
Firhan kecewa setelah mendapati surat yang ditinggalkan oleh sang istri. Anggun memilih melepaskannya dan membiarkan Firhan untuk menentukan keputusan selanjutnya. Setidaknya biak Firhan maupun Anggun berada dalam posisi aman lebih dulu.
Dear Suamiku,
Terkadang kita seperti orang bodoh yang berusaha menjauhi takdir. Bahkan, saat kita melawan takdir pun tidak akan membuat hubungan kita selamat. Setidaknya aku mencoba mengalah demi cinta kita. Aku tahu ini berat untuk kita, tetapi aku tidak ingin Suamiku mengalami hal yang lebih mengerikan dari ini. Aku menyadari beberapa kekeliruanku padamu. Aku terlalu percaya fitnah itu sehingga aku pun tidak bisa memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah berada jauh darimu. Ya, hanya darimu, bukan dari lubuk hatimu. Surat perceraian akan menyusul setelah ini. Jangan khawatir bahwa aku masih selalu mencintaimu sampai takdir mengembalikan keadaan. Percayalah aku selalu mencintaimu, Mas.
Peluk dan cium dari istrimu, Anggun.
Apa ini? Sebuah kalimat perpisahan yang sangat amat menyakitkan. Benarkah ini keputusan yang tepat untuk Anggun? Tidak dengan Firhan. Dia seperti pria linglung yang harus kehilangan istrinya untuk kedua kalinya.
"Itu artinya kau menjauhi aku, Nggun. Apa sebenarnya yang kamu pikirkan?"
Daripada pusing memikirkan sesuatu yang tidak jelas itu, Firhan buru-buru menyusul Anggun ke pabrik. Mungkin wanita itu masih ada di sana lalu mencoba berunding lagi dan memutuskan sesuatu yang lebih berani. Tidak masalah kalau Firhan harus kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan Anggun sama saja dengan kehilangan separuh napasnya.
Firhan terlambat. Menurut informasi yang didapatkan dari beberapa rekan kerja Anggun, wanita itu sudah menitipkan surat pengunduran diri pada security. Dia tidak bisa menemui bosnya langsung karena sedang tidak ada di tempat.
Sementara Anggun, dia pergi menggunakan motornya sendiri. Dia mengemudikan motornya dengan membawa beberapa barangnya yang penting. Tidak mungkin dia bisa membawa semuanya. Hanya kalung pemberian Firhan saja yang akan dibawa sampai kapan pun. Pria itu jelas bukan pria yang perhitungan akan mengambil kembali mahar yang pernah diberikan kepada istrinya.
Sesampainya di rumah, Maryamah jelas terkejut melihat putrinya membawa banyak barang. Wajahnya pun kelihatan pucat. Gian turut membantu Anggun tanpa bertanya apa pun sebelum anaknya bercerita.
Melihat kepulangannya seorang diri. Hal itu jelas membuat orang tuanya bertanya-tanya. Apa yang terjadi di dalam rumah tangganya? Firhan jelas tidak akan membiarkan istrinya pergi sendiri.
"Nduk, ada apa ini?" tanya Maryamah yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita Anggun.
__ADS_1
Anggun mendatangi ibunya lalu memeluk wanita itu dengan derai air mata. Gian turut sedih melihat kondisi putrinya seperti itu.
"Anggun minta maaf pada Ibu dan Bapak. Anggun tidak percaya sama sekali dengan ucapan kalian. Sekarang semuanya sudah terbukti," jelas Anggun.
"Terbukti bagaimana, Nduk? Apa teman wanitamu itu yang membuat segalanya runyam?" tanya Gian.
"Iya, Pak. Anggun sempat tidak mempercayai ucapan Ibu. Anggun minta maaf, Bu."
Kepala Maryamah terasa sangat berat. Dia melepaskan pelukan putrinya lalu terduduk di kursi ruang tamu. Dadanya terasa sesak sekali.
"Ibu! Ibu kenapa?" Anggun panik..
Hipertensi yang diderita ibunya pasti kambuh lagi. Gian bersiap untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Jangan sampai karena masalah Anggun malah membuat Maryamah jatuh sakit lagi seperti sebelumnya.
Maryamah berpegangan erat pada pinggang suaminya. Sebenarnya ini bukan lagi pusing biasa, tetapi Maryamah seperti tidak memiliki kekuatan lagi. Sementara Anggun, bergegas menyusul orang tuanya menggunakan motor.
"Nggun, Bapak memang tidak serapuh ibumu. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam rumah tanggamu?" tanya Gian.
Anggun menceritakan semua duduk perkaranya. Gian pun manggut-manggut mendengarkan tanpa memberikan komentar. Setelah Anggun menyelesaikan ucapannya, barulah Gian berkomentar.
"Sementara cerita ini jangan sampai ke telinga ibumu. Dia pasti syok. Bapak akan menemui Firhan untuk menyelamatkan pernikahanmu," ucap Gian tanpa ragu. Dia meyakini bahwa Firhan adalah pria yang baik. Dia pasti mempunyai solusi untuk segalanya.
"Jangan, Pak! Wanita rubah itu sudah memanipulasi segalanya. Jangan sampai Mas Firhan kehilangan pekerjaannya." Anggun memohon pada bapaknya. Bahkan di saat seperti ini, dia masih memikirkan kebahagiaan orang lain.
Anggun menambahkan ancaman yang dilayangkan Jihan untuk memisahkan keduanya. Ini sangat licik, tetapi setelah mendengar penuturan putrinya, Gian cuma bisa menarik napas berat lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Kamu melepaskan segalanya, Nak. Bapak cuma bisa berharap kalau kamu akan mendapatkan kebahagiaan berlimpah."
Firhan saat ini kembali ke rumah. Dia mencoba menghubungi Anggun, tetapi ponselnya dinonaktifkan. Rasanya wanita itu tidak main-main lagi. Setelah ini jika Jihan memaksanya, Firhan sudah tidak peduli lagi. Lagi pula Anggun juga sudah lepas dari tangannya.
Beberapa menit kemudian, Jihan menghubungi. Firhan sebenarnya malas berdebat, tetapi wanita itu terus saja menerornya dengan pesan-pesan menyebalkan.
Mulai dari ancaman bunuh diri kedua kalinya. Lalu, siap menyebarkan foto-foto yang sengaja direkayasa seolah kejadian itu nyata.
"Ada apa?" sapa Firhan. Setelah ini dia akan memblokir nomor Jihan karena sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.
"Mas, kamu jangan galak-galak. Sama Anggun saja bisa romantis, kenapa sama aku enggak?" protes Jihan.
Firhan menghela napas berat. Defini ****** yang sesungguhnya adalah model wanita seperti Jihan. Dia yang terus saja mengejar Firhan sampai rumah tangganya berantakan tidak tersisa.
"Karena kamu dan Anggun sangatlah berbeda! Kamu adalah bentuk dari wanita kejam yang sesungguhnya. Pantas saja tidak ada orang yang mau sama kamu! Kelakuanmu saja seperti itu. Menusuk sahabat sendiri dari belakang!"
Mendengar amarah Firhan, bukannya Jihan menciut. Justru dia malah senang karena suara pria itu semakin berat menambah keseksiannya.
"Tidak masalah. Kurasa Anggun sudah pergi sekarang. Jadi, kapan Mas Firhan akan menikahi aku?"
Firhan diam. Jihan sudah membuatnya kehilangan kendali.
"Aku dan Anggun belum bercerai. Jadi, jangan terlalu banyak berharap!" Firhan lekas menggeser tombol merah mengakhiri panggilan laknat itu.
Firhan melempar ponselnya ke atas ranjang. Dunianya seakan berhenti saat ini juga. Dia berniat datang ke rumah orang tua Anggun dan meminta maaf atas kejadian yang sama sekali tidak mengenakkan.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Witha menerima kabar mencengangkan bahwa hubungan Anggun dan suaminya sudah retak dan hampir berakhir. Selain itu, Anggun juga sudah meninggalkan pabrik tempatnya bekerja. Bukan kabar yang dibagikan Jihan, tetapi Witha memang kenal dengan beberapa teman kerja Anggun.
"Ini kesempatan emas untuk kembali pada Anggun. Walaupun aku harus berada di dalam posisi tersulit sekali pun. Aku tidak peduli!" Witha akan merebut kembali cintanya dengan mengabaikan bahwa dirinya sendiri masih menjadi suami wanita lain.