
Jihan sudah ditangani dengan baik. Beruntung Firhan lekas membawanya ke rumah sakit. Saat ini dia pun sudah dipindahkan ke ruang rawat. Ruangannya agak jauh dari tempat Anggun berada.
"Mas, terima kasih kamu sudah datang," ucap Jihan lirih.
"Harusnya kamu tidak membuat onar seperti ini!" tegur Firhan yang duduk agak jauh dari brankar.
"Aku onar karena cinta, Mas. Apa salahnya memperjuangkan cintaku," rengek Jihan seperti anak kecil.
"Salah karena kamu merebut suami wanita lain. Aku mau setelah ini kamu minta maaf pada Anggun. Katakan yang sebenarnya bahwa di antara kita tidak ada apa-apa!" tegas Firhan.
"Tidak mau! Anggun pasti akan menyakiti aku," tolak Jihan.
"Justru kamu yang sudah menyakitinya!" Firhan lama-lama dibuat emosi.
Hening karena Jihan mendadak pusing. Sementara Firhan malas meladeni tingkah konyol Anggun. Selama teman Anggun ada di kamarnya, Firhan berharap Anggun akan luluh dan kembali padanya dengan pikiran dan hati yang dingin. Semua kesalahpahaman ini seolah terstruktur dengan baik.
"Mas, kenapa kamu diam?" Jihan sebenarnya tidak mau melakoni adegan berbahaya seperti ini, tetapi demi merebut orang yang dicintainya, jalan menuju puncak pun dilakukan.
"Aku keluar sebentar," pamit Firhan. Dia ingin melihat istrinya.
Sesampainya di depan bangsal rawat itu, Firhan ragu. Namun, dia tidak bisa selamanya seperti ini. Dia harus menyelamatkan pernikahannya. Apa kata mertuanya nanti? Jika Firhan sama sekali tidak bisa menjaga rumah tangganya.
Setelah mengetuk pintu, Firhan langsung menerobos masuk. Dia mengedarkan pandangannya, tetapi tidak menemukan keberadaan Anggun. Suara gemericik air dari kamar mandi membuat Firhan tersadar kalau infus istrinya ikut terbawa masuk. Dia sedikit lega karena istrinya berada di dalam kamar mandi. Entah, apa yang dilakukannya di sana.
Anggun keluar dari kamar mandi dengan muka dan rambut yang basah. Firhan jadi khawatir apa yang dilakukan Anggun sama dengan Jihan barusan, tetapi menggunakan cara yang berbeda.
"Anggun, kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan konyol ini sungguh menggelitik pikiran Anggun. Harusnya Firhan sudah tahu kalau kondisinya kacau. Terlebih kacau lagi saat Witha datang menemuinya. Alih-alih menenangkan, Witha malah memaksanya untuk melepaskan Firhan lalu menikah dengannya. Itu ide gila dari mana lagi?
Anggun menolak. Namun, Witha sepertinya menganggap ini adalah sebuah kesempatan sehingga pria itu tiba-tiba mencium Anggun secara paksa. Tantu saja Anggun memberontak dan mengusir pria itu dari kamarnya. Saat Anggun merasa bersalah, dia masuk ke kamar mandi lalu mencelupkan kepalanya ke dalam air lalu menangis sejadinya.
__ADS_1
Bukan hanya menangisi atas sikap buruk Witha kepadanya, tetapi juga hubungan rumah tangganya dengan sang suami. Setelah menimbang dan memikirkan beberapa aspek, Anggun akan memutuskannya setelah keluar dari rumah sakit.
Saat ini di meja makan sudah tersedia makanan untuk Anggun. Sebenarnya itu makanan sejak tadi, tetapi mood Anggun yang sedang tidak baik mencoba untuk tidak memakannya sama sekali.
Firhan membantu istrinya naik ke ranjang. Anggun tidak menolaknya. Bahkan, nampan yang ada di nakas diambil oleh Firhan.
"Makan dulu, Sayang! Aku suapin, ya?" tanya Firhan.
Anggun tidak menjawab, tetapi dia membuka mulutnya. Kunyahan pertama rasanya seperti memakan paku kecil yang sama sekali tidak enak di mulutnya.
"Mungkin saja ini adalah kebaikan terakhirmu, Mas. Aku tidak tahu mau bahagia atau sedih. Aku masih bingung harus bertahan atau melepaskan," batin Anggun.
"Nggun, bagaimana kondisimu? Setelah diizinkan pulang, kita pulang ke rumah, ya? Banyak hal yang mesti aku luruskan padamu."
