ANGGUN

ANGGUN
Bab 16. Memiliki Calon


__ADS_3

Jihan mendorong kopernya hingga jatuh di lantai kostnya. Selama ini Jihan benar-benar dibutakan oleh kecemburuan pada Anggun. Wanita yang berjuluk sahabatnya yang selalu disukai banyak pria, termasuk Firhan.


Pertama dimulai dari Witha. Pria yang berasal dari keluarga kaya raya menjalin hubungan dengan Anggun sebagai seorang kekasih. Namun, Jihan bahagia saat tahu Anggun ditinggal menikah oleh pria itu.


Lalu, Moiz. Pria desa yang sama sekali tidak masuk list kriteria Jihan sama sekali. Hubungan yang dikira Jihan akan bertahan lama rupanya harus hancur saat itu juga. Anggun menjanda karena Moiz merupakan pria brengsek yang menginginkan uang Anggun saja.


Terakhir, saat tahu Anggun dilamar oleh Firhan. Pria yang menjadi atasan Anggun di pabrik malah membuat Jihan semakin cemburu. Dia berharap Anggun akan menolak lamaran tersebut. Jihan tahu kalau Firhan adalah sosok sempurna yang sangat misterius, bahkan statusnya saja tidak banyak yang tahu.


"Sialan kamu, Anggun! Semua pria terus saja melihatmu tanpa memandangku sedikit pun. Kurang apa aku? Aku cantik, menarik, dan aku pun memenuhi kriteria pria seperti Firhan. Aku bukan wanita mandul sepertimu, Anggun! Kamu memang bodoh menjadi wanita yang terlalu lugu hingga tidak menyadari bahaya terus saja mengancammu," ucap Jihan sambil bercermin di kamarnya.


Jihan cukup puas membuat Anggun kehilangan kepercayaan pada suaminya. Dia pasti sangat sulit memaafkan sehingga keputusannya nanti pasti akan menceraikan Firhan. Setelah itu, Jihan akan masuk ke dalam kehidupan Firhan lalu menjadi satu-satunya istri sah duda tampan itu.


Keesokan harinya, Anggun terpaksa pergi ke rumah sakit terdekat. Ada hal yang ingin disampaikan perihal kondisi kesehatannya. Menurut dokter, sebenarnya Anggun sehat. Itu diagnosis sementara yang diberikan. Untuk memastikan kejelasannya, dokter menyarankan untuk mengikuti serangkaian tes.


Sayangnya tes tersebut tidak bisa dilakukan hari ini juga. Butuh waktu untuk mengikuti serangkaian tes tersebut hingga dokter menyarankan untuk mencari rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggalnya. Itu akan lebih memudahkan Anggun untuk melanjutkan tes yang lainnya sampai benar-benar diketahui penyebabnya.


"Bagaimana dengan vitamin ini, Dokter?" Anggun memberikan sampel vitamin yang diminumnya selama ini.


Dokter itu tersenyum karena obat yang dikonsumsi Anggun ini adalah pencegah kehamilan. Bukan vitamin yang sebenarnya.


"Ini seperti bukan vitamin, Bu. Tetapi obat pencegah kehamilan."


Jantung Anggun bekerja semakin cepat. Jadi, dia tidak bisa hamil bukan karena mandul, tetapi Jihan sudah membuatnya menjadi wanita yang sama sekali tidak beruntung.


Setelah selesai dari rumah sakit, Anggun kalut. Mau pulang ke rumah orang tuanya, pasti mereka bertanya-tanya. Sementara pulang ke rumah suaminya, Firhan pasti mencoba untuk menjelaskan kejadian kemarin. Anggun tidak siap mendengarkan semuanya.

__ADS_1


Anggun harus kuat. Lebih baik dia pulang ke rumah suaminya lebih dulu. Sebelum memutuskan sesuatu, mungkin Anggun akan tinggal di sana untuk sementara waktu. Dia pun ingin tahu apa yang akan diputuskan Firhan padanya.


Anggun naik bus sore hari untuk kembali. Sampai di rumah kemungkinan dini hari, bahkan bisa sampai besok pagi kisaran jam 3.


Keesokan harinya, sekitar jam 2 dini hari, Anggun baru saja turun dari motor tukang ojek yang mengantar ke rumah suaminya. Anggun memutuskan masuk tanpa mengabari Firhan lebih dulu. Lagi pula ini masih rumahnya dan Anggun juga memiliki kunci cadangan rumah itu.


