ANGGUN

ANGGUN
Bab 38. Jadilah Asisten Pribadiku


__ADS_3

Anggun berada di sini sekarang. Di sebuah mal di pusat kota. Zayn sengaja mengajaknya pergi ke sana.


"Ini pasti sangat melelahkan," ujar Anggun. Selama menikah dengan Moiz atau Firhan, seakan Anggun lupa pada dirinya sendiri.


Apalagi setelah ditinggal oleh ibunya, dia harus banyak meluangkan waktu untuk sekadar membahagiakan dirinya sendiri.


"Kamu suka tempatnya? Kalau memang suka, kita bisa main game lebih dulu. Atau kamu mau kulineran dulu? Setidaknya kamu bisa mencicipi aneka makanan di sini. Mulai dari makanan lokal sampai internasional," ujar Zayn.


"Aku nggak terlalu suka main game. Mungkin kita cari makan lalu mengobrol."


Usul Anggun bukan perkara sulit. Lagi pula Zayn memang menginginkan mereka bisa dekat dan berbincang seperti sebelumnya.


"Boleh saja. Kamu mau makan apa?"


Cuma pizza yang ada di ingatannya kali ini. Apalagi sudah lama sekali Anggun tidak pernah makan makanan yang katanya berasal dari negara Italia itu.


"Pizza. Itu cita-citaku sejak dulu, Zayn. Apa boleh?"


Zayn tidak akan melarang apa pun yang diinginkan oleh Anggun. Apalagi itu hanya sekadar makanan. Mereka pun masuk ke outlet pizza lalu memesan makanan dan minuman di sana.


Setelah mendapat pesanan pizza-nya, tiba-tiba Anggun tersenyum sehingga membuat Zayn semakin penasaran. Apalagi senyum wanita yang sedang berduka itu sangat lain dari biasanya.


"Kenapa tersenyum begitu? Apa pizza-nya kurang?" Zayn langsung merespon.


"Harusnya kita nggak pergi ke sini, Zayn. Nasi Padang juga enak, kan? Atau makanan lokal saja deh," ujar Anggun sambil membolak-balikkan pizza-nya.


"Kenapa?"


"Lidahku aneh saat makan keju mozzarella-nya," ujar Anggun membuat Zayn tertawa kecil.

__ADS_1


"Kan kamu yang minta. Coba deh dirasakan perlahan. Keju mozzarella itu sangat enak. Apalagi dimakan bersama-sama seperti ini. Coba nikmati dulu. Atau kamu mau makan pizza sambil bayangin makan nasi Padang?"


Susah payah Anggun mencobanya, akhirnya dia berhasil makan satu potong pizza berukuran sedang. Memang dia sengaja memesan ukuran itu karena takut tidak bisa makan.


"Bagaimana? Enak, kan? Aku yakin makanan pertamamu akan membuat kamu ketagihan. Pizza itu menurut lidahku enak sekali. Apalagi aku sudah sering makan pizza mulai yang topingnya A sampai Z," ujar Zayn.


Jelas beda. Zayn biasa hidup di luar negeri. Sehingga makanan seperti ini pun tidak akan aneh di lidahnya. Sementara Anggun, dia sengaja ingin mencoba makanan ini karena ingin.


Anggun akhirnya mengakui kalau pizza ini benar-benar enak. Dia pun mengambil potongan kedua lalu menikmatinya tidak seperti awal saat dia mencoba memasukkan makanan aneh itu.


Merasa suka dengan rasanya, Zayn pun mencoba menawarkan. Dia meminta Anggun untuk membeli 1 pizza lagi yang akan dibawa pulang.


"Nggak, Zayn. Ini aja udah cukup. Mungkin lain kali kita bisa ke sini lagi," ujar Anggun.


"Iya, Nggun. Ke sini lagi saat aku sudah resmi menyandang sebagai suami sahmu," gumam Zayn. Dia tidak menyangka pertemuannya di rumah sakit membuat cinta lama di hati Zayn bersemi kembali. Namun, dia tidak mau terburu-buru untuk mengungkapkannya. Dia ingin membuat Anggun nyaman dulu, baru setelah itu mengutarakan isi hatinya bila waktunya tepat.


Witha tidak menyangka jika langkahnya terhenti saat melihat isi outlet pizza tersebut. Seolah dia sedang melihat Anggun di sana. Namun, pandangannya kacau saat apa yang dibayangkan ternyata begitu nyata. Cuma karena Anggun tidak sendirian, Witha merasa cemburu dan sakit hati yang tiada terkira. Dia ingin mendatangi Anggun, tetapi ditahan lebih dulu.


