ANGGUN

ANGGUN
Bab 57. Kaluna Pingsan


__ADS_3

Jihan datang bersama suaminya. Dia menangis tersedu-sedu di hadapan Anggun dan semua orang yang ada di sana. Anggun pun tampak bingung melihatnya.


"Nggun, lebih baik ajak Jihan masuk," perintah Zayn.


"Baik, Mas."


Tentunya tidak hanya Jihan, tetapi juga Kaluna. Anggun membawanya ke ruang keluarga di mana posisi mereka agak jauh dari tamu undangan. Ruangan itu pun memiliki privasi sehingga tidak semua orang bisa melihatnya.


Ternyata Firhan juga ikut. Bagaskara pun segera menyusul. Sementara Zayn tidak bisa karena masih ada tamu undangan yang harus diurus. Tinggal beberapa menit lagi mereka akan pulang. Tentunya setelah pembagian hampers syukurannya, yaitu berupa makanan dan kue-kue.


"Ada apa, Jihan?" tanya Anggun terlihat iba melihat sahabatnya saat ini.


"Anggun, maaf kami datang ke sini tanpa memberitahukan padamu. Kami juga sudah membuat acaramu menjadi kacau. Kami minta maaf, ya," ujar Firhan.


"Sebenarnya ada apa ini, Mas?" tanya Anggun pada Firhan.


"Jihan ingin meminta maaf sama kamu. Setelah kehilangan putra kami, dia terus saja dibayangi mimpi buruk tentangmu. Seolah kepergian bayi kami memang sebagai pengingat agar Jihan menyadari kesalahannya dan meminta maaf padamu," jelas Firhan.


"Nggun, kamu mau kan memaafkan aku? Aku tahu kalau selama ini aku salah padamu. Aku selalu iri dengan kehidupanmu. Semua tentangmu aku iri. Bahkan pernah sekali waktu aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Mas Firhan. Aku pun pernah berniat merebut suamimu untuk yang kedua kalinya," jelas Jihan dengan tangisannya.


Kaluna dan Anggun sangat terkejut sekali. Jihan yang mereka kenal ternyata memiliki kedengkian dan rasa iri yang cukup tinggi. Memang benar, iri dan dengki akan merusak diri sendiri. Semakin kita memiliki sifat itu kepada orang lain, semakin bahagia orang yang kita jadikan targetnya. Maka semakin tinggi pula kadar sakit hatinya.


"Astaghfirullah," ujar Anggun.


"Aku merasa kehilangan anakku adalah hukuman yang terberat. Mungkin Allah sengaja menegurku dari hal-hal seperti itu agar aku sadar. Ternyata kehilangan itu sangat menyakitkan. Aku minta maaf jika pernah mengambil Mas Firhan darimu. Setelah ini aku tidak tahu lagi. Terserah kamu mau menghukum aku atau memintaku bercerai dari Mas Firhan, akan aku lakukan. Asalkan kamu memaafkan aku," ujar Jihan.


Semula mereka sama-sama berdiri. Jihan sedikit membungkuk kemudian bersimpuh di hadapan Anggun.


"Eh, jangan seperti itu, Jihan. Ayo, bangun! Aku udah maafin kamu, kok. Lagi pula aku juga sudah ikhlas kalau kamu dan Mas Firhan menikah." Anggun sedikit kesulitan menarik Jihan untuk berdiri sehingga Firhan turun tangan untuk membantunya.

__ADS_1


"Benarkah, Nggun? Apa kita masih bisa menjadi sahabat seperti dulu lagi?"


Memaafkan memang mudah, tetapi untuk kembali utuh rasanya Anggun perlu mempertimbangkan lagi. Terlebih bisa saja sewaktu-waktu Jihan mengulang kesalahan yang sama. Tidak ada yang tahu, bukan? Apalagi tidak akan ada orang yang bisa meramalkan masa depannya nanti. Tetap berada di jalan yang lurus atau kembali berbelok.


"Maaf, Jihan. Aku melarang istriku untuk berhubungan dengan masa lalunya. Memang istriku memaafkanmu, tetapi bukan berarti kalian bisa kembali seperti semula," sahut Zayn yang baru saja kembali.


Para tamu undangan sudah pulang. Zayn bisa segera masuk untuk menemui istri dan tamunya yang lain. Setelah tahu kalau Jihan meminta Anggun untuk kembali seperti kehidupan masa lalunya, Zayn menolak.


