
Makan malam memang sudah berakhir, tetapi perbincangan mereka baru saja dimulai. Sebenarnya baik Witha maupun Firhan ingin lekas pulang ke rumah. Namun, para istri mereka seolah ingin berlama-lama di sana sehingga membuat para suami mereka tertekan.
"Jadi, bagaimana Bagaskara bisa mengenal Anggun?" tanya Kaluna. Dia sudah tidak memanggil dengan sebutan bapak atau ibu. Kaluna mengenal Bagaskara dengan cukup dekat.
"Wah, apakah ini obrolan santai? Bagaimana dengan kalian, Bung?" tanya Bagaskara.
"Kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kami bisa pulang lebih dulu," ungkap Firhan. Dia merasa harus menyiapkan diri menghadapi Anggun. Rasanya sakit sekali melihat Anggun tidak bisa dimiliki lagi. Walaupun Firhan sudah yakin jika suatu saat nanti mereka akan bersama.
"Enggak. Aku masih mau di sini. Anggun adalah sahabatku. Jadi, kalau Anggun masih di sini, aku pun akan tetap di sini," tegas Jihan.
Jihan benar-benar menjadi wanita yang tidak tahu malu. Beberapa waktu yang lalu dia menghancurkan satu rumah tangga untuk keegoisannya sendiri. Sekarang, dia mengaku bagian dari sahabatnya.
"Maaf, kurasa kita tidak saling kenal. Anda jangan terlalu percaya diri setelah apa yang Anda lakukan padaku," ujar Anggun sehingga membuat semua orang terpaku.
"Tunggu! Sebenarnya ini ada apa?" Kaluna penasaran.
"Bu Jihan sudah merebut suami saya," ungkap Anggun kemudian dia berdiri lalu berniat untuk keluar dari sana. Rupanya Bagaskara menarik tangannya hingga membuat dua pria lainnya mengepal kuat.
"Kita akan selesaikan semuanya di sini. Kamu tidak perlu kabur. Ungkapkan saja segala keluh kesahmu. Kami akan mendengarnya."
"Maaf, Pak Bagas. Masa laluku bukan untuk konsumsi publik. Walaupun aku belum bisa memaafkan kelakuannya, bukan berarti Anda bisa memperlakukan saya seperti ini. Ini detik terakhir saya kerja di perusahaan Anda. Tidak perlu membayar sepeser pun sebagai ganti pekerjaan saya sehari ini. Terima kasih." Anggun berniat pergi, tetapi semua suara menahannya.
"Jangan pergi, Anggun!" ujar Firhan dan Witha bersamaan.
Anggun tidak peduli. Dia melepaskan tangan Bagaskara kemudian meninggalkan restoran dengan cepat. Firhan dan Witha pun mengejarnya. Kini hanya tersisa Bagaskara, Jihan, dan Kaluna.
"Apa sebenarnya rencanamu, Bagas? Kau sengaja membuat suamiku kembali pada kisah masa lalunya? Begitu, hah?" geram Kaluna.
__ADS_1
"Itu sebanding dengan pernikahanmu dan Witha yang sudah membuatku sakit hati, Luna. Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?" tegas Bagaskara.
"Maaf, kelakuan Anda kali ini memang tidak bisa ditolerir lagi, Pak Bagas. Anda membuat suami saya mengejar mantan istrinya," sesal Jihan.
"Itu bukan urusanku, Bu Jihan. Bukankah Anda sendiri yang sengaja merebut pak Firhan dari Anggun? Kalau sekarang posisinya seperti ini. Aku puas karena kita semua rupanya saling menyakiti."
"Bagaskara, sebenarnya apa maumu?" tanya Kaluna.
"Lepaskan Witha! Kita menikah dan hidup bahagia," jelas Bagaskara.
"Nah, apa bedanya aku dengan Anda, Pak Bagas? Anda mengatur pertemuan ini rupanya untuk merebut istri dari pria lain. Aku pelakor dan Anda pebinornya. Ini sungguh luar biasa. Tapi, aku berterima kasih pada Anda. Setidaknya saya tahu kalau mas Firhan masih mencintai mantan istrinya," sahut Jihan.
"Kau gila, Bagas! Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya mencintai Witha. Dialah satu-satunya pria yang ingin aku bahagiakan."
"Walaupun dengan pernikahan yang tidak bahagia? Ayolah, Kaluna. Wake up! Pernikahan kalian tidak akan bahagia! Aku mencintaimu, kamu mencintai Witha. Namun, Witha sama sekali tidak pernah mencintaimu. Bagaimana kalian bisa punya anak jika di dalam pernikahan kalian masih memikirkan wanita lain? Maksudku, Witha masih memikirkan kekasih masa lalunya. Kaulah orang ketiganya, Kaluna!"
