
Setelah orang tuanya kembali ke kampung halaman, Anggun kini menjalani kehidupannya bersama sang suami. Firhan semakin hari sangat menyayangi Anggun. Bahkan saat liburan sekali pun, dia selalu memberikan kejutan terbaiknya.
"Sayang, weekend ini liburan panjang. Kamu mau pergi ke vila?" tanya Firhan. Mumpung dia masih mengerjakan proyek di perusahaan dan belum keluar kota.
"Mau, Mas. Tapi—"
"Kamu mau mengajak Jihan, kan? Jangan khawatir. Mas sudah ada laki-laki yang akan kita kenalkan padanya," ucap Firhan yakin.
"Bukan Pak Didit atau Pak Anton kan, Mas?"
Sontak hal itu membuat Firhan tertawa. Tidak hanya pandai merayu di tempat tidur, pandai memasak, bisa menghasilkan uang sendiri, dan sekarang malah bercanda.
"Bukan, Sayang. Jika kamu setuju, Mas akan memintanya datang dan menginap di sana. Kalau menurut mas, dia sih oke-oke saja."
Anggun menyetujuinya. Sesuai kesepakatan, laki-laki yang bernama Cakra Ghazanvar ini akan datang ke sana. Cakra termasuk karyawan baru di perusahaan. Kebetulan Cakra juga mengenal Firhan dengan baik. Jadi, tidak begitu sulit menerima tawaran atasannya itu.
Semenjak prestasinya di perusahaan semakin bagus, bos menaikkan jabatan Firhan. Dulu seringkali dia ditugaskan keluar kota, tetapi untuk saat ini Firhan dipercayakan untuk mengurus kantor pusatnya saja. Sementara untuk bagian lapangan, itu adalah tugas Cakra.
Pagi-pagi sekali Anggun dan Firhan sudah berdiri di depan kost Jihan. Seperti kesepakatan, mereka akan pergi bersama-sama.
"Ini seriusan kalian ngajak aku?" tanya Jihan Riska percaya.
"Iya seriusan lah. Kita aja udah standby di sini. Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?" tanya Anggun.
Sejujurnya, semenjak Firhan menikahi Anggun, pria itu tidak banyak bicara. Fokusnya hanya pada pekerjaan, istrinya, dan kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, mengenai momongan, mereka memang belum diberikan tanda-tanda. Namun, Firhan selalu mengatakan untuk tetap bersabar.
Memasukkan beberapa koper ke bagasi sudah dilakukan Firhan. Namun, ada permintaan aneh dari Jihan yang membuat Anggun harus mengalah.
"Nggun, ini kan perjalanan ke puncak. Aku pasti pusing kalau duduk di belakang. Gak papa ya aku di depan?" tanya Jihan.
Sebenarnya Anggun agak keberatan. Pasalnya jika dia duduk di depan, sesekali Anggun bisa memantau suaminya. Namun, apa mungkin Anggun membiarkan sahabatnya duduk di belakang lalu mabuk darat?
__ADS_1
"Mas, gak papa Jihan duduk di depan?" tanya Anggun pada suaminya.
Sebenarnya baik Anggun ataupun Firhan sama sekali tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Mau bagaimana lagi? Cakra pasti sudah berangkat. Tidak mungkin kan menitipkan Jihan pada Cakra yang sama-sama membawa mobil?
"Gak papa, Sayang. Anggun bisa duduk di belakang, kan?" Akhirnya Firhan nyerah daripada tidak lekas berangkat.
Sepanjang jalan menuju puncak, tidak ada kejadian sedikit pun yang membuat Jihan seperti mual atau muntah.
"Ah, mungkin Jihan benar. Dia memang nyaman duduk di depan," gumam Anggun langsung menutup matanya untuk tidur. Dia sangat lelah sekali.
Firhan sesekali memandangi istrinya dari kaca di atasnya. Tersenyum sebentar kemudian melihat ke depan. Sementara Jihan, dia sedang mencuri pandang ke arah Firhan. Sosok pria sempurna yang sudah menjadi suami sahabatnya.
"Kamu beruntung sekali, Nggun. Suamimu tampan, penyayang, perhatian, dan sangat mencintaimu," gumam Jihan.
Ada rasa tidak suka Jihan pada kebahagiaan yang dimiliki Anggun. Semuanya seolah sempurna. Jihan tidak hanya mencuri pandang, tetapi juga mencoba menyentuh tangan Firhan yang kebetulan diletakkan tepat di sampingnya.
"Eh, ada apa?" Firhan terkejut.
Firhan lekas menarik tangannya agar jauh dari jangkauan. Fokusnya hanya soal jalan menuju puncak dan istrinya. Firhan merasa tidak nyaman dengan Jihan. Hingga dia berharap untuk lekas sampai ke vila dan masuk kamar bersama sang istri.
