk mengajak bertengkar. Jadi, apa pun yang keluar dari mulut putramu, kurasa hanya sebatas obsesi belaka. Kenyataannya sekarang aku adalah wanita bersuami."


"Keluar kamu!" bentak Martha dengan sisa-sisa tenaganya. Tidak hanya membentak, bahkan Martha mendorong bubur ayam yang sengaja diletakkan Anggun di nakas yang tidak jauh dari brankar Martha.


Bubur itu tumpah dan melebar ke mana-mana. Terpaksa Anggun meminta bantuan perawat untuk membersihkan ruangan itu.


"Ternyata kamu lebih kasar dari yang aku duga, Tante," gumam Anggun yang saat ini duduk di kursi tunggu di depan kamar rawat tersebut.

__ADS_1


Martha sama sekali tidak bisa menghargai kebaikan Anggun. Justru semakin sering Anggun menampakkan diri, Witha akan terus mencintai wanita dari masa lalunya itu. Kenyataannya bagi Witha cintanya pada Anggun tidak pernah berakhir.



__ADS_2