ANGGUN

ANGGUN
Bab 44. Penjelasan Panjang


__ADS_3

Sepulang dari pesta pernikahan Kaluna dan Bagaskara, Zayn mengajak istrinya untuk menginap di hotel tempat resepsi berlangsung. Dia lelah kalau harus pulang hari ini juga.


"Zayn, mengapa tadi kamu bohong soal kehamilanku? Jujur, aku merasa tidak nyaman."


"Kalau tidak dibalas seperti itu, dia akan terus berulah, Nggun. Kamu jangan khawatir. Bukankah kita sudah berjuang?"


Zayn memang benar. Namun, kepastian kapan hamil tidak semuanya bisa ditentukan. Bagaimana kalau Jihan masih penasaran dengan kehidupannya? Dia pasti mungkin melakukan hal itu. Tatapannya pada Zayn pun terlihat sangat berbeda.


"Tatapannya sangat berbeda, Zayn. Dia melihatmu dari sudut yang lain," ujar Anggun dengan suara pelan.


Jika Anggun sedang membicarakan Jihan, maka lain halnya dengan Witha yang masih menunggu di tempat acara hingga selesai. Ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Kaluna. Apalagi melihat kedekatan Kaluna dengan Anggun. Rasanya Witha baru saja melewatkan jutaan kesempatan.


"Witha, kamu masih di sini?" tanya Kaluna yang baru saja turun dari pelaminan bersama Bagaskara.


"Aku menunggu kalian. Ada hal penting yang ingin kubicarakan," ujar Witha.


"Soal apa? Apa ini mengenai Anggun?" Kaluna sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Witha. Selama hidup berumah tangga, baru kali ini mereka bisa berkomunikasi dengan baik, setelah bercerai.


"Iya. Bagaimana kalian bisa menjadi seakrab itu? Bukankah terakhir kali masih berseteru gara-gara ibunya Anggun meninggal?"


"Kami sudah minta maaf, Witha. Beruntung karena saat itu Zayn bisa memberikan solusi bahwa Anggun harus memaafkan kami," ujar Bagaskara.


"Apa benar pria itu suaminya?" Witha masih tidak percaya.


"Tentu saja. Terlihat jelas dari cincin nikahnya. Mengapa ragu begitu?"


"Kulihat lakiknya tidak pakai cincin. Mungkin Anggun berbohong," ujar Witha. Dia masih berharap bahwa itu semua adalah kebohongan.


"Tidak semua pria mau pakai cincin nikah, Witha. Kamu juga seringkali melepasnya, bukan? Itu memang kamu sengaja supaya Anggun nyaman bersamamu. Sudahlah, aku dan Bagaskara mau ke kamar. Kamu pulang atau menginap di hotel ini?" tanya Kaluna.


"Agaknya malam ini aku mau di sini saja. Mama pasti ngomel terus kalau aku di rumah."


Ya, semenjak perceraiannya dengan Kaluna, mama Witha selalu saja menyalahkan putranya. Bukannya mau merestui hubungan Witha dengan Anggun, malah melarangnya dan meminta rujuk pada Kaluna. Terlebih saat tahu kalau Kaluna menikah lagi. Mama Witha merasa kesal pada putranya.


Saat ini, Witha akhirnya memilih untuk menginap di hotel di mana Kaluna akan menginap juga di sana. Mungkin saja Kaluna sengaja agar tidak lelah bolak-balik rumah dan hotel.


Berniat melakukan check-in, rupanya Witha sempat melihat Anggun yang keluar hotel dirangkul oleh sosok pria yang ditemuinya di pemakaman kala itu.

__ADS_1


"Benarkah kalian sudah menikah?" gumam Witha.


"Pak, ini kunci kamarnya," ucap resepsionis, tetapi Witha masih fokus melihat ke mana perginya sepasang suami istri itu.


"Pak," tegur resepsionis. Barulah Witha menoleh dan menerima kunci tersebut.


"Oh, maaf. Terima kasih."


Witha menuju ke kamarnya. Berharap bisa bertemu dengan Anggun lagi. Nyatanya sepanjang koridor menuju ke kamar, dia sama sekali tidak bertemu dengan Anggun.


Setelah masuk ke kamar, dia merebahkan diri di sana. Pandangannya tertuju ke langit-langit kamar. Sesepi ini kehidupannya.


"Anggun sedang apa sekarang? Apa dia bahagia dengan kehidupannya? Ini gara-gara mama yang nggak pernah mau ngertiin aku. Sekarang Anggun sudah menjadi milik orang lain. Aku bisa apa sekarang?"


Sementara Anggun dan Zayn sengaja menikmati suasana hotel di sore hari. Sebelum sinar mentari tenggelam di ufuk barat.