Hinaan yang dilontarkan Bagaskara barusan membuat Kaluna marah. Dia tidak menyangka pertemanan yang dijalin dengan baik ternyata akan menuju ke arah seperti ini.
"Hanya sebatas pernikahan bisnis, Kaluna. Bukan kau yang menikah, tetapi antara saham kedua orang tua kalian yang akan beranak-pinak. Jadi, tolong pikirkan lagi permintaanku. Ceraikan Witha, kembalilah bersamaku."
Jihan rupanya lebih senang melihat perjuangan seorang Pebinor daripada mengejar suaminya yang entah sedang apa saat ini. Mungkin saja memaksa Anggun untuk terus bersama.
"Anggun, tunggu!" teriak Witha.
Witha dan Firhan sedang mengejar Anggun yang sebenarnya hampir mendapatkan taksi. Demi bisa kabur dengan cepat, Anggun pun melepaskan kedua sepatunya hingga Firhan dan Witha pun mengambil masing-masing sepatu itu. Seperti kisah pangeran yang mengejar Cinderella, tetapi ini lain. Mereka mengejar wanita masa lalunya. Wanita yang sama yang sudah mengisi relung hati mereka.
"Firhan, lebih baik kamu ambil mobil. Sementara aku akan mengejar Anggun. Setidaknya kita tidak akan kehilangan jejak." Witha memutuskan untuk bekerja sama.
__ADS_1
"Baiklah. Teruslah mengejar. Aku akan ke tempat parkir."
Firhan mengalah, bukan berarti kalah. Dia kembali ke tempat parkir untuk memudahkannya mengejar Anggun. Sampailah pada wanita itu merasa kelelahan hingga Witha mampu menangkap dan membawa ke dalam pelukannya.
"Witha, lepaskan aku!" Anggun meronta.
"Enggak! Kamu akan tetap seperti ini sampai Firhan datang. Kamu tidak boleh pergi. Kamu akan pergi ke mana malam-malam begini?"
"Aku akan pulang. Bagaskara memanipulasi keadaanku. Ini tidak adil. Dia memberikan semuanya begitu mudah, ternyata ada maksud tersembunyi dibalik semua ini. Lepaskan aku, Witha! Kamu tidak seharusnya memelukku seperti ini. Bagaimana kalau Kaluna tau?"
"Itu tidak masalah. Pernikahan kami tidak pernah bahagia. Aku mencintaimu, Anggun. Sampai kapan pun akan terus seperti itu. Jadi, tolong bekerjalah di tempatku. Kamu akan aman di sana," pinta Witha.
Firhan datang menggunakan mobilnya. Dia melihat mantan istrinya dipeluk dengan sangat erat oleh Witha. Mungkin ini hanyalah cara agar Anggun tidak kabur dan Firhan harus bisa memakluminya.
"Witha, bagaimana sekarang?" tanya Firhan sehingga membuat Witha melepaskan pelukan itu. Namun, tidak dengan tangan Anggun. Witha tetap menggenggamnya begitu erat.
"Bawa Anggun ke hotel. Biarkan dia menginap di sana untuk sementara waktu," perintah Witha.
"Bagaimana dengan Jihan?" tanya Firhan. Istrinya itu pasti akan marah saat tahu Firhan membawa Anggun berdua saja.
"Bukankah kita sama-sama dalam posisi tersulit? Aku minta tolong padamu, tetapi aku juga akan menolongmu. Aku akan membawa Jihan kembali."
Mendengar nama Jihan, Anggun sebenarnya sudah muak. Apalagi wanita itu sudah membuatnya menderita. Tidak mau memperpanjang masalah, Anggun akan pergi ke hotel tempat di mana dia akan aman untuk sementara waktu.
"Aku akan menggunakan taksi. Lebih baik kalian kembali saja ke restoran. Aku khawatir kalau pak Bagaskara akan membuat masalah di sana. Barangku yang ada di rumah baru, akan kuminta pak Rahman mengatakannya ke hotel."
"Kamu tidak akan pergi tanpa Firhan, Anggun. Kamu akan aman bersamanya."
__ADS_1
Bagaimana bisa Anggun berada di dalam posisi tersulit seperti ini? Ingin menolak mereka, tetapi keduanya memaksa untuk bekerja sama. Mungkin ada baiknya Anggun mau pergi bersama Firhan. Toh dia hanya akan mengantarnya saja. Nanti sesampainya di jalan, Anggun akan meminta untuk diturunkan lalu melanjutkan perjalanannya sendiri ke hotel.