
"Seriusan Pak Firhan melamar kamu?" Jihan tidak percaya dengan kata-kata sahabatnya.
Sejak kembali ke kost, Jihan dibuat terkejut dengan kabar bahagia itu.
"Lalu, kamu jawab apa?" tanya Jihan lagi. Dia yang paling antusias saat tahu Anggun dilamar pria untuk yang kedua kalinya.
"Aku belum jawab apa-apa, Jihan. Aku masih perlu meyakinkan diri dulu dengan Pak Firhan. Walaupun statusku janda, aku juga tidak mau buru-buru menikah lagi."
Jihan tertawa. "Jangan-jangan kamu masih mengharapkan Witha kembali, ya?"
Anggun menggeleng. "Nggaklah! Witha udah bahagia sama istrinya."
"Eh, seriusan kamu? Tahu dari mana?"
Anggun tidak sengaja membuka sosmednya. Rupanya sekelebat terlihat status Witha yang sedang berlibur sama istrinya. Terlihat bahagia karena caption-nya honeymoon again. Apalagi kalau mereka tidak bahagia. Sementara Anggun harus dipermainkan perasaannya seperti gelombang laut.
"Blokir saja, Nggun! Nanti kasihan kamu. Percayalah kalau jodoh keduamu ini jauh lebih baik dari jodoh pertama."
Sejujurnya Jihan sangat tahu perbedaan antara Moiz dan Firhan. Firhan ini pria yang tampan karena beberapa kali Jihan bertemu dengannya tanpa sengaja. Kadang pria itu jalan-jalan ke mall tempat Jihan bekerja.
"Jadi, kamu setuju kalau aku menerima Pak Firhan?"
Jihan mengangguk. "Tapi, kalau kalian menikah pasti ada risikonya, Nggun."
Kebahagiaan Anggun yang terpancar indah tiba-tiba sirna. Dia sama sekali belum tahu apa yang dimaksud Jihan saat ini.
"Apa maksudmu? Apakah aku dan Pak Firhan akan menyakiti seseorang?"
"Bukan seperti itu, Nggun. Kalian satu perusahaan. Jika kalian menikah, alangkah baiknya hidup berpisah dari suami. Mungkin kamu yang resign, atau Pak Firhan. Yang kutahu tidak semua perusahaan bisa menerima pasangan suami istri bekerja di sana."
Jihan benar. Anggun hampir lupa itu. Namun, seandainya Anggun menerimanya, siapa yang mau mengalah? Firhan atau dirinya?
__ADS_1
Daripada mengira-ngira, saat pertemuan Anggun dengan Firhan beberapa hari kemudian di sebuah Kafe. Ya, Anggun sengaja meminta Firhan untuk datang ke sana atas saran Jihan. Setidaknya berbincang lebih dulu baru membuat keputusan. Terlebih Anggun sama sekali belum mengenal Firhan dengan baik.
"Malam, Pak. Maaf sudah memaksa Anda untuk datang ke sini."
"Tidak apa-apa, Nggun. Apa yang ingin kamu bicarakan padaku? Apa ini mengenai jawaban tentang lamaranku beberapa waktu lalu?"
Anggun menggeleng. Sedetik kemudian Firhan tampak tidak bersemangat lagi. Apakah Anggun akan menolak lamarannya?
"Lalu, apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan?" tanya Firhan lagi. Jujur, dia mulai panik karena ini kesempatan langka bisa bertemu dan mengungkapkan perasaannya kepada Anggun.
"Sebelumnya Anggun minta maaf, Pak. Selama ini kita memang sudah saling kenal. Bapak sudah paham betul siapa Anggun sebenarnya. Namun, aku belum tahu siapa Bapak? Dan, alasan apa yang membuat Bapak memutuskan untuk melamarku tempo hari? Apakah Bapak merasa kasihan karena aku baru mendapatkan status janda?"
Sama sekali tidak ada niat seperti itu. Firhan tulus menyukai Anggun, bahkan sebelum Anggun memutuskan menikah dengan Moiz. Hanya saja keberanian Firhan tidak seperti saat ini yang langsung berterus terang.
"Oke, kita mulai perkenalan lagi, Nggun. Namaku Firhan El Fatih. Usiaku saat ini 35 tahun. Memang tidak banyak yang tahu statusku itu perjaka, duda, atau pria beristri. Berhubung kamu ingin tahu segalanya, baiknya kita mulai sekarang."
Firhan menceritakan jika dia adalah duda ditinggal mati istrinya. Saat itu istrinya sedang sakit sehingga tidak bisa memiliki anak. Segala upaya sudah Firhan lakukan untuk kesembuhan sang istri. Namun, Allah berkehendak lain untuk mengambil sang istri kembali ke pangkuan-Nya.