Anggun cuma bisa mengangguk tanpa sepatah kata pun. Dia menghabiskan setengah makanannya.
"Udah, Mas. Cukup."
"Bu Jihan yang mencari Anda, Pak," jelas suster.
Baru saja berniat memperbaiki hubungan rumah tangganya, tetapi suster datang membawa masalah. Anggun diam tidak menanggapi.
"Nanti saya ke sana," jawab Firhan.
"Tapi, Pak? Pasien minta Bapak segera datang ke sana," pinta suster karena sebelum pergi sudah diancam harus segera ke bangsalnya sekarang.
"Pergilah, Mas! Temui dia. Jangan sampai gara-gara aku, dia beneran bunuh diri."
Firhan masih ingin menanyakan pil kontrasepsi yang ada di tasnya, tetapi harus berakhir seperti ini lagi dan lagi.
"Oke, Suster. Sebentar lagi saya ke sana. Silakan suster keluar dulu!" perintah Firhan.
__ADS_1
Suster itu pun keluar. Setidaknya dia sudah lega karena pasien itu tidak akan mengamuk lagi karena tidak mendapati pria itu di sana.
"Sebelum aku pergi ke sana, aku ingin tahu mengapa kamu pakai pil kontrasepsi? Apa kamu tidak ingin memiliki anak dari pernikahan kita?"
Hancur hati Anggun. Jebakan Jihan ini sudah membuat semuanya kacau. Sebenarnya Anggun sangat mencintai Firhan, tetapi posisinya benar-benar tidak memungkinkan untuk bertahan. Apalagi kalau Anggun tidak menyerah. Ke mana pun dia pergi, Jihan akan terus membayanginya. Kecuali bila Anggun sudah melepaskan Firhan. Rela atau tidak, itu keputusan terbaiknya.
"Kita bicarakan itu di rumah, Mas. Sebaiknya kamu temui Jihan. Jangan buat dia menunggu lama," protes Anggun.
Harusnya Firhan menjadi amoeba saja supaya bisa membelah diri. Di sisi lain, dia sangat mencintai istrinya. Namun, ancaman Jihan membuatnya tersudut. Mungkinkah hubungannya dengan Anggun harus berakhir mengenaskan? Lebih mengenaskan lagi seperti kehilangan istrinya di masa lalu.
Firhan keluar kamar dengan langkah gontai. Sementara Anggun, dia menangis sejadinya. Ada kalung di lehernya yang harus dilepas demi wanita lain, yaitu sahabatnya sendiri.
Ingatan Anggun kembali pada ibunya, Maryamah. Wanita itu sudah pernah memperingatkan agar tidak dekat-dekat dengan Jihan. Anggun dan Firhan mengabaikannya. Sekarang, Anggun tidak bisa lari dari kenyataan bahwa rumah tangganya berada di ujung tanduk.
"Ibu, Anggun minta maaf. Anggun sudah mengabaikan ucapan ibu," sesal Anggun dengan menangis sejadinya.
Sementara di bangsal lain, yaitu tempat Jihan dirawat. Firhan baru saja masuk. Jihan terlihat sangat bahagia.
"Mas, dari mana saja kamu? Aku sampai meminta suster untuk mencarimu."
"Aku dari bangsal Anggun. Kenapa sih kamu tega membuat rumah tanggaku hancur seperti ini?"
Padahal Firhan sama sekali tidak pernah macam-macam atau tebar pesona pada Jihan. Jihan lah yang lebih dulu menyukainya.
"Wah, Mbak Anggun juga ada di sini? Hemm, aku tidak menyangka kalau istri pertama dan calon istri kedua kompakan ya, Mas," ucap Jihan seolah memberikan kode bahwa Firhan harus segera menikahinya.
"Apa maksudmu?"
"Mas, jangan pura-pura tidak tahu. Mas Firhan harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan di kamar vila itu. Kalau Mas tidak mau bertanggung jawab, aku akan menyebar foto kita pada hari itu," ancam Jihan.
Firhan rasanya ingin kabur dari kenyataan pahit yang membelenggunya. Apa yang akan dikatakan pada orang tua Anggun jika dia menikah dengan sahabat putrinya?
__ADS_1
"Maaf, Jihan. Kegilaanmu cukup sampai di sini! Aku juga tidak akan pernah menikahimu atau bahkan menceraikan Anggun sekali pun. Aku sangat mencintainya dan tidak akan seorang pun kubiarkan untuk menghancurkan rumah tangga kami," tolak Firhan kemudian keluar dari bangsal tersebut.