
Bagaskara terlalu baik. Setelah meeting selesai, dia memerintahkan Arif untuk mengantarkan Anggun ke rumah yang akan ditempati selama bekerja di perusahaan. Sebenarnya Anggun menolak, tetapi Bagaskara tetap memaksa.
"Tolong jangan tolak, Bu Anggun. Ini dari perusahaan, bukan dari pribadi saya sendiri. Nanti pak Arif yang akan mengantarkan Ibu ke sana. Setidaknya Ibu akan lebih nyaman untuk mendampingi saya bekerja."
Terharu, malu, sekaligus perasaan tidak menentu. Bagaskara merupakan atasan yang terlalu baik. Anggun bahkan belum tahu akan tinggal di mana nantinya.
Tidak hanya itu, rupanya Bagaskara juga menyiapkan satu mobil khusus untuk mengantarkan Anggun ke mana pun pergi. Karena dia tidak bisa mengemudi, Bagaskara sudah menyiapkan sopir untuknya.
"Pak, ini terlalu berlebihan. Saya juga harus pakai sopir segala. Saya bisa naik motor, Pak," tolak Anggun.
"Rezeki jangan ditolak, Bu. Pak Rahman yang akan menjadi sopir Ibu nantinya. Beliau baik, kok. Jangan khawatir karena pekerja di perusahaan ini semua orang sudah bisa dipastikan baik. Saya tidak mau memiliki karyawan toxic. Makanya Ibu tidak perlu takut," jelas Bagaskara.
"Terima kasih, Pak." Anggun pamit.
Rupanya Rahman dan Arif sudah menunggunya di lobi depan. Setelah tahu Anggun datang, Arif segera memperkenalkan Anggun pada Rahman.
"Nah, Pak Rahman, itu Bu Anggun. Pak Bagaskara meminta Bapak mengantarkan ke mana pun Bu Anggun pergi. Termasuk antar jemput ke kantor. Selain itu, nanti Bapak akan tinggal di dekat rumah Bu Anggun yang sudah disediakan dari perusahaan," jelas Arif.
"Baik, Pak Arif. Saya Rahman, Bu. Sopir yang akan menemani Anda setiap hari."
"Panggil Anggun saja, Pak." Anggun melihat kalau Rahman sudah berumur. Lebih pantas dipanggil bapak, ketimbang sekadar sopir saja.
"Tapi Bu, sangat tidak pantas kalau saya memanggil seperti itu. Pak Bagaskara pasti akan marah," tolak Rahman.
"Kalau begitu, panggil Mbak Anggun saja, Pak."
Setelah mendapatkan kata sepakat, Anggun duduk di jok belakang. Sementara Arif menggunakan mobilnya sendiri.
__ADS_1
Rahman sudah tahu di mana lokasi rumah yang akan ditempati oleh Anggun selama bekerja di kota ini. Tidak hanya itu, kebaikan Bagaskara juga menyediakan beberapa pakaian bagus yang sudah dititipkan pada Rahman.
"Mbak, nanti di bagasi ada beberapa paper bag. Itu dari pak Bagaskara buat Mbak," jelas Rahman.
"Apa itu, Pak? Pak Bagaskara tidak mengatakan apa pun." Anggun bingung.
"Saya juga nggak tahu, Mbak. Nanti Mbak baca pesannya sendiri."
Anggun bahkan tidak tahu status Bagaskara itu. Duda kah? Atau pria beristri? Kebaikannya melebihi para mantan Anggun, kecuali Moiz.
"Terima kasih, Pak."
Anggun sangat menikmati sekali perjalanan menuju rumah barunya. Ibu dan bapaknya pasti senang mendapat kabar baik seperti ini. Niat Anggun untuk menghubungi orang tuanya diurungkan lantaran dia mendapatkan pesan dari Bagaskara.
[Bu Anggun siap-siap, ya. Nanti setelah jam 7 malam, Pak Rahman akan mengantarkan Ibu ke sebuah restoran. Kita makan malam di sana. Oh ya, Ibu jangan khawatir. Bukan saya saja kok. Ada beberapa klien yang datang. Jadi, Ibu bisa kan temani saya?]
Anggun membaca pesan tersebut lalu menarik napas panjang. Rupanya pekerjaan ini belum berhenti sampai dia kembali ke rumah. Pantas saja dia mendapatkan paper bag dari Bagaskara. Anggun hanya menebak-nebak bahwa isinya adalah gaun. Semoga saja tidak seperti gaun yang minim bahan.