"Ah, iya. Tidak apa-apa. Setidaknya Anggun sudah memaafkan aku. Aku ingin tahu, apakah Anggun meminta kami bercerai? Kalau iya, kau tidak menjadi masalah."


Anggun menatap suaminya. Sebenarnya dia juga tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Mau melanjutkan pernikahan atau mengakhiri itu bukan urusan Anggun, tetapi kembali lagi pada Firhan dan Jihan sendiri.


"Maaf, Jihan. Masalah rumah tangga kalian, itu bukan urusanku. Aku juga nggak berhak menghukum atau menghakimimu. Aku cuma berharap padamu untuk selalu berbuat lebih baik lagi dan jangan mengulang kesalahan yang sama. Bicarakan lagi dengan Mas Firhan kalau kalian masih ingin melanjutkan hidup bersama. Aku hanya orang lain yang tidak berhak sama sekali meminta orang mengakhiri hubungan atau apa pun itu. Cuma harapanku agar kalian tetap bersama dan melanjutkan hidup berdua," jelas Anggun.


Sejenak mereka pun terdiam. Tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Namun, tiba-tiba Kaluna yang semula berdiri mendadak roboh sehingga semua orang histeris.


"Luna!" pekik semua orang yang ada di ruangan itu.


"Pak, sebaiknya bawa Luna ke rumah sakit terdekat. Siapa tahu ini adalah gejala maag atau apa pun itu. Biar dokter yang menanganinya," ujar Zayn.


"Iya, Pak Zayn. Tolong bantu aku membawa Luna ke rumah sakit. Bapak kemudikan mobilku, ya. Tolong," ujar Bagaskara.


"Anggun, kamu di rumah saja. Kami akan pergi dulu. Pak Firhan, aku titip Anggun sebentar, ya. Setelah urusanku selesai, nanti biar Anggun sama bibi saja. Kalau Bapak masih ingin di sini, tidak masalah," ujar Zayn.


Zayn sudah tahu kalau Anggun tidak mungkin memiliki perasaan pada mantan suaminya. Terlebih urusan Anggun dan Jihan sudah selesai. Jadi, wajar saja kalau Zayn tenang meninggalkannya di sana.


"Baik, Zayn. Terima kasih karena kamu sudah percaya padaku." Firhan pun mengantarkan mereka ke depan.


Kondisi Kaluna belum sadarkan diri. Sehingga mereka pun buru-buru membawanya ke rumah sakit. Sementara di rumah tersisa Anggun, Jihan, dan Firhan yang kembali ke tempat semula.

__ADS_1


"Nggun, terima kasih atas kebaikan hatimu," ujar Firhan.


"Sama-sama, Mas. Oh ya, kalian mau minum apa?"


"Air putih saja, Nggun," jawab Jihan. Dia sudah lebih tenang sekarang.


Anggun ke dapur menemui bibi. Semua orang yang membantu bibi masih di sana, tetapi Anggun tidak lupa memberitahukan pada bibi agar memberikan makanannya yang masih ada untuk dibawa pulang. Bukan makanan sisa, tetapi memang sengaja dilebihkan.


"Bi, kalau semuanya sudah selesai, tolong siapkan makanan untuk Jihan dan mas Firhan, ya."


"Baik, Bu. Beberapa menit lagi semua permintaan Ibu akan sampai di sana. Ibu tunggu saja."


"Jangan lupa bawakan teh hangat juga. Aku tunggu di depan, ya? Siapkan di meja makan saja. Nanti kalau sudah, kabari aku, Bi."


"Baik, Bu."


Anggun kembali ke depan untuk menemui Jihan dan Firhan. Keduanya terlihat lelah sekali, tetapi Jihan sudah jauh lebih baik.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Anggun.


"Jauh lebih baik, Nggun. Terima kasih banyak karena kamu sudah memaafkan aku."


"Sama-sama, Jihan. Oh ya, bibi siapin makan kalian. Tolong jangan ditolak. Sambil nunggu mas Zayn kembali, kalian bisa istirahat dulu. Nanti aku minta bibi siapkan kamar untuk kalian. Gak apa-apa ya, Mas Firhan?"


"Tidak perlu, Nggun. Malam ini kami langsung pulang saja."


"Jangan tolak, Mas. Ini sudah malam. Kemungkinan pak Bagas juga pasti menginap di sini," ujar Anggun menjelaskan.


Pada akhirnya mereka pun menurut saja. Namun, kecemasan terus dirasakan oleh Bagaskara yang sedang menunggu Kaluna di luar ruangan IGD.

__ADS_1



__ADS_2