Anggun memutuskan masuk lalu menuju ke lantai atas di mana kamarnya berada. Lampu ruang tamu sampai lantai 2 dibiarkan menyala. Walaupun Firhan tipikal pria yang selalu rapi dan berhemat, tetapi ini seperti bukan sifat pria itu.


Kamar tidur yang biasa ditempati dengan suaminya dibiarkan terbuka. Anggun melihat Firhan tidur tanpa menggunakan selimut. Merasa tidak ingin mengganggu, Anggun memilih masuk ke kamar sebelah.


Sebelum tidur, Anggun memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu. Kebetulan dia membawa beberapa bajunya yang masih ada di dalam koper sehingga tidak perlu pergi ke kamar sebelah.


"Aku tidak tahu keputusanku ini benar atau salah, Mas. Sejujurnya aku masih tidak percaya bahwa kalian menjalin hubungan di belakangku. Hubungan kalian rupanya sudah sejauh itu. Lalu, aku harus percaya siapa, Mas? Kamu atau Jihan yang sama-sama sudah membuatku dilema?"


Sebagai istri yang baik, Anggun masih menyiapkan sarapan pagi. Namun, dia tidak ingin bertemu dengan suaminya. Dia memutuskan untuk menyelesaikan masakannya lalu pergi pagi-pagi sekali.


"Loh, Mbak Anggun tumben datang pagi sekali?" tanya security.


"Iya, Pak. Kemarin sempat tidak masuk karena ada kepentingan keluarga," jawab Anggun asal.


"Syukurlah, Mbak. Anak-anak merasa kacau kalau Mbak Anggun tidak masuk."


Bukan karena mereka suka pada Anggun, tetapi posisi Anggun yang sangat penting untuk kelancaran kinerja mereka.


Sementara di rumah, pagi-pagi sekali bel sudah berbunyi. Firhan segera turun dan mengira bahwa itu adalah Anggun. Rupanya dia salah sangka. Ternyata Cakra yang datang.

__ADS_1


"Cakra? Kok tumben pagi-pagi sudah sampai di sini?" Firhan membuka pintu gerbang lalu mempersilakan masuk.


"Saya baru pulang dari Vila, Pak. Saya merasa tidak enak hati sehingga harus datang ke sini lebih dulu."


"Duduklah!" perintah Firhan. Sementara dia akan pergi ke dapur sebentar untuk mengambilkan air mineral.


Firhan terkejut saat mendapati meja makan sudah penuh dengan makanan. Tidak hanya itu, aroma kopi yang dikenalnya juga ada di sana.


"Aku tidak sedang bermimpi, kan?" Firhan menyentuh beberapa makanan lalu mencicipinya. Pasti Anggun belum lama berada di rumah.


Jika bukan karena ada Cakra di depan, Firhan mungkin lupa kalau memiliki tamu. Bergegas keluar baru setelah Cakra pergi, Firhan akan datang ke pabrik tempat Anggun bekerja.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu," ucap Firhan sambil meletakkan dua botol air mineral berukuran kecil.


"Iya, Pak. Tidak masalah. Oh ya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Bu Anggun? Setelah menghilang dari restoran, Bapak juga pergi dari sana. Apa ada masalah serius?"


Tidak mungkin Firhan membongkar kekacauan rumah tangganya. Cakra adalah rekan kerja sekaligus anak buah di perusahaan.


"Ah, tidak ada apa-apa, Cakra. Hanya saja istriku harus pulang lebih awal karena mendapatkan telepon dari orang tuanya. Mertuaku berniat mampir, tetapi karena kami di luar kota, mereka memutuskan untuk kembali," ucap Firhan berbohong.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Lalu, mengenai Mbak Jihan, bagaimana, Pak? Sebenarnya saya suka dengannya, tetapi—"


"Kenapa ragu, Cakra? Apa ada masalah?" Firhan gugup sehingga memotong ucapan Cakra begitu saja.


"Bukan, Pak. Cuma masalahnya dia sudah punya calon katanya. Saya pikir masih singel seperti yang Bapak katakan."

__ADS_1


Firhan pun baru tahu kenyataan itu. Maksud calon bagi Jihan sebenarnya adalah Firhan itu sendiri.


__ADS_2