
Firhan sedang memesan makanan. Namun, sang istri tak kunjung kembali. Sementara Jihan dan Cakra mulai akrab. Keduanya sedang mengobrol.
"Aku ke toilet sebentar, ya?" pamit Firhan.
"Mau menyusul Bu Anggun, Pak?" tanya Cakra.
Firhan hanya mengangguk kemudian berlalu begitu saja. Sesampainya di depan toilet perempuan, Firhan tidak menemukan keberadaan Anggun sama sekali. Dia mencoba menghubungi ponselnya, tetapi tidak ada jawaban. Firhan baru ingat jika ponsel milik istrinya sengaja ditinggalkan di kamar karena tidak nyaman membawanya.
"Ah, mungkin Anggun kembali ke vila untuk mengambil ponselnya." Buru-buru Firhan kembali untuk menyusul.
Sesampainya di depan vila, Firhan tidak melihat tanda-tanda istrinya kembali. Dia langsung menerobos masuk ke kamar. Sayang, tidak ada siapa pun di sana. Dia memang melihat ponsel istrinya, tetapi tidak dengan Anggun.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka, Firhan sangat senang sekali karena istrinya kembali.
"Sayang, kamu ke mana saja?" tanya Firhan.
Betapa terkejutnya saat tahu Jihan lah yang masuk. Dia kemudian mengunci pintunya lalu membuang kunci itu dengan asal.
"Jihan, apa yang kamu lakukan? Kemarikan kuncinya!" bentak Firhan.
"Enggak! Aku sudah membuangnya."
Jihan langsung mendekat ke arah Firhan kemudian memeluk pria itu. Sungguh sebagai wanita yang tidak pernah beruntung, Jihan langsung bertindak nekat saat tahu Anggun tidak ada di tempat. Seperti sebuah kebetulan yang berpihak kepadanya.
Firhan memberontak. Dia mendorong mundur Jihan hingga terbentur ranjang dan jatuh ke sana. Firhan mencoba menemukan keberadaan kunci yang dengan sengaja dilemparkan Jihan ke segala arah.
Jihan malah tertawa. "Kamu tidak menemukan kuncinya, Mas? Kuncinya ada di sini!" Jihan menunjuk dadanya.
"Jangan kurang ajar kamu!" Lagi-lagi Firhan mengamuk.
"Sudahlah, Mas. Nggak perlu susah payah jodohin aku sama Cakra. Aku gak suka sama dia. Aku juga udah menolak untuk berkenalan lebih jauh dengannya. Aku mencintaimu, Mas! Sungguh, aku sangat cemburu saat tahu sikapmu kepada Anggun yang begitu mesra. Kalian terus saja memamerkannya kepadaku."
Jihan yang semula terlihat bahagia, kemudian tertunduk seolah sedih. Sementara Firhan sedang berusaha menemukan kuncinya. Jihan berbohong karena kunci itu masuk ke lantai yang kebetulan terhimpit oleh lemari di vila itu.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu, Jihan! Aku tidak pernah mencintaimu apalagi suka sama kamu!" Suara Firhan terus saja meninggi, tetapi Jihan tidak pernah menyerah juga.
Jihan malah memposisikan tubuhnya di atas ranjang. Dia berpose dengan cukup seksi hingga membuat darah Firhan berdesir. Dia mencoba untuk tetap teguh pada pendiriannya. Hati, perasaan, dan tubuhnya hanya untuk Anggun seorang. Bukan untuk penggoda seperti Jihan. Diam-diam berlindung di balik wajah polosnya.
"Kalau begitu, mari kita buat permainan agar kamu bisa mencintai aku, Mas. Kurasa Anggun sudah pergi meninggalkanmu," ucap Jihan asal.
Firhan akhirnya mulai berpikir bahwa menghilangnya Anggun ada hubungan dengan sahabatnya sendiri.
"Kamu jahat, Jihan! Kamu kan yang menyembunyikan istriku?"
Jihan sama sekali tidak tahu ke mana perginya Anggun. Saat ada kesempatan untuk mendekati suaminya, tanpa pikir panjang Jihan langsung memanfaatkan situasi ini.
"Tidak. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Ayolah, Mas! Jangan munafik kamu. Kamu pasti mau kan tidur bersamaku? Setelah itu, aku janji nggak akan ganggu rumah tangga kalian," ucap Jihan dengan suaranya yang begitu lembut.