"Zayn, mengapa harus sekarang?"


"Supaya pikiran kita jauh lebih fresh saja, Nggun. Kamu pasti bisa merasakan sejuknya kota di sore hari. Kapan terakhir kali kamu menikmati hembusan angin menjadi sesuatu yang menyenangkan?"


"Rentangkan kedua tanganmu. Tutup mata, lalu tarik napas dalam-dalam kemudian hembuskan. Pikirkan hal-hal yang positif. Yakinlah bahwa esok bahagia akan berada di genggaman," ujar Zayn menjelaskan.


Saat Anggun melakukan itu, tiba-tiba Zayn memegangi kedua tangannya seolah memberikan kekuatan tambahan. Anggun merasa jauh lebih tenang sekarang. Dia tidak lagi sendiri, tetapi memiliki kebahagiaan dengan suaminya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Zayn.


"Jauh lebih baik saat bersamamu, Zayn. Terima kasih."


"Kamu harus mencoba membahagiakan diri sendiri. Tidak selamanya aku bisa menemanimu, bukan?"


Anggun membuka mata lalu berbalik ke arah Zayn.


"Apa maksudmu? Kamu akan ninggalin aku, gitu?"


"Enggak juga, Nggun. Kan kamu tahu kalau aku sewaktu-waktu dapat panggilan operasi darurat. Makanya kamu harus membiasakan sendiri. Kan di rumah cuma kita berdua doang."


Zayn benar juga. Tidak mungkin Anggun ikut ke rumah sakit dalam keadaan darurat.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Jihan sedang kesal. Dia melemparkan tas sekenanya. Hari ini berniat mempermalukan Anggun, tetapi malah malu sendiri.


"Kenapa lagi kamu? Masih kesel sama Anggun?"


"Iya, Mas. Mengapa dia selalu mendapatkan hal-hal yang baik dan menarik. Rasanya aku ingin bertukar tempat dengannya," ujar Jihan.


"Oh, benarkah? Lalu, Anggun menjadi pelakor sepertimu?"


Jihan mengangguk.


"Banyakin syukur, kurangin ngeluh! Kasihan anakmu nanti. Ibunya ribet mulu. Aku kadang malu harus bawa kamu ketemu teman-temanku. Terlebih masa lalu pernikahan kita yang terkesan dipaksakan. Kalaupun sekarang Anggun mendapatkan yang lebih baik, itu artinya ada sikap Anggun di masa lalu yang juga baik."


"Jadi, maksud Mas, aku nggak baik gitu?"


"Terserah kamu pikir saja sendiri."


Sementara Witha yang merasa tidak nyaman saat berada di dalam kamarnya memutuskan untuk keluar. Dia ingin mencari keberadaan Anggun. Siapa tahu dia bisa bertemu dengannya lalu mengobrol sebentar. Setidaknya untuk mengobati rasa rindunya sejenak.


Rupanya Anggun baru saja masuk. Mereka berniat menuju ke kamarnya.


"Nggun, bisa kita bicara sebentar?" tanya Witha.


Anggun dan Zayn berhenti. Anggun seolah meminta izin pada Zayn untuk mengizinkan atau tidak berbicara dengan Witha.


"Kita akan bicara, tetapi bersama suamiku. Kalau kamu mau, silakan. Kalau enggak, kami mau istirahat," ujar Anggun.


Setelah berpikir sejenak, Witha akhirnya menyetujuinya. Jika dia tidak mau, maka tidak akan ada kesempatan lagi.


Mereka memilih duduk di sebuah restoran di dalam hotel. Zayn memesan minuman untuknya dan istri. Witha pun memesan untuknya sendiri.


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Anggun.


"Kenapa kamu nggak mau nunggu aku dulu? Bukankah kita pernah memiliki cita-cita yang sama? Membangun komitmen bersama dan memiliki anak-anak yang lucu," ujar Witha tanpa malu lagi di hadapan Zayn.


"Aku sudah mencoba menunggumu, Mas. Namun, itu tidak mudah. Apakah aku harus menunggu suami orang sampai bercerai dari istrinya? Itu bukan aku, Mas. Sementara kalian bercerai, Allah takdirkan aku dan Mas Zayn menikah. Lalu, apakah kamu datang untuk melihatku? Tidak, kan? Ke mana kamu selama ini? Lalu, apakah masih pantas aku mengharapkan tanpa kepastian?"


Sebuah penjelasan panjang itu cukup bisa dipahami oleh Witha. Dia yang menghilang tanpa jejak dan tidak pernah lagi berjuang untuk kembali. Jadi, Witha harus menerima kenyataan yang seperti ini. Kehilangan Anggun untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2