ANGGUN

ANGGUN
Bab 20. Dua Pilihan


__ADS_3

Berada di rumah sakit hanya beberapa hari saja, Anggun akhirnya kembali ke rumah. Tempat di mana dia dan suaminya tinggal. Namun, masalah tidak berhenti sampai di situ. Jihan datang kemudian memohon-mohon pada Firhan agar pria itu menikahinya.


"Nggun, izinkan suamimu menikah denganku," pinta Jihan.


Anggun terdiam. Harusnya hari ini merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan semua permasalahannya, tetapi tiba-tiba Jihan datang tanpa memberikan pesan.


Sebenarnya Jihan sudah mengirimkan pesan pada Anggun, tetapi Anggun sudah keburu memblokir nomor sahabatnya yang tidak berakhlak itu.


"Tanyakan saja sama Mas Firhan. Dia mau apa enggak?" jawab Anggun ketus.


"Mas, kamu kan sudah janji mau menikah denganku. Sekarang, setelah Anggun kembali, kamu melupakannya. Apa karena Anggun tidak mau bercerai denganmu?" Jihan terus memojokkan Firhan.


Firhan sudah menahan amarahnya sejak terakhir kali meninggalkan bangsal perawatan, bahkan dia pun membayar biaya perawatan Jihan untuk beberapa hari ke depan. Dia juga yang menitipkan Jihan pada suster untuk dijaga dengan ketat agar tidak menyakiti dirinya lagi.


"Maaf, Jihan. Kami memutuskan tidak akan pernah bercerai. Mengenai pil kontrasepsi itu, Anggun sudah menceritakan segalanya padaku. Jadi, tolong menjauhlah dari keluargaku!"


Firhan kali ini tidak bisa dinegosiasi lagi. Dia sudah berbincang dengan Anggun dan membuat keputusan seperti itu. Apa pun yang terjadi, keduanya harus tetap bersama.


"Wah, benarkah? Bagaimana kalau aku menyebarkan foto ini?" Jihan menunjukkan foto di mana dia masih ada di kamar vila itu. Sialnya lagi, ada potongan video yang menunjukkan bahwa antara Firhan dan Jihan ada hubungan serius.


Firhan mulai bimbang. Padahal sudah memutuskan untuk kembali lalu melupakan masalah kemarin. Walaupun Anggun belum sepenuhnya meyakini keputusan itu, tetapi sudah ada kata sepakat.


"Manager PT. Merona Jaya mempunyai selingkuhan dan tidak mau bertanggung jawab atas pelecehan yang dilakukan. Pasti nama Bapak Firhan El Fatih akan menjadi trending utama pemberitaan majalah, koran, televisi, dan semua sosial media. Lalu, mereka akan memburu kalian dan bom, semuanya akan meledak bersamaan. Karier, kepercayaan bos, dan jabatan tinggi akan jatuh ke jurang terdalam. Maka, kalian akan miskin. Bagaimana?"

__ADS_1


Anggun dan Firhan masih dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya Anggun kasihan dengan Jihan. Sampai seperti itu hanya untuk mengejar pria yang dicintainya. Sementara Anggun yang ditinggal menikah oleh Witha hanya bisa pasrah karena menjalani takdir yang sudah semestinya. Dia pun sudah berusaha menikah dengan Moiz. Sampai pernikahannya juga hancur berantakan.


"Mas, lanjutkan ngobrolnya sama Jihan. Aku mau istirahat dulu," pamit Anggun.


Sebenarnya kasihan juga membiarkan Firhan berada dalam posisi sulit seperti itu. Namun, Anggun juga baru bangkit dari keterpurukannya. Haruskah dia memikirkan kembali ancaman Jihan dan melepaskan suaminya?


Anggun seperti membenci dirinya sendiri. Dia tidak pernah merebut siapa pun dari siapa. Firhan murni mencintainya, sedangkan Anggun sama sekali tidak tahu kalau Jihan sudah jatuh cinta pada suaminya.


Anggun masuk ke kamarnya yang biasa ditempati dengan suaminya. Dia mengambil laptop di meja kerjanya kemudian mulai menulis surat pengunduran diri dari tempatnya bekerja.


"Sebaiknya aku tulis dulu. Perkara nanti aku yakin atau tidak, aku butuh petunjuk-Nya," batin Anggun.


Sementara Jihan, dia masih terus berusaha membuat Firhan kalah dan menyerah. Merebut Firhan dari Anggun adalah pencapaian yang luar biasa. Apalagi rumah berlantai dua ini akan menjadi miliknya. Namun, Jihan harus menyingkirkan Anggun lebih dulu.


