
Witha melewati koridor menuju ke ruangannya. Saat berniat masuk, ruangannya tampak terbuka sedikit. Tidak ada orang yang berani masuk selain dirinya.
Ada apa ini? Mengapa pintu ruanganku terbuka?
Witha masuk kemudian melihat Kaluna duduk di meja kerjanya.
"Mas, kamu baru datang? Sudah bicara pada Anggun?" tanya Kaluna. Walaupun hatinya pedih perih, dia akan mencoba segala cara untuk memberikan yang terbaik.
"Kamu cemburu?"
"Enggak, Mas. Aku sudah lelah cemburu sama kamu. Kan kita sudah sepakat bahwa aku akan melakukan program kehamilan dan kamu menikahi Anggun."
Ada rasa nyeri, hancur, sakit, dan dilema saat menyebut nama wanita yang sebentar lagi akan menjadi madunya.
"Iya. Lalu, kedatanganmu kemari untuk apa? Aku mau bekerja. Lebih baik kamu pulang saja." Witha sedang tidak baik-baik saja setelah mendapatkan penolakan dari Anggun.
Kaluna berdiri lalu mempersilakan suaminya duduk. Setelah Witha duduk, Kaluna berada di belakangnya kemudian memeluk leher pria itu dengan penuh kerinduan. Aroma maskulin dari parfum yang dipakai Witha selalu membuat Kaluna mabuk kepayang.
Inilah yang aku rindukan darimu, Mas. Kamu nggak menolak setiap sentuhanku.
"Luna, jangan seperti ini! Malu dilihat karyawanku nanti kalau mereka masuk."
Kaluna melepaskan tangannya lalu beralih ke sisi meja. Dia menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di atas meja. Lalu, matanya menatap Witha seolah seperti sekretaris genit yang menggoda bosnya.
"Luna, lebih baik kamu duduk di sofa. Biarkan aku bekerja. Jangan seperti ini!"
"Mas, hari ini kamu harus libur. Sudah setengah hari kamu menemui calon maduku, kan? Nah, giliranmu memenuhi keinginanku. Kita pergi ke dokter kandungan lalu melakukan konsultasi program kehamilan. Ingat, kamu sudah janji padaku!"
Alih-alih menolak, Kaluna terus saja memaksanya hingga mereka pun pergi ke rumah sakit.
Sementara di hotel, Anggun baru saja bangun saat makan siang dikirim ke kamarnya. Dia memegangi kepalanya yang masih sedikit berat, tetapi jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.
"Aku harus segera pergi siang ini," ujar Anggun setelah menutup pintu kamarnya kembali.
Anggun lekas menikmati makan siangnya dengan cepat. Setelah itu, dia mengemasi beberapa barangnya lalu mengecek dompet, ponsel, dan beberapa dokumen penting miliknya.
"Semuanya sudah lengkap. Aku harus keluar sekarang. Sebelum Jihan atau siapa pun datang kemari. Aku malas meladeni mereka. Aku akan pulang kampung dan memulai usaha baru di sana."
__ADS_1
Baru saja melakukan check out, rupanya Firhan sudah berdiri di belakangnya. Pria itu menatap Anggun dalam diamnya.
"Mas Firhan?"
"Kamu mau balik sekarang? Kan masih ada semalam lagi."
"Aku pulang aja, Mas. Nggak enak nanti kalau tiba-tiba Jihan atau siapa pun datang ke sini."
"Kamu tenang aja. Dia hari ini masuk kerja kok. Oh ya, apa mau diantarkan pulang? Aku cuma mau ketemu sama orang tuamu saja."
"Ngapain, Mas?"
"Cuma mau nitip buat jagain anaknya saja. Mudah-mudahan kita masih bisa ditakdirkan rujuk kembali."
Anggun terdiam lagi. Dia memang merindukan sosok Firhan dari berbagai sisi. Dia tipe pria yang pandai ngemong, sabar, dan penyayang. Hanya saja keputusan sepihak Anggun untuk bercerai memang ada alasan.
"Mas tolong jangan bicara seperti itu. Aku maupun ibu dan bapak pasti sedih. Mereka mencoba legowo dengan keputusan yang kubuat. Mereka pun memakluminya."
