ANGGUN

ANGGUN
Bab 49. Tidak Kondusif


__ADS_3

Suasana rumah Zayn ramai dengan orang-orang yang melayat bapak mertuanya. Sementara Anggun sedang berbaring di kamarnya karena tidak sanggup melihat banyak orang yang berlalu lalang. Seolah mengingatkan kembali pada bapaknya.


"Nggun, kamu sudah makan?" tanya Zayn yang menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar melihat istrinya.


"Belum, Zayn. Aku sedang tidak ingin makan."


"Nggun, jangan siksa diri kamu sendiri. Aku ambilkan makanan, ya? Ingat ada anak yang harus kamu jaga nutrisinya. Kalau ibunya tidak makan, bagaimana dia bisa berkembang dengan baik? Aku panggilkan bibi saja, ya?"


Anggun tidak menjawab. Namun, Zayn sudah berinisiatif untuk memanggil ART-nya supaya mengurus sang istri. Saat berniat keluar, ternyata bibi sudah berdiri di hadapannya.


"Ah, kebetulan Bibi ada di sini. Aku mau minta tolong sama Bibi untuk menyiapkan makanan untuk Anggun. Dia sulit sekali makan hari ini, Bi."


"Maaf, Pak. Saya ke sini karena ingin menyampaikan kalau ada tamu yang mencari Bapak dan Bu Anggun. Tamu dari kota katanya, Pak."


Zayn menoleh sejenak ke arah istrinya. Sebenarnya mereka pun tidak sedang menunggu tamu yang dimaksud.


"Siapa, Sayang? Teman-temanmu?" tanya Zayn pada Anggun.


"Nggak tau, Mas. Entahlah. Mungkin saja Kaluna. Dia tadi sempat chat aku."


"Kalau begitu cuci muka dulu. Bersiaplah. Jangan terlihat buruk di mata mereka. Oh ya, Bibi siapkan roti saja sebelum Ibu keluar. Pastikan sudah memakan satu atau dua gigit roti asalkan ada makanan yang masuk ke mulutnya."


"Baik, Pak."


Zayn adalah sosok suami yang perhatian sekali pada Anggun. Tidak hanya kebutuhan hariannya saja. Bahkan saat Anggun tidak makan pun, dia selalu peduli. Dia merasa tanggung jawab yang ditinggalkan Gian harus benar-benar dijalani dengan baik.


Zayn ke depan dulu untuk menemui para tamunya. Awalnya dia hanya melihat Bagaskara dan Kaluna. Ternyata di belakang itu masih ada dua rombongan lagi, yaitu Firhan dan Witha. Semua memang pernah ditemuinya di acara pernikahan Kaluna, kecuali satu wanita paruh baya yang saat ini bersama Witha.


"Pak Zayn, kami turut berdukacita mendalam," ujar Bagaskara setelah sampai di hadapan Zayn.


"Terima kasih, Pak Bagas. Mari, silakan masuk." ujar Zayn.


Zayn membawa mereka semua ke ruang tengah di mana tidak seorang pelayat pun bisa sampai sana. Maksud Zayn karena tidak ingin mencampurkan mereka bersama pelayat yang lain.


"Silakan duduk. Saya panggilkan Anggun dulu," pamit Zayn.

__ADS_1


Martha melihat banyak sekali foto pernikahan yang dipajang di dinding ruangan itu. Anggun terlihat cantik. Benar saja karena Zayn adalah seorang dokter bedah jantung. Pantas saja rumah dan seluruh isinya berkelas.


"Ma, kenapa diam? Mama nyesel udah lepasin Anggun untuk orang lain? Lihat bagaimana suaminya yang tampan itu memperlakukan Anggun seperti putri. Itu artinya Anggun adalah wanita istimewa," bisik Witha pada mamanya.


"Mama nggak peduli," jawabnya pelan. Lagi pula setelah kejadian di supermarket kala itu, Martha juga tidak ada niat untuk mengejar Anggun yang menurutnya sangat sombong.


Anggun keluar bersama Zayn. Dia terlihat cantik sekali. Jihan yang melihat keserasian Anggun dan suaminya merasa cemburu. Jika bukan karena sudah diultimatum oleh Firhan untuk jaga mulut, Jihan pasti akan langsung berkomentar.


"Sial! Pantes saja Mas Firhan gak mau aku berkomentar. Kenapa Anggun selalu saja dapat pria yang sangat perhatian. Dulu Witha, lalu Mas Firhan, dan sekarang si Zayn ini yang merupakan paket komplit perpaduan Mas Firhan dan Witha. Tampan dan kaya. Iri kan aku jadinya. Kenapa harus Anggun?" gumam Jihan.


"Terima kasih sudah datang. Mohon maafkan segala kesalahan bapakku semasa hidupnya. Terutama pada Mas Firhan dan Mbak Jihan. Mohon dimaafkan, ya," ujar Anggun.


Tentu saja karena Firhan adalah mantan menantunya. Mungkin saja banyak kesalahan yang dilakukan Gian semasa hidup.