Mana mungkin Firhan bisa percaya mulut sialan Jihan itu. Terlebih saat ini Firhan belum menemukan kuncinya di lantai. Dia kesal sehingga kakinya menendang lemari dan berbunyi gaduh sekali.
Entah bisikan darimana sehingga Jihan mencoba merobek bajunya sendiri. Seolah dia seperti dilecehkan oleh Firhan. Kalau tidak bisa mendapatkan Firhan, setidaknya Anggun pun tidak bisa bersuamikan dirinya.
"Sudahlah, Mas! Anggun nggak akan mungkin bisa kasih anak buat kamu. Dia itu wanita mandul!"
"Apa maksudmu? Anggun menyembunyikan rahasia besar dariku? Begitu?"
Jihan mengangguk. "Iya. Mas nggak tahu kan kalau Anggun itu mandul?"
Firhan seperti ingin berteriak begitu saja. Tidak mungkin wanita yang dicintainya selama ini tidak mau jujur padanya. Melewati kehidupan bersama nyatanya tidak membuat Anggun bisa terbuka.
"Kamu pasti bohong!" Firhan masih tidak bisa yakin dengan ucapan Jihan yang sudah kurang ajar menguncinya dari kamar.
Sementara di luar, Anggun sudah berteriak memanggil suaminya.
"Mas! Kamu di mana?" Anggun mengendor pintu kamar yang tak kunjung dibuka.
Tidak lama, Jihan dan Firhan terlihat kacau keluar dari kamar. Baju Jihan yang berantakan dan juga suaminya.
__ADS_1
"A-apa yang kalian lakukan?"
Anggun terbata. Dia tidak menyangka jika sahabat dan suaminya melakukan hal seburuk itu. Diam-diam keduanya menjalin hubungan di belakangnya.
Firhan mencoba memeluk Anggun, tetapi ditepis olehnya. Masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Anggun pada suami maupun sahabatnya.
"Kenapa kalian diam?" Suara Anggun semakin tidak terkontrol.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Jihan sengaja menjebakku." Firhan mencoba menunjukkan pembelaannya.
Menurut bukti yang dilihat, seharusnya Firhan tidak bisa menyangkal. Sementara Jihan ingin memanfaatkan momen seperti ini untuk merebut suami sahabatnya sendiri.
"Suamimu bohong, Nggun! Saat tahu kau tidak ada di tempat, dia memaksaku masuk ke kamarnya. Dia ingin melecehkan aku, Nggun. Apalagi saat tahu kalau kamu mandul," ucap Jihan terisak.
"Ma-man-dul? Jadi, Mas tega menusuk aku dari belakang hanya gara-gara masalah ini? Aku tidak percaya pikiranmu sepicik itu, Mas!"
Anggun menerobos masuk untuk mengambil barang-barangnya. Dia mengemasi barang itu secara kasar.
"Mau ke mana kamu? Kita bicarakan ini, Sayang. Apa yang diucapkan Jihan itu tidak benar."
Anggun sama sekali tidak mau mendengarkan. Dia sudah ketakutan sebelumnya. Ditambah dengan melihat perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
"Mas, bukti menunjukkan ke arah sana! Lalu, darimana aku bisa percaya kalau kalian tidak melakukan sesuatu? Sudahlah, Mas! Lupakan aku!" Anggun menarik koper itu dengan kasar dan air mata berderai.
"Tunggu, Nggun! Kita akan pulang bersama-sama." Firhan masih terus membujuk istrinya. Gara-gara Jihan, rumah tangga yang baru dibangun beberapa bulan harus berantakan seperti ini.
Anggun tetap menolak. Dia memang tidak meminta tolong Cakra, tetapi Anggun bisa mencari alternatif lain untuk pulang. Kebetulan tidak jauh dari vilanya ada tukang ojek yang akan mengantarkan ke halte bus yang letaknya lumayan jauh.
"Kalian semua jahat!" teriak Anggun dari lubuk hatinya.
Sementara tukang ojek tidak tahu drama apa yang sedang terjadi antara wanita yang dibawanya saat ini dengan pria yang mencoba mengejarnya. Driver ojek itu juga tidak berani bertanya.
Firhan kembali ke vila untuk mengemasi barang-barang, tetapi Jihan duduk manis menanti kedatangannya.
__ADS_1
"Sudah selesai dramanya, Mas? Anggun pasti sebentar lagi minta cerai dari kamu, lalu kita menikah. Oh, Anggun yang malang!"