
Witha ragu melangkah. Bisakah dia bertemu dengan Anggun tanpa bertengkar? Terakhir kali saat di vila itu. Kabar keretakan hubungan Anggun dengan suaminya mencuat ke permukaan.
Witha sudah tahu di mana kamar orang tua Anggun di rawat. Tidak sulit karena dia mengaku kerabat yang ingin menjenguknya.
Saat hampir mencapai pintu, Anggun baru saja keluar dari sana. Ini kesempatan bagus untuk menghampiri wanita itu lalu menanyakan perihal kondisinya saat ini.
"Anggun!" panggil Witha.
Anggun mengenali suara itu. Mana mungkin Witha ada di rumah sakit tempat ibunya dirawat? Dia mencari sumber suara lalu menemukan pria itu berdiri tegak di sana.
"Witha?" ucap Anggun pelan.
Witha tersenyum kepadanya. Bagaikan terkena hipnotis, Anggun berjalan mendekat.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Untuk apa kamu mencariku?" Anggun saja heran. Mungkinkah Jihan sudah mengatakan semuanya pada Witha?
"Ikutlah denganku. Kita bisa bicara sebentar."
Anggun menolak. Kalau Witha berniat mengajaknya keluar dari area rumah sakit, dia tidak mau. Kalau mau, lebih baik berbicara di kantin rumah sakit. Itu akan jauh lebih baik daripada menimbulkan masalah baru.
"Kantin rumah sakit. Kalau mau. Kalau enggak, yaudah. Lebih baik kamu pergi!" ucap Anggun.
Witha mengangguk. Mereka pun berjalan menuju ke kantin rumah sakit yang tidak terlalu ramai. Anggun membeli beberapa makanan dan dua minuman untuk Witha.
"Aku makan dulu," ucap Anggun sebelum mereka melanjutkan pembicaraan.
Witha melihat banyak perubahan pada diri Anggun. Dia semakin cantik dan berisi. Berbeda saat bersamanya dulu.
"Kamu sangat mencintai suamimu, ya? Kulihat setelah menikah dengannya, kamu juga terlihat semakin cantik," puji Witha sehingga membuat wanita itu meletakkan makanannya.
__ADS_1
"Maaf, aku mau makan dulu. Jangan katakan apa pun sebelum aku selesai," tegur Anggun.
Witha memberikan kode bahwa akan menutup mulutnya untuk beberapa saat hingga Anggun selesai makan. Tepat di menit kesepuluh, Anggun telah selesai meneguk minumannya yang paling akhir. Lebih tepatnya dia menghabiskan satu botol air mineral kemasan 330 mili.
"Oke, aku sudah selesai. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? Kurasa jauh-jauh kamu datang ke sini hanya untuk berbasa-basi denganku, kan?"
"Tidak. Aku tahu kalau hubunganmu dengan suami kandas. Jadi, kapan perceraian kalian akan berlangsung? Sejujurnya aku menunggu jandamu saat ini, Anggun. Tidak ada orang yang bisa menggantikan kamu di dalam hidupku. Sekali pun itu adalah Kaluna, istriku."
"Lalu?"
"Akan kujadikan kamu yang kedua," ucap Witha yakin.
"Kamu kira aku wanita apaan? Aku juga tidak akan mau menjalin hubungan denganmu yang sebenarnya masih suami orang. Aku masih waras, Witha. Aku pun tidak akan mengemis cinta padamu atau mantan suamiku."
Anggun merasa terhina bisa dijadikan sebagai istri kedua. Namun, Witha lekas mencegahnya untuk tidak pergi dari hadapannya.
"Tunggu! Jangan kamu salah artikan permintaanku ini, Anggun. Sudah lama aku masih mencintaimu. Bahkan, saat aku tahu kamu menikah dengan orang lain, hatiku hancur."
"Belum sampai kita selesaikan semuanya. Aku tahu kalau kamu sudah resign dari pekerjaanmu di kota. Makanya aku datang ke sini menawarkan pekerjaan untukmu. Jadilah sekretarisku! Kita mulai segalanya dari sana. Namun, aku hanya bisa menjadikanmu yang kedua, tetapi di hatiku kamulah yang paling utama."
"Lupakan aku! Lebih baik kamu pergi dari sini."