"Bicara di mobil saja, Nggun. Aku masih ingin mengobrol banyak denganmu. Oh ya, apa pak Witha datang ke sini?"
"Kamu masih mencintainya?"
Anggun menggeleng. "Mana mungkin aku mencintai suami orang, Mas."
"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu padaku? Apa kamu sudah tidak cinta lagi setelah apa yang kita lalui bersama?"
Firhan membantu membawa tas Anggun ke mobil. Diletakkannya tas itu di jok belakang sementara Anggun duduk di depan.
"Mas, kamu milik Jihan sekarang. Aku nggak mungkin ngelakuin apa yang Jihan lakuin ke aku. Apa bedanya aku sama dia?"
Firhan yang tidak pernah bahagia di pernikahan keduanya. Dia berharap masih ada kesempatan untuk kembali pada Anggun tanpa harus bersitegang dengan Witha, teman bisnisnya.
"Aku akan memperjuangkanmu dalam setiap doaku. Kalaupun kita tidak bertemu di sini, semoga saja di kelahiran berikutnya kita bisa bertemu."
"Maksud Mas, reinkarnasi?" Anggun tersenyum.
"Iya, tapi mas senang lihat kamu senyum seperti barusan," ujar Firhan sesekali melirik ke arah Anggun.
__ADS_1
"Jangan melirikku, Mas. Nanti istrimu marah. Oh ya, turunkan di depan saja, Mas. Di situ aku bisa nunggu bus." Anggun menunjuk perempatan lampu merah yang hanya beberapa meter saja.
"Jangan, Nggun. Aku antar kamu ke Kafe saja. Tunggu aku di sana. Aku akan mengantarmu pulang."
"Tolong jangan buat kehidupanku semakin rumit, Mas."
Firhan pun akhirnya menyerah dan membiarkan Anggun turun di perempatan jalan. Tak lupa dia mengambil tas yang ada di jok belakang.
"Mas, aku pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik." Anggun melambaikan tangan kemudian menantikan bus yang akan menuju ke tempat tinggalnya.
Firhan dan Anggun dalam posisi aman. Sementara Witha dan Kaluna, keduanya ribut di depan dokter kandungan.
"Dokter, program kehamilan apa saja yang bisa dilakukan tanpa melibatkan suami secara langsung?" tanya Witha.
"Apa maksudmu, Mas? Mengapa kamu tanya seperti itu? Kita ke sini untuk melakukan program kehamilan, Mas. Bukan penolakanmu padaku!"
Witha mau melakukan program kehamilan, tetapi tidak mau menyentuh istrinya. Dokter pun cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasutri di hadapannya.
"Mohon maaf, Ibu dan Bapak. Kalau kalian memang ingin bertengkar, tolong jangan di ruangan saya. Sebaiknya sebelum mengambil keputusan untuk konsultasi program kehamilan, dibicarakan baik-baik di rumah."
"Itu sudah saya pikirkan, Dokter. Aku mau melakukan program kehamilan dengan melakukan inseminasi buatan pada istriku. Itu saja," ujar Witha membuat Kaluna meradang.
Mereka pun akhirnya keluar tanpa mendapatkan jawaban apa pun. Kaluna terus mengomel sepanjang jalan menuju ke tempat parkir.
"Mas, kamu jangan egois! Aku sudah memberikan kesempatan padamu untuk menikah dengan Anggun. Mengapa kamu masih mempersulitku, Mas? Kita ke rumah sakit untuk konsultasi dan melakukan check up. Mungkin di antara kita ada yang bermasalah supaya segera bisa di atasi!" jerit Kaluna.
Witha menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan sehingga Kaluna pun menabraknya.
"Mas!" pekik Kaluna.
"Kamu ingin hamil, bukan? Aku sudah memberikan jalan tengahnya. Kamu bisa hamil dengan melakukan inseminasi buatan. Kamu paham, kan?"
Witha sama sekali tidak ingin menyentuh istrinya sebelum sah menjadi suami Anggun.
"Mas, kamu egois! Kamu pikir aku wanita murahan yang bisa hamil dengan melakukan cara seperti itu? Aku dan kamu adalah pasangan suami istri. Aku maunya pembuahan dilakukan secara normal layaknya suami istri, bukan dengan alat!"
__ADS_1