"Jangan coba-coba menghancurkan karier yang susah payah aku bangun dari nol. Kalau kamu mau, lebih baik menjalin hubungan dengan Cakra atau pria mana pun, asal bukan aku!" Firhan masih dengan pendiriannya.


Sementara Firhan, dia buru-buru menutup pintu gerbang dan pintu depan rumahnya. Dia segera menyusul Anggun ke kamarnya.


Rupanya Anggun baru saja berbaring di ranjang. Dia terlihat sedang membetulkan posisi selimutnya. Matanya memang sempat beradu dengan Firhan, tetapi dia tidak berucap apa pun.


"Belum tidur, Nggun?"


"Belum, Mas. Bagaimana wanita itu? Apa masih mengancam?"

__ADS_1


Firhan duduk di ranjang. Pandangannya terus beradu dengan istrinya. Banyak kata cinta yang terlihat dari kedua sorot matanya.


Sementara pikiran Anggun ke mana-mana. Bagaimana kalau Jihan benar mengunggah foto dan video itu? Pasti orang tua Anggun hatinya hancur. Belum lagi pertanyaan dari beberapa tetangga yang mungkin mengenali Firhan. Pasti itu akan membuat Maryamah mendadak sakit.


Sementara jabatan Firhan pasti terancam diturunkan. Tidak hanya itu, semua aset yang dimiliki saat ini pasti akan dipertaruhkan. Firhan sebenarnya diam-diam selalu membiayai kehidupan orang tuanya. Bagaimana kalau dia dipecat? Bagaimana cara Firhan membahagiakan orang tuanya?


Pikiran Anggun bukan malah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Dia justru melindungi para orang tua agar tidak terkena imbasnya.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Jangan bilang kalau kamu akan mengakhiri hubungan ini? Aku tidak mau, Nggun! Aku sudah cukup menderita kehilangan mendiang istriku."


Anggun menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Aku tidak tahu, Mas. Posisi kita terjepit. Aku memikirkan orang tuaku dan orang tuamu. Mereka hanya tahu kalau kita menjalani pernikahan ini dengan sangat bahagia. Tentu saja aku bahagia, tetapi imbasnya bila wanita itu benar-benar mengunggah foto rekayasa itu, bagaimana dengan nasib orang tua kita, Mas?"


Alasan Anggun belum pernah bertemu dengan orang tua suaminya karena memang tempat mereka sangat jauh. Namun, Anggun percaya bahwa pernikahannya dengan Firhan sudah direstui kedua belah pihak. Bahkan, Firhan sudah berencana akan mengambil cuti panjang lalu membawa Anggun pulang ke rumah keluarganya.


Pikiran Firhan pun sama. Haruskah keduanya mengalah? Rasanya akan menjadi cinta yang harus rela melepaskan demi kebahagiaan orang-orang sekitarnya. Namun, untuk menikah dengan Jihan, Firhan sungguh dilema dan dalam tekanan.


"Lebih baik Mas tidur sekarang. Kamu pasti capek dengan semua masalah yang kita alami."


Saat Firhan sudah terlelap, dengkurannya terdengar cukup berat. Anggun turun perlahan dari ranjang menuju ke kamar mandi. Seperti ucapan sebelumnya, dia akan memohon petunjuk kepada yang Maha Kuasa.


Surat resign untuk pekerjaannya di pabrik sudah disiapkan. Selain itu, surat terakhir untuk suaminya pun sudah diketik dengan rapi. Tinggal cetak saja setelah Anggun mendapatkan petunjuk yang tepat.


Seusai menjalankan 2 sampai 4 rakaat, Anggun menengadahkan tangan memohon petunjuk-Nya.

__ADS_1


"Ya Allah, hamba hanyalah manusia biasa yang diliputi rasa salah dan dosa. Hamba ragu dengan keputusan yang hendak diambil. Berikan petunjuk kepada hamba agar keputusan ini bisa diterima oleh semua orang termasuk suami. Semoga Engkau memberikan jalan keluar bagi masalah kami. Aamiin." Anggun mengusap lembut wajahnya dengan kedua tangan setelah berdoa.


Hanya ada dua pilihan yang harus dilakukan oleh Anggun. Melanjutkan atau melepaskan. Semoga setelah Anggun membuat keputusan, baik Jihan dan Firhan bisa menerimanya dengan baik.


__ADS_2