"Aku belum menemukan wanita yang pas untuk mendampingiku, Nggun. Saat aku tahu kalau kamu adalah sosok yang tepat, aku ragu untuk mengatakannya. Kamu selalu cuek hingga kabar pernikahanmu dengan mantan suami mencuat ke permukaan. Jujur, doaku sempat jelek padamu, Nggun."
Anggun terkejut. "Loh, Bapak doakan aku apa? Apa karena itu akhirnya Anggun menjadi janda?"
Jelas saja Anggun sedikit kesal. Rupanya di balik hancurnya pernikahan Anggun dan Moiz ada doa orang lain di dalamnya.
"Jangan marah dulu, Nggun. Aku tidak benar-benar serius mendoakanmu. Hanya saja aku berkata dalam hati, kutunggu jandamu, kunikahi dirimu. Hanya itu. Sumpah!"
Anggun malah tertawa sekarang. Firhan begitu jujur sekali.
"Tapi, terima kasih atas doanya, Pak. Jika tidak, Anggun pasti sudah terjebak dalam drama pernikahan itu."
Anggun tidak mungkin membuka aib mantan suaminya. Baginya, masa lalu tetaplah untuk disimpan. Tidak perlu diumbar lagi. Lagi pula sudah tidak ada hubungan lagi dengan Moiz, jadi semuanya aman terkendali.
__ADS_1
Setelah mengetahui semuanya, Anggun belum menjawab lamaran Firhan. Dia harus meyakinkan kedua orang tuanya lebih dulu. Jika orang tuanya sudah setuju, tinggal bagaimana keputusan Anggun selanjutnya.
"Oh ya, Pak. Hari Minggu Bapak ada waktu atau tidak?"
Firhan sedang berpikir. Biasanya hari Minggu dia hanya bersantai di tempat kostnya. Ya, baik Firhan dan Anggun sama-sama pekerja yang merantau ke kota.
"Tidak ada, Nggun. Memangnya kenapa?"
"Bapak mau mengantar Anggun pulang? Ehm, maksudku, Bapak datang ke rumah orang tua Anggun. Setelah mendapatkan persetujuan dari mereka, baru Anggun akan memutuskan menerima lamaran Bapak atau tidak."
Jelas saja Firhan tidak bisa menolak. Ini demi masa depan dan restu calon mertua. Setidaknya Firhan sudah yakin dengan keputusannya.
"Boleh. Hari Minggu kita berangkat."
Seperti yang sudah disepakati, Anggun pergi ke rumah orang tuanya tanpa berpamitan pada Jihan. Dia ingin memberikan kejutan pada sahabatnya jika nantinya sudah menerima Firhan sebagai calon suaminya. Mungkin juga memerlukan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.
Firhan memang memiliki mobil, tetapi tidak sebagus pada umumnya. Sekelas atasan seperti Firhan, memiliki mobil Honda Brio sudah lebih bagus, bukan? Dia mengantar Anggun ke rumahnya dengan dalih untuk menjenguk ibunya. Firhan membawakan beberapa buah tangan untuk calon mertuanya, jika nanti diterima.
"Bapak grogi?" tanya Anggun saat dalam perjalanan.
"Tentu, Nggun. Bukannya takut ditolak calon, tetapi takut ditolak calon mertua," ucapnya dengan suara terbata.
"Ish, Bapak kenapa grogi? Ibu bapaknya Anggun orang baik, tetapi memang untuk menerima Bapak jadi mantunya pasti butuh pertimbangan lagi."
Lucu juga, ya? Dulu saat Firhan melamar istrinya tidak serumit saat melamar Anggun. Ya, walaupun ini lebih bagus karena pertanggungjawaban Firhan dipertaruhkan di sini.
"Oh ya, Pak. Aku hampir lupa. Jika nantinya kita ditakdirkan untuk menikah, maka siapa yang akan tetap bertahan di perusahaan? Bapak atau aku?"
Sebenarnya Firhan menginginkan istrinya berada di rumah, tetapi melihat ketekunan Anggun saat bekerja membuatnya tidak tega. Firhan sudah banyak relasi bisnis, tentunya akan lebih gampang kalau dia yang mengalah.
"Aku saja, Nggun. Tidak masalah kalau kamu tetap bekerja. Aku akan mencari pekerjaan yang tidak jauh dari tempatmu."
__ADS_1
Bagi Anggun, diam-diam Firhan merupakan sosok pria idaman. Selain itu, rasa tanggung jawabnya yang begitu tinggi membuat Anggun yakin kalau bapak dan ibunya pasti mau menerima Firhan.