ANGGUN

ANGGUN
Bab 54. Kasih Pengertian


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Zayn masih bersikap sama. Tidak ada yang berubah dalam dirinya. Anggun merasa kalau tidak perlu mencurigai suaminya berlebihan.


Kehamilannya pun berjalan dengan lancar. Sudah memasuki trimester kedua. Itu artinya sebentar lagi harus mengadakan syukuran empat bulanan kehamilannya.


"Sayang, sebentar lagi usia kehamilanku memasuki empat bulan. Menurutmu kita adakan acara ini di mana? Apa kamu memiliki rencana lain?" tanya Anggun saat Zayn libur.


"Aku belum memikirkan itu, Sayang. Kalau kamu memang memiliki rencana, tinggal buat daftarnya saja. Aku juga akan berpikir."


"Hemm, terima kasih, Mas," ujar Anggun.


Saat Anggun sedang mempersiapkan syukuran kehamilannya, kabar duka datang dari keluarga Firhan. Jihan dikabarkan telah melahirkan, tetapi bayinya prematur dan tidak bisa bertahan hidup.


Walaupun Jihan pernah menyakitinya, tetapi Anggun tetap tidak tega. Tanpa sengaja air mata Anggun menetes. Hal itu tidak luput dari pandangan suaminya.


"Nggun, kamu kenapa?"


"Anak Jihan meninggal, Mas. Aku sebagai wanita turut berdukacita dan sedih. Aku tidak menyangka kalau Jihan akan kehilangan buah cintanya dengan mas Firhan. Padahal dia sudah menginginkan anak semenjak kami menikah dulu," jelas Anggun.


"Mungkin itu balasan Allah padanya."


"Tidak seperti itu, Mas. Aku sama sekali tidak pernah memiliki dendam atau apa pun lagi semenjak menikah denganmu. Aku merasa kalau kehidupanku sudah jauh lebih baik ketimbang saat itu."


"Apa kamu mau datang ke sana untuk melayat?" tanya Zayn menawarkan. Mumpung hari ini dia libur.


"Nggak, Mas. Aku takut Jihan salah paham. Apalagi aku sedang hamil. Jelas dia akan mengatai aku sengaja pamer atau apalah. Aku nggak bisa seperti itu terus. Aku juga butuh kewarasan, Mas."


"Hemm, baiklah."


Hari ini kesibukan Anggun dan Zayn di rumah adalah menyusun rencana syukuran empat bulanan. Belum diputuskan akan diselenggarakan di mana, tetapi ART di rumahnya sangat membantu. Dia juga menambahkan list belanja yang belum masuk ke catatan majikannya.


"Bibi mau belanja sendiri atau aku temani?" tanya Anggun. Ada beberapa kebutuhan yang harus dibeli lebih dulu. Beberapa lagi bisa menyusul saat mendekati syukuran kehamilannya.


"Sama Ibu saja. Bibi kalau di supermarket suka bingung, Bu. Maklum tempatnya luas dan terkadang pusing juga."


"Mas antar aku dan Bibi, ya? Bisa?"

__ADS_1


"Tentu. Ayo, daripada aku di rumah nggak ada kerjaan apa-apa."


Akhirnya Zayn memutuskan untuk mengantarkan sang istri berbelanja. Namun, dia tidak masuk karena ingin bersantai di dalam mobil sambil mendengarkan musik.


Anggun dan bibi segera masuk ke supermarket. Bibi mengambil troli kemudian mendorongnya di samping Anggun.


"Bu, kita beli bahan-bahan keringnya dulu, ya? Sama kebutuhan dapur yang sudah habis. Nanti mendekati hari H saja kita belanja ke pasar. Kalau Ibu nggak bisa, nanti biar bibi saja."


Anggun beruntung memiliki ART yang sangat peka. Terlebih bukan seperti bibinya saja, tetapi juga sudah seperti pengganti orang tuanya.


"Iya, Bi. Terserah Bibi saja."


Saat sedang fokus belanja, dari arah lurus sejauh mata memandang, Anggun menemukan sosok wanita yang tempo hari memeluk suaminya. Ingatan Anggun langsung teringat pada kejadian itu.


"Bibi lanjutkan belanja dulu, ya. Aku ada kepentingan sebentar. Nggak lama aku balik lagi kok, Bi," pamit Anggun.


"Iya, Bu. Bibi tunggu di sini, ya."