"Sudah, Mbak. Bahkan sebelum Mbak bilang barusan, saya sudah tahu. Tapi katanya sampaikan nanti saja setelah pak Arif pergi."
Anggun sama sekali tidak mengerti. Bagaskara meminta Arif untuk mengantar ke rumah barunya. Lalu, dia meminta pesan ini disampaikan setelah Arif pergi. Apa sebenarnya yang sedang Bagaskara lakukan?
Arif turun lebih dulu. Baru disusul Anggun dan Rahman. Arif menyerahkan kunci rumah untuk Anggun disaksikan oleh Rahman.
"Bu Anggun, ini adalah rumah yang akan Ibu tempati. Kalau misalnya Ibu butuh ART, bisa sampaikan kepada saya," ucap Arif.
"Oh, tidak perlu, Pak. Saya biasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."
__ADS_1
Takutnya dibilang ngelunjak. Padahal rumah, mobil, dan sopir sudah diberikan. Masih mau minta ART juga. Sebenarnya Anggun ini karyawan Bagaskara atau selingkuhannya?
"Kalau begitu saya langsung pamit, Bu Anggun. Selamat atas rumah barunya," ujar Arif.
"Terima kasih, Pak."
Setelah Arif pergi, Anggun mengambil paper bag di bagasi. Sebenarnya Rahman mau mengambilkan, tetapi ditolak oleh Anggun.
"Biar saya saja, Pak. Bapak istirahat saja. Nanti malam harus nganter saya juga, kan?"
Rahman mengangguk. Anggun membawa paper bag itu ke kamarnya. Rumah berlantai dua dengan kamar utama berada di atas. Rahman bisa tidur di kamar yang ada di luar. Rupanya rumah ini memang sudah di setting sedemikian rupa.
"Ah, aku tidak tahu apa motif pak Bagaskara memberikan aku rumah dan sopir seperti ini. Kalau dia sudah mempunyai istri, syukurlah. Kalau belum, jangan sampai aku terlibat skandal dengan dirinya," gumam Anggun sambil membuka paper bag.
Beberapa adalah pakaian kantor resmi. Lumayan bagus dan tidak terbuka. Rata-rata adalah kemeja lengan panjang dan celana panjang. Rok sama sekali tidak ada. Selain itu, ada beberapa blazer. Entah, mengapa semua baju-baju ini pas saat dipakainya.
Yang paling terakhir dibuka adalah sebuah gaun yang ternyata akan digunakan untuk makan malam nanti. Gaun warna hijau army kombinasi satin dan brokat. Untuk bagian atas lumayan tertutup, tetapi berlengan pendek. Sementara untuk terusan bawahnya adalah rok panjang sampai mata kaki.
"Oh, apalagi ini?" Ada sebuah pesan terselip di sana.
[Kalau tidak ada sepatu yang cocok, bisa minta Pak Rahman antar ke toko sebelum ke restoran.]
Sejenak Anggun merasa dilambungkan, tetapi beberapa detik kemudian dia menyadari ini tidak benar. Hubungan Anggun dan Bagaskara hanya antara atasan dan bawahan saja. Tidak boleh lebih dari itu.
Sementara Bagaskara sedang berada di rumahnya. Dia tidak sabar ingin melihat pemandangan yang seru nanti malam.
"Aku tidak tahu bagaimana Witha akan kuat melihat wanita masa lalunya terlihat sangat cantik. Dia pikir sudah berhasil mendapatkan Kaluna karena perjodohan. Lihat saja apa yang akan dilakukan Kaluna saat melihat Anggun di sana. Aku akan datang dan memperkenalkan Anggun sebagai sekretarisku sekaligus calon istriku."
__ADS_1
Bagaskara tidak ingin menyakiti Anggun. Dia hanya ingin membalas rasa sakit hatinya kepada Witha karena sudah mengambil Kaluna menjadi istrinya. Walaupun itu dilakukan atas dasar perjodohan karena bisnis. Kaluna memang mencintai Witha, tetapi Witha masih memiliki perasaan dengan wanita masa lalunya.
Selain itu, Bagaskara juga tahu kalau Firhan adalah mantan suami Anggun. Rasanya malam ini dia akan puas bermain-main dengan perasaan dua klien yang sudah bekerja sama dengan perusahaannya. Niatnya benar-benar terselubung.