Anggun meradang. Dia memang pernah suka dan cinta pada Witha, tetapi untuk menjadi orang ketiga di dalam rumah tangganya. Apa bedanya Anggun dengan Jihan?
Saat Anggun berniat masuk ke bangsal ibunya, suara ponsel berdering. Milik siapa lagi kalau bukan Anggun yang sudah diaktifkan sejak beberapa jam yang lalu.
Ada banyak pesan dari Jihan dan Firhan secara beruntun. Dia pun sama sekali tidak ingin membaca pesan-pesan tersebut. Kepada Firhan, Anggun mungkin bisa memberikan maaf. Namun, bukan untuk kembali merajut bahtera rumah tangga.
Witha menyusulnya kemudian menyelipkan satu kartu nama di saku baju Anggun.
"Gunakan jika kamu memerlukan aku. Aku akan berada di sekitarmu selama tiga hari. Jika kamu perlu, hubungi aku. Anggap saja ini sebagai pertemanan kita jika kamu tidak mau lebih dari itu."
__ADS_1
Anggun tidak merespon. Justru dia sedang kalut saat ini. Cuma Firhan yang bisa membuat segalanya begitu indah, tetapi Jihan telah menghancurkan segalanya.
Sementara Firhan saat ini berada di rumah. Dia berniat untuk datang ke tempat Anggun lalu membicarakan solusi terbaik untuk hubungannya saat ini. Jangan sampai perpisahan membuat mereka semakin jauh. Apalagi Anggun sudah dipastikan belum hamil setelah mengkonsumsi pil sialan itu.
"Anggun, jangan kamu siksa aku seperti ini! Kehilangan istriku di masa silam rupanya jauh lebih sakit saat kehilangan dirimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu dan berharap kira tidak akan pernah bercerai."
Firhan sedikit lega. Pasalnya dia sudah memblokir nomor Jihan dari ponselnya. Ada satu nomor baru masuk yang terus meneleponnya, tetapi Firhan membiarkan saja nomor itu mengganggunya.
"Pasti itu dari Jihan. Dia sengaja mengganti nomor agar bisa menghubungi aku."
Tidak lama ada pesan masuk. Benar dugaan Firhan kalau Jihan lah yang melakukan semua ini. Dia juga tetap akan mengancam untuk menyebarkan foto yang akan membuat skandal palsu Firhan diketahui oleh semua orang. Hal itu jelas akan merusak reputasi dan jabatannya di perusahaan.
"Sial! Dia benar-benar wanita ular. Aku tidak menyangka bahwa Anggun akan memiliki sahabat sepertinya!" geram Firhan.
Jihan sedang menikmati perannya sebagai perebut suami orang saat ini. Berbekal cinta dan niatnya, Jihan hanya berani merebut Firhan dari Anggun.
"Baiklah, Mas. Kalaupun kamu tidak mau mengangkat panggilan dariku, biar aku yang akan datang. Kita selesaikan dengan berbicara empat mata. Maka, kamu pasti akan menyerah."
Jihan mengambil helm lalu motornya. Dia akan pergi ke rumah Firhan yang ditinggali bersama Anggun. Setelah ini, Firhan akan menyerah lalu menikah dengannya.
Sesampainya di sana, Jihan memencet bel berulang kali sampai Firhan kesal. Hari ini pria itu sengaja meminta cuti dari pekerjaannya karena sedang kalut dan dilema.
Sementara Jihan, dia memang izin libur selama dua hari untuk mengejar cintanya sampai Firhan takluk berada di tangannya.
"Ada apa ke sini?" tanya Firhan ketus.
"Mencari calon suamiku," jawab Jihan enteng.
"Lebih baik kamu pergi. Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun."
"Baiklah, tapi jangan salahkan kalau aku akan berteriak. Kamu sudah menyakitiku dengan cara berusaha melecehkan aku. So, semua orang pasti akan datang lalu menghakimi kamu dan membawa kita ke kantor polisi. Kamu mau?" ancam Jihan.
__ADS_1
Sial bagi Firhan. Setiap mendapatkan gertakan sedikit dari Jihan, dia pun luluh begitu saja. Entah, sebenarnya apa yang terjadi pada Firhan saat ini?