Anggun pun mengangguk. Dia segera mengejar wanita yang sedang membawa troli itu. Beruntung karena wanita itu sedang memilih buah-buahan.


"Ya?" ujar wanita itu.


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Anggun.


"Maaf, apakah Anda mengenalku?" Wanita itu terlihat bingung.


"Aku memang tidak mengenal Anda sebaik suamiku," ujar Anggun dengan rasa nyeri menjalar di ulu hatinya.


"Suami? Maaf, aku nggak mengenal suami Anda," ujar wanita itu berkilah.


"Yakin kalau Anda tidak mengenal dokter Zayn?"


Semula wanita itu fokus pada belanjanya, tetapi setelah mendengar nama Zayn, dia segera menghentikan aktivitasnya.


"Maaf, ada apa, ya?"

__ADS_1


"Mbak tahu kan kalau dokter Zayn itu sudah menikah dan memiliki seorang istri?" Anggun sebenarnya bisa saja membentaknya, tetapi dia tidak akan mendapatkan informasi apa pun. Jadi, sebisa mungkin dia harus sabar dan tetap menahan diri.


"Menikah? Aku tidak tahu. Setahuku Zayn masih singel. Dia pria dewasa yang anti menikah," ujar wanita itu.


"Aku Anggun, istrinya dokter Zayn. Kami telah menikah dan beberapa bulan lagi akan menjadi orang tua. Jadi, mengapa Anda tiba-tiba memeluk suamiku di tempat umum? Apa Anda tidak memikirkan dampak buruk apabila dilihat oleh orang lain?" cerocos Anggun yang mulai tidak sabar.


Wanita itu terdiam. Sebenarnya dia juga terkejut melihat seorang wanita yang mengaku sebagai istri Zayn.


"Itu tidak mungkin. Aku Anita, mantan kekasih Zayn saat kuliah. Aku meninggalkannya karena dia sama sekali tidak memiliki rencana untuk menikah. Makanya saat aku bertemu di rumah sakit, aku refleks memeluknya dan berterima kasih karena sudah menolong mamaku," jelas Anita.


"Refleks memeluk? Anda itu sangat lucu, ya. Coba posisikan Anda menjadi aku. Akan semarah apa seorang istri melihat suaminya dipeluk wanita lain? Jika memang Anda tidak memiliki urusan lain dengan suamiku, lebih baik jaga sikap. Kita sama-sama perempuan, Mbak. Jelas Anda tahu di mana posisi sakit hati itu berada," jelas Anggun kesal.


Anita tampak bingung. Sejujurnya pengakuan Anggun membuatnya bertanya-tanya. Zayn yang dingin tiba-tiba menikah. Pernikahannya pun seakan dirahasiakan dari semua orang. Mungkin cuma keluarganya saja yang tahu.


"Tunggu!" Anita mencegah Anggun yang berniat pergi.


"Ada apa lagi?" Anggun membalikkan badan.


"Zayn tidak mungkin menikah denganmu. Dia bahkan tidak menggunakan cincin kawin di jarinya," ujar Anita masih tidak terima.


"Gak semua pria menikah itu mau memakai cincin kawin, Mbak! Apa kurang bukti kalau cincin yang kupakai ini adalah pemberian dari suamiku?" Anggun mengangkat salah satu tangannya dan terlihat cincin indah bertengger di sana.


"Enggak! Kamu pasti mau nipu aku." Anita masih tidak terima. Dia yang menyakiti, tetapi seolah yang paling tersakiti.


"Udahlah, Mbak. Repot juga kalau ngomong sama orang yang gak paham dan gak bisa menerima keadaan. Lebih baik Mbak jaga diri. Jangan sampai membuat keributan lagi. Aku udah baik mau maafin kekhilafan Mbak. Cuma kalau Mbak keterlaluan, tahu kan fungsi jari-jari ini?"


Anita menggeleng. Dia benar-benar terlihat syok. Dia juga berusaha menyembunyikan perasaannya dan ingin bertanya pada Zayn secara langsung.


"Fungsi jari-jari dan kuku tajam ini akan kugunakan untuk mencakar wanita seperti Mbak jika berani macam-macam sama aku!" tegas Anggun kemudian kembali ke ART-nya yang mulai cemas karena majikannya belum kembali.


"Ibu dari mana? Bibi cemas takut Ibu tinggal karena bibi kan gak bawa uang, Bu," ujar bibi.


"Anu, Bi. Habis kasih pengertian sama kucing garong," ujar Anggun gemas.


__ADS_1


__ADS_2