ANGGUN

ANGGUN
Bab 29. Amarah Jihan


__ADS_3

Witha kembali seorang diri. Hal itu membuat Jihan semakin panik karena suaminya pasti bersama dengan wanita itu.


"Witha, di mana mas Firhan?"


"Dia kuminta mengantarkan Anggun ke tempat tinggalnya. Kamu pulang bersamaku," ucap Witha santai.


"Luna, lihat suamimu! Apa itu pantas disebut sebagai suami jika masih mengejar mantan kekasihnya?" tanya Bagaskara membuat Kaluna kesal. Sementara Witha sama sekali tidak mengerti apa pun ucapan Bagaskara.


"Tunggu! Apa ini maksudnya?" tanya Witha penasaran.


"Pak Bagas ingin merebut istrimu, Witha," sahut Jihan. Rupanya dia senang membuat orang lain kepanasan.


"Jihan! Sudah kubilang kan jangan katakan itu pada Mas Witha. Kau memang jahat, Jihan! Aku bersumpah bahwa kau akan kehilangan Firhan suatu hari nanti!" geram Kaluna kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Drama apalagi ini, Pak?" tanya Witha.


"Sama seperti Anda, Pak. Aku pun sedang mengejar masa lalu yang tak pernah bisa kugapai." Bagaskara menjawab seolah tidak terjadi sesuatu yang luar biasa.


"Witha, katakan di mana mas Firhan? Aku harus menyusulnya," ucap Jihan menyela pembicaraan dua pria itu.


"Tunggu di tempat parkir. Aku akan segera ke sana." Witha masih melanjutkan pembicaraan ini lantaran penasaran dengan ucapan Bagaskara.


Jihan tidak peduli. Dia menarik jas Witha hingga pria itu marah padanya.


"Cukup, Jihan! Bisa kan tunggu sebentar? Aku masih ada urusan dengan Bagaskara!" bentak Witha.


Keributan yang semula biasa saja menjadi semakin ricuh saat Witha kembali. Security restoran meminta mereka untuk tidak melanjutkan keributan karena mengganggu yang lainnya.


"Aku akan susul ke mana mas Firhan," geram Jihan.


"Sudahlah Witha, lebih baik kita kembali. Oh, atau kamu mau membuat kesepakatan denganku?"


"Kesepakatan apa?" tanya Witha. Sebenarnya dia sama sekali tidak peduli dengan Kaluna. Dia hanya peduli pada Anggun saja.


"Ceraikan Kaluna dan menikahlah dengan Anggun. Itu kan cita-citamu sejak dulu?"

__ADS_1


"Semula aku sudah menolak pernikahanku dengan Kaluna, tetapi keluarga besar kami yang memaksa," jelas Witha.


"Kalau begitu, berusahalah!" Bagaskara kemudian meninggalkan restoran lebih dulu. Dia sudah membayar pemesanan makanan saat reservasi tempat tersebut.


Sementara Firhan merasa senang bisa mengantarkan Anggun. Walaupun tidak bisa memiliki, setidaknya melihat mantan istrinya baik-baik saja sudah lebih dari cukup.


"Nggun, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Firhan sambil fokus mengemudi.


"Aku mencari pekerjaan, Mas. Aku nggak tahu kalau pak Bagaskara ternyata memanfaatkan aku. Aku tidak mengerti apa tujuannya, tetapi dia memberikan aku semua fasilitas yang bahkan tidak pernah aku dapatkan di pekerjaan sebelumnya."


"Harusnya kita tidak bercerai, Nggun. Kita bisa melanjutkan kehidupan di tempat lain," sesal Firhan.


Anggun terisak. "Harusnya memang seperti itu, Mas. Tapi kita tidak bisa lari dari kejaran Jihan. Aku paham betul siapa dia. Namun, mengapa dia tega menusuk sahabatnya sendiri?"


Firhan menepikan mobilnya. Biarlah kali ini dia dianggap pria kurang ajar telah pergi bersama dengan mantan istrinya. Mau bagaimana lagi?


"Mas, kenapa kamu tepikan mobilnya? Aku harus segera ke hotel dan tidur di sana, Mas. Aku lelah hari ini," ujar Anggun di sela-sela isakannya.


"Aku masih merindukan kamu, Nggun. Tidak masalah kalau aku dianggap sebagai suami yang jahat. Pergi dengan mantan istrinya lalu mengenang masa lalu. Jujur, aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, Nggun. Jihan selalu saja punya alasan untuk mengikat aku."