"Aku harus bersabar. Dia baru saja berduka saat ini. Kalau sampai aku nekat, bukannya mendapat maaf. Aku pasti dimaki-maki olehnya," gumam Witha. Dia pun memutuskan untuk pergi.


Sementara Kaluna, dia yang baru saja ribut dengan suaminya kemudian memutuskan untuk menghubungi Bagaskara. Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan pria itu dan meminta maaf atas perlakuannya dulu. Dia minta bertemu Bagaskara di sebuah Kafe yang sama sekali tidak pernah dikunjungi Witha selama ini. Akan aman jika keduanya bertemu di sana.


"Bagas, apa kamu menungguku sudah lama?" tanya Kaluna yang baru saja sampai.


"Tidak masalah, Lun. Aku memang menunggu saat seperti ini. Terima kasih sudah sudi mau bertemu denganku," ucap Bagaskara.


Kaluna duduk. Pandangannya beradu sehingga membuat Bagaskara tidak berkedip sama sekali. Hening sejenak karena mencoba untuk saling mengagumi. Andaikan Bagaskara sudah mendapatkan Kaluna sejak lama, mungkin dia tidak akan betah menyendiri selama ini.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" Bagaskara berdeham.

__ADS_1


"Bagas, apakah kamu mencintai aku? Apakah kamu mau menikah dengan janda sepertiku?"


Ya, Kaluna lelah. Dia tidak akan mampu bertahan hingga akhir cintanya pada Witha. Cinta yang tidak pernah mendapatkan balasan.


"Lun, sudah lama aku sangat mencintaimu. Aku sadar kalau itu bukan cuma perasaan biasa saja. Saat aku tahu kamu menikah, rasanya aku seperti menjadi orang bodoh yang terlambat mengatakan itu padamu. Aku cemburu sehingga memutuskan untuk merebutmu dari Witha. Apa pun statusmu, asalkan kamu mau hidup bersamaku. Aku siap," jelas Bagaskara.


"Aku akan mengajukan gugatan perceraian, Bagas. Kalau kamu mau mendukungku dan bersabar, apakah kita bisa hidup bersama setelah itu?"


Bagaskara tidak akan menolak. Ini memang cita-cita dan keinginannya selama ini. Walaupun terlambat, Bagaskara akan tetap menerima apa pun yang menjadi keputusan Kaluna.


"Tentu, Luna. Aku akan membuat hidupmu bahagia. Kita akan menikah lalu memiliki anak. Kamu percaya padaku, kan?"


Kaluna mengangguk. Ini pertama kalinya Bagaskara bisa menggenggam erat tangan Luna yang hatinya masih memiliki perasaan pada Witha, tetapi tidak terbalaskan.


"Kamu janji bisa menerimaku apa adanya? Maksudku setelah apa yang aku lewati bersama Witha?"


"Tidak masalah, Luna. Aku bisa menerimamu. Lekaslah ceraikan suamimu dan kita akan menikah," ujar Bagaskara memberikan harapan.


Sementara Anggun dan Zayn sedang menikmati kebersamaan yang luar biasa. Setelah dari outlet pizza, keduanya pergi menonton bioskop. Tidak hanya itu, Zayn juga bersiap memberikan pekerjaan jika Anggun mau mengikuti ucapannya.


"Kamu yakin akan memberikan aku pekerjaan? Jujur, aku tidak tahu harus senang, bahagia, atau apalah itu."


"Tentu. Aku tidak pernah bohong pada siapa pun untuk masalah sepenting ini. Apalagi ini menyangkut kehidupanmu. Apa kamu pernah mendengar aku bercanda mengenai hal sepenting ini?"


Anggun juga tahu jika Zayn bukan tipikal pria yang mengeluarkan candaan jika keadaannya memang serius. Namun, Anggun juga sadar diri jika dia tidak mungkin bekerja di rumah sakit bersama Zayn. Terlebih dia bukan dari orang-orang yang sekolah di bidang kesehatan sebelumnya.


"Nggak juga. Jadi, apa pekerjaan yang kamu tawarkan padaku? Jika aku mau, aku akan segera mengambilnya."


"Jadilah asisten pribadiku," ujar Zayn membuat Anggun terpaku dan tidak paham dengan apa maksud Zayn, yaitu menjadikannya seorang istri.

__ADS_1


__ADS_2