Sampai di sana, Firhan lekas turun kemudian membangunkan Anggun. Hal itu dilihat Jihan dengan mata kepalanya sendiri. Betapa romantisnya Firhan bersikap.
Firhan menepuk pipi istrinya dengan pelan. "Sayang, bangun! Kita sudah sampai di vila."
Anggun perlahan membuka matanya. Tidurnya sangat lelap sehingga tidak tahu kalau mobilnya berhenti di parkiran vila.
Vila yang mereka sewa bersebelahan dengan Cakra. Hanya saja Firhan belum mengatakan tujuannya ke sini untuk menjodohkan Jihan dengan Cakra. Saat tahu Firhan dan istrinya sudah sampai, Cakra berinisiatif membantu mereka membawa barang-barang masuk ke kamar masing-masing.
"Cakra, kamu sudah sampai lebih dulu?" tanya Firhan.
"Iya, Pak. Cakra bantu bawa barangnya, ya? Bu Anggun pasti sangat kelelahan." Basa-basi Cakra.
__ADS_1
Semakin Anggun diperhatikan banyak orang, Jihan semakin mual. Dia tidak kuat melihat sisi keromantisan yang terjadi antara Anggun dan suaminya. Begitu juga dengan orang-orang terdekatnya. Seolah mereka semua memuji Anggun, Anggun, dan Anggun lagi.
Firhan membopong istrinya menuju ke kamar. Sementara Anggun melingkarkan tangannya ke pundak sang suami. Pandangan itu membuat Cakra takjub sekali. Begitu sayangnya Firhan pada istrinya.
"Maaf, Mbaknya ini siapa, ya?" tanya Cakra.
Jihan tidak menjawab. Dia memilih masuk menyusul Anggun dan suaminya. Setelah Firhan meletakkan Anggun di ranjang, dia keluar lagi untuk membantu Cakra membawakan barangnya.
"Letakkan di sini saja, Cakra. Nanti biar bapak saja yang membawanya masuk," ucap Firhan.
Cakra memang pria baik. Hanya saja tubuhnya sedikit berisi. Tidak seperti Firhan yang terlihat otot-ototnya yang sangat menggemaskan. Belum lagi kalau dia bertelanjang dada. Anggun selalu memuji bentuk tubuh suaminya yang begitu sixpack.
"Mas, bantu aku bawa koper ke dalam, yuk!" pinta Jihan manja. Entah, sejak kapan dia memiliki keberanian untuk merepotkan suami sahabatnya.
"Maaf, Jihan. Aku masih banyak urusan!" tolak Firhan.
Semakin Firhan mengabaikannya, semakin besar pula keinginan Jihan untuk mendapatkan.
Kali ini Anggun sudah menyusun makan siang bersama di sebuah restoran yang tidak jauh dari vila. Sebenarnya Firhan tidak nyaman pergi dengan Jihan, tetapi Cakra adalah tujuannya kali ini.
"Mas nggak mau lama-lama di sana, Nggun. Setelah mengenalkan Cakra pada Jihan, kita harus pergi. Biarkan mereka berdua di sana," pesan Firhan sebelum keduanya menuju ke restoran.
Cakra sudah menunggu kedatangan Firhan dan yang lainnya. Dia mendapatkan tugas untuk melakukan reservasi tempat di sana. Sebelum mereka datang, Cakra sudah duduk manis sambil membolak-balikkan buku menu.
"Akhirnya Pak Firhan datang juga. Silakan duduk!"
Anggun, Firhan, dan Jihan duduk dibarisan kursi yang sejajar. Cakra tampak melongo dengan kelakuan tiga orang di hadapannya. Masih banyak kursi kosong, tetapi kenapa malah seperti berebut kursi?
"Langsung saja, Cakra. Sambil memesan makanan, kita ngobrol dulu. Oh ya, sebenarnya tujuanku mengajakmu ke sini karena ada yang ingin aku kenalkan padamu. Cakra, ini Jihan, sahabat dekat istriku. Dan, Jihan, ini Cakra rekan kerjaku di perusahaan," jelas Firhan.
Saat perkenalan terjadi, Anggun ingin pergi ke toilet sebentar. Dia pun pamit pada semua orang. Sesampainya di sana, toilet sepertinya sedang sepi. Anggun pun langsung masuk. Setelah keluar dari sana, dia berniat kembali ke suami dan teman-temannya. Sayangnya, seseorang membekap mulutnya dari belakang. Anggun sama sekali tidak bisa berteriak selain rasa takut yang menghantuinya.
__ADS_1