"Sama-sama, Nggun. Aku juga minta maaf jika selama menjadi suamimu dulu tidak bisa membahagiakanmu dan malah menyusahkan kamu," ujar Firhan membuat Jihan mencubitnya.


"Apaan sih, Mas? Yang lalu biarlah berlalu," ujar Jihan.


"Gak apa-apa, Mas. Aku juga udah lupain kok," jawab Anggun.


"Silakan diminum. Cuma air putih saja. Oh ya, bagaimana perjalanannya dari kota?" tanya Zayn pada semua orang.


"Alhamdulillah lancar, Zayn. Kami tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu," ujar Kaluna. "Oh ya, bagaimana kabar kalian?"


"Alhamdulillah kabar kami baik, Lun. Kamu bagaimana?" tanya Anggun.


"Kami juga baik, Nggun. Oh ya, ini Mama Martha. Kamu belum mengenalnya, bukan?" ujar Kaluna memperkenalkan mantan mama mertuanya.


"Kami sudah pernah bertemu sebelumnya," ujar Anggun membuat semua orang terkejut.


"Benarkah? Di mana?" tanya Jihan. Dia paling tidak tahan bila disuruh diam.


"Supermarket," jawab Anggun singkat.


"Oh, katanya kamu hamil. Ini beneran hamil atau cuma pura-pura, sih?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Pak, Bu, maaf mengganggu," ujar bibi yang baru saja masuk membawa sirup dan beberapa makanan sebagai jamuan untuk tamu. "Ini juga roti buat Bu Anggun. Tadi katanya harus makan dulu biar janinnya tumbuh dengan sehat."


Pertanyaan Jihan rupanya sudah diwakili oleh ART keluarga Zayn. Jihan pikir kalau waktu itu Anggun sedang berbohong perihal kehamilannya. Tidak mungkin setelah menikah langsung bisa hamil.


"Terima kasih, Bi. Letakkan di situ saja," ujar Zayn. "Sayang, kamu makan dulu gih. Kasihan perutmu belum ada isinya sama sekali."


Zayn mengambilkan makanan yang disukai istrinya. Bukan lagi roti tawar berisi selai, tetapi risoles isi ayam dan sayuran yang selalu menjadi kesukaan sang istri.


"Ayo, silakan dicicipi. Kalian pasti lelah dari kota," ujar Zayn mempersilakan.


Martha dan Jihan sudah kebakaran jenggot. Keduanya merasa tidak nyaman dan mengatakan kalau rumah ini hawanya sangat panas sekali.


"Apakah rumah ini nggak ada AC-nya? Aku merasa gerah sekali," ungkap Martha.


"Maaf, Bu, sejak tadi AC-nya juga sudah menyala. Apakah kurang dingin lagi?" tanya Zayn.


"Mama ini kenapa sih? Dari tadi sudah dingin seperti ini malah Mama bilang panas. Mama malu sendiri, kan?" tegur Witha.


"Mama nggak peduli," balas Martha lagi.


"Nggun, selamat atas kehamilanmu, ya. Semoga lancar sampai persalinan nanti," ujar Witha memecah suasana. Sejujurnya dia pun cemburu dengan posisi Anggun saat ini. Dia memiliki suami yang sangat menyayanginya.


Andaikan mamanya tidak melarang Witha memperjuangkan cintanya, mungkin saat ini yang bersama dengan Anggun adalah dirinya.


"Terima kasih, Mas," jawab Anggun singkat. Apalagi ada Jihan dan mamanya Witha. Anggun rasanya malas sekali.


"Wah, kamu beruntung sekali, Nggun. Akhirnya isi juga, ya? Doakan aku segera menyusul, ya? Aku dan Mas Bagas sedang melakukan program kehamilan juga. Dokter bilang kalau aku juga sehat dan nggak ada masalah, kok," ujar Kaluna sengaja diperdengarkan pada Martha, mantan mama mertuanya.


"Ck, mana mungkin bisa hamil. Menikah dengan anakku saja tak kunjung hamil," gerutu Martha yang masih bisa didengar oleh Bagaskara karena posisi Bagaskara tepat di samping Martha.


"Maaf, jaga bicara Ibu, ya. Kita berada di rumah orang yang sedang berduka. Jangan menambah masalah. Kalau memang Ibu meragukan istriku sekarang, silakan cek kondisi anak Ibu sendiri. Apakah dia tidak mandul?" ujar Bagaskara membuat Witha berdiri dan siap meninju rekan bisnisnya itu.


"Eh, apa-apaan ini? Kalian nggak malu di rumah orang berbuat gaduh seperti ini?" tegur Firhan.


Suasana semakin tidak kondusif saat ketiga orang yang memiliki pemikiran berbeda sedang ribut mempertahankan pemikiran masing-masing. Zayn dan Anggun yang melihat kejadian ini cuma bisa diam tanpa komentar apa pun. Sampai kapan pun, baik Bagaskara dan Witha memang tidak akan pernah bisa akur walaupun profesional di dalam urusan pekerjaan. Itu karena masalah pribadi mereka di masa lalu.

__ADS_1



__ADS_2