"Mas, lebih baik segera antarkan aku ke hotel. Hanya untuk malam ini. Besok aku harus kembali," ujar Anggun. Dia tidak mau diserang balik oleh Jihan karena pergi bersama suaminya.


"Kamu takut dianggap pelakor kan sama Jihan?"


Anggun menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Lucu ya, Mas. Pelakor teriak pelakor. Maaf, aku bukan wanita seperti itu. Ayo, lekas antarkan aku!"


"Sebentar saja, Nggun. Ini momen langka. Siapa tahu kehidupanku terakhir hari ini bisa bertemu denganmu."


"Mas Firhan bicara apa? Justru dengan adanya Jihan, kesehatan jantung Mas akan jauh lebih baik. Bergelombang, tidak datar saat bersamaku."


"Ngaco kamu, Nggun. Yang ada aku bisa serangan jantung," ucap Firhan tersenyum.


Sudah lama Firhan tidak sebahagia ini. Walaupun candaan receh ini tidak berarti bagi Anggun, tetapi bagi Firhan ini merupakan mood booster agar kuat menjalani pernikahan nerakanya.


"Nggun, terima kasih. Setidaknya kamu sudah membuatku tersenyum walaupun nantinya harus kembali lagi seperti semula. Aku antar sekarang, ya?" ujar Firhan lagi.

__ADS_1


"Ya, Mas. Sama-sama."


Sementara Witha sudah ditunggu istrinya di tempat parkir. Witha sendiri sempat bertemu dengan Rahman, sopir yang membawa Anggun ke restoran. Dia juga sudah meminta sopir itu untuk mengantarkan barang-barang Anggun ke hotel. Tidak hany itu, Witha memberikan sejumlah uang agar Rahman mau melakukan permintaannya.


"Mas, kenapa lama sekali?" tanya Kaluna.


"Aku bicara sebentar dengan Bagaskara." Witha membuka pintu mobilnya lalu Kaluna pun mengikuti hal yang sama.


"Mas, batalkan perjanjian kerjasama perusahaan kita dengan Bagaskara!" perintah Kaluna.


Witha yang sedianya hampir mengemudikan mobil lalu beralih menatap sang istri.


"Kamu pikir bisnis itu seperti urusan cinta monyet yang bisa diselesaikan kapan pun? Kamu yang minta aku menjalani kerjasama ini. Kamu pun yang memintaku untuk membatalkannya. Apa maumu sebenarnya?"


"Sungguh, Mas. Aku tidak tahu kalau Bagaskara itu sangat mencintai aku. Aku sudah menolaknya dan tetap ingin bersamamu." Suara parau Kaluna sudah menjalar ke telinga Witha. Itu artinya dia sedang menangis.


"Harusnya kamu terima cintanya. Daripada kita melanjutkan pernikahan yang sama sekali tidak pernah bahagia ini."


"Mas, kamu bicara apa?" Kaluna menyenggol lengan Witha.


"Apalagi, Kaluna? Kita tidak bahagia dengan pernikahan ini. Harus aku tegaskan berapa kali. Aku tidak bahagia!"


"Tapi aku bahagia, Mas."


"Bohong! Kamu akan tersiksa dengan hubungan ini. Bagaskara memberikan jalan tengah untuk hubungan kita. Kamu bisa bersamanya dan aku akan kembali pada wanita masa laluku. Itu akan jauh lebih adil daripada terperangkap pernikahan seperti ini."


"Mas, lebih baik kita pulang sekarang. Jangan sampai amarah menguasai kita," pinta Kaluna.


Barulah Witha segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah. Ya, rumah yang sebenarnya disiapkan untuk Anggun, tetapi ditinggali bersama Kaluna. Rumah yang sebenarnya didesain Witha untuk kekasihnya kala itu. Siapa sangka mamanya telah mengubah kehidupan Witha secara mendadak.


Jihan sendiri mencoba menghubungi suaminya. Namun, pria itu sama sekali tidak mengangkat panggilan. Kalaupun harus mencari, Jihan tidak tahu harus ke mana. Witha pun sama sekali tidak mau jujur padanya.


"Awas saja kamu, Nggun! Kalau sampai kamu merayu mas Firhan lagi, aku tidak akan segan berbuat lebih kejam lagi," gerutu Jihan.


Akhirnya Jihan memutuskan untuk pulang ke rumah dan menunggu suaminya di sana.

__ADS_1



__ADS_2