ANGGUN

ANGGUN
Bab 40. Jihan Penasaran


__ADS_3

Berada di kediaman putranya, Martha Aruna merasa kalau rumah tangga putranya sedang tidak baik-baik saja. Kaluna sudah jarang pulang ke rumah itu. Tiba-tiba datanglah pengantar paket yang ternyata itu adalah surat dari pengadilan.


"Dengan kediaman pak Witha Singgih Ravindra?" tanya pengantar paket tersebut.


"Iya, ada paket apa, ya?" tanya Martha.


"Ini surat dari pengadilan, Bu." Petugas itu menyerahkan amplop yang masih terbungkus rapi dengan plastik.


"Pengadilan?"


"Iya, Bu. Sebentar saya foto sebagai bukti penerimaan," ujar pengantar paket.


Setelah urusannya selesai, pengantar paket itu pun pergi. Martha segera masuk ke rumah lalu membuka isi paket tersebut.


"Apa? Panggilan perceraian? Kaluna mengajukan gugatan cerai? Kenapa?"


Ribuan pertanyaan bergelayut di benak Martha. Selama ini yang dia tahu kalau Kaluna sangatlah mencintai Witha. Namun, mengapa sekarang harus berakhir seperti ini?


Martha tidak ingin menunggu lama sehingga dia pun pergi ke kantor untuk menemui Witha. Putranya harus memberikan penjelasan mengenai surat panggilan pengadilan itu.


Tanpa menunggu lama, Martha segera menuju ke ruangan putranya. Di sana, Witha terlihat tampak santai dan tanpa beban.


"Mama? Tumben Mama datang ke sini?" tanya Witha.


"Justru mama yang harus tanya sama kamu. Apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dan Kaluna? Mengapa dia sampai mengajukan gugatan perceraian?"


Justru Witha tampak terkejut. Pasalnya, dia tidak tahu-menahu bila Kaluna akhirnya menyerah dengan pernikahannya. Namun, Kaluna berani melepaskan pernikahan yang sangat diinginkannya mungkin karena didasari atas kemauannya sendiri. Biarkan saja. Lagi pula ini memang yang diinginkan oleh Witha.


"Ma, pernikahan kami tidak bahagia. Aku dan Kaluna akan terus saling menyakiti bila salah satu dari kami tidak mau menyerah. Kalau Kaluna menyerah, Mama nggak perlu khawatir karena orang tuanya pasti bisa memahami kondisi ini," jelas Witha.

__ADS_1


"Mama sama sekali nggak ngerti pikiran bodoh kamu. Lalu, kamu akan menikah dengan wanita kampungan itu?"


"Namanya Anggun, Ma. Dia bukan wanita kampungan seperti yang Mama tuduhkan. Justru dialah yang akan membuat kehidupan Witha lebih bahagia. Dia akan membantu Witha mengurus perusahaan hingga benar-benar menjadi perusahaan yang semakin berkembang lebih dari sekarang."


Martha benar-benar tidak tahu jika hati putranya sudah dikunci mati oleh Anggun. Apa istimewanya wanita itu hingga Witha tidak bisa move on?


Saat perceraian Witha dan Kaluna sedang berlangsung, lain halnya dengan hubungan Zayn dan Anggun. Keduanya sudah berjalan normal. Ya, akhirnya Anggun mendapatkan pekerjaan di sebuah klinik kecantikan atas rekomendasi dari Zayn. Dia bekerja di sana sebagai resepsionis karena Anggun merasa mampu dan cocok berada di sana.


"Apakah aku mengganggu?" tanya Witha yang baru saja datang.


Klinik kecantikan itu memang tidak terlalu jauh dari rumah sakit, tetapi cukup ramai untuk ukuran perbatasan antara kampung dan kota. Ya, walaupun jarak rumah sakit dengan rumah Anggun hanya beberapa jam saja, tetapi rumah sakit itu sudah berada di kota.


"Zayn, aku baru saja mau istirahat. Tumben ke sini?"


"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Selain itu, kita mampir ke Masjid sebentar."


Tidak hanya mengajak makan siang, tetapi Zayn juga menghadiahi Anggun dengan sebuah barang yang cukup mengejutkan. Langka untuk ukuran seorang pria yang selalu mengingatkan diri untuk selalu ingat pada kematian dan pada Sang Pencipta.


"Ini paper bag buatku?"


"Iya. Buka saja. Semoga kamu suka isinya."


Anggun tidak sabar. Dia langsung membukanya. Tampak sebuah mukena bordir yang begitu indah. Mukena berwarna putih kombinasi bordir warna emas terlihat sangat cantik dan elegan. Tidak hanya itu, terdapat sajadah berwarna putih dan hitam yang kombinasinya juga lumayan indah.


"Zayn, ini indah sekali."


"Aku harap dengan itu, semua jawaban segera kamu dapatkan. Walaupun aku tahu kalau kamu adalah wanita yang baik, tetapi hadiahku ini semacam motivasiku untuk tetap mencintaimu atas kehendak-Nya."


Anggun terharu. Terkadang, ingatannya pada Zayn tertuju pada Firhan. Pria yang mengajarkan banyak hal tentang kesabaran dan cinta. Sayang, Anggun hanya memilikinya sebentar saja.

__ADS_1


"Terima kasih atas semua pemberianmu, Zayn. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa?"


"Cukup balas dengan semangat, kerja keras, dan keyakinanmu bila memang kita ditakdirkan untuk bersama. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu memberikan jawaban iya untuk menikah denganku."


Sangat romantis dan teduh sekali. Keindahan ciptaan-Nya terpancar dari wajah Zayn dan sikapnya yang sangat lembut. Dia bukan sosok yang pemaksa.


Lain halnya dengan hubungan antara Firhan dan Jihan. Setelah menikah beberapa bulan, kali ini Jihan merasa pusing teramat sangat. Dia bahkan tidak bisa pergi ke tempatnya bekerja.


"Mas, aku pusing sekali," ujar Jihan.


"Mungkin kebanyakan begadang kali. Makanya jangan terus main sosmed saja. Nggak capek apa seharian kerja, malamnya main sosmed terus. Lagian apa sih yang kamu cari dari sosial media?" tanya Firhan.


"Aku sedang memantau Anggun, Mas. Dia pasti belum terima kalau kamu menikah denganku. Makanya aku pantau dia dari sana. Takut kalau tiba-tiba dia menyusun rencana untuk merebutmu kembali."


Firhan tersenyum mengejek. "Sampai kapan pikiran burukmu itu akan terus berlanjut? Anggun bahkan sudah tidak peduli denganku. Apalagi untuk merebut pria yang sudah kamu rebut darinya. Kamu pikir dia itu kekurangan stok pria? Saat ibunya meninggal pun, dia sedang bersama seorang pria. Pria itu sangat tampan."


Jihan yang semula memijit pelipisnya, dia beralih menatap lekat wajah suaminya. Dia bahkan tidak tahu kalau ibunya Anggun sudah meninggal. Lalu, kapan Firhan tahu hal itu? Apa mereka sempat bertemu?


"Mas, kok kamu tahu kalau ibunya Anggun meninggal? Apa kamu habis dari sana? Atau diam-diam kamu menemui mantan istrimu itu?"


"Bukan aku saja, Jihan. Pak Bagaskara yang mengajak. Bahkan Witha juga ada di sana. Kami pergi bertiga."


"Mas, rupanya kalian sekongkol bohongin aku, ya? Aku nggak terima. Aku akan labrak Bagaskara!"


"Ngapain? Kamu akan mempermalukan diri sendiri kalau sampai kamu lakukan itu. Lagi pula, Anggun juga nggak level lagi mengejar pria sepertiku. Bagaskara hanya berusaha menjadi pria yang baik dengan datang dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya ibunya. Kalau kamu tahu, pasti kamu diam-diam saja, kan? Kamu adalah sosok wanita yang egois. Maunya menang sendiri dan tidak pernah bisa menghargai orang lain. Bawaannya curigaan mulu."


Seketika Jihan terdiam. Namun, yang membuatnya penasaran adalah sosok pria yang sedang dekat dengan Anggun. Dia sangat heran, bagaimana bisa seorang Anggun Maharani selalu saja mendapatkan keberuntungan dikelilingi oleh pria-pria yang hebat, tampan, dan selalu memiliki segalanya.


Dulu, seorang Witha yang merupakan pewaris kerajaan bisnis keluarga. Lalu, Firhan El Fatih. Sekarang, pria misterius yang diketahui Firhan sangat tampan. Sebenarnya apa yang dimiliki Anggun sehingga para pria berbondong-bondong mengejarnya?

__ADS_